Minggu, 20 Agustus 2017

Para Pembentuk Jarak dan Penggubah Rindu


Petang itu saya kembali menginjakkan kaki di Jawa. Masih membekas di dalam ingatan, sore tadi saya masih duduk termangu di sudut bandara menunggu pesawat yang terlambat terbang. Ya, masih di Sulawesi. Pulau yang sudah dua kali saya singgahi ini memang membawa kesyahduan yang luar biasa. Sayang rasanya untuk kembali pulang. Di sisi lain, Jogja tak pernah lelah melambai-lambaikan tangannya merajuk untuk kembali direngkuh. Sejujurnya, hari itu saya mulai jatuh hati pada Sulawesi. Entah lusa.

            Sore itu tepat dua minggu setelah semua kewajiban saya tunaikan, saya kembali terdiam. Secara raga mungkin mematung, tapi imajinasi saya mulai liar. Bandara, ya mungkin sudah banyak yang menulisnya. Barangkali menulis lebih indah daripada saya yang masih ecek-ecek ini. Persinggahan sementara untuk yang datang dan pergi. Keramaian yang terlihat mata tapi pada hakikatnya ia kosong. Pikiran saya lebih liar lagi, memasuki ranah privasi orang-orang pelaku keramaian di bandara.

            Pilot. Aaah, ketika nama itu yang muncul pertama kali tanpa sadar saya tersenyum tipis. Saya pernah bermimpi punya suami pilot dengan gen kembar. Dulu, saya sangat terobsesi dengan anak kembar. Entah lusa.

            Peneliti pun pekerjaan yang dituntut bepergian kesan kemari seperti saya misalnya. Huuussh, kamu ini masih asisten peneliti. Terlalu ujub jikalau menamai diri sebagai peneliti. Bepergian kesana kemari. Pindah kota sana-sini.

            Perantau yang singgah untuk mengadu nasib. Terpaksa pergi sejauh-jauhnya untuk mendapat peruntungan lebih layak di lain pulau. Mungkin baginya, Jawa sudah tak seksi lagi. Terlalu banyak orang yang menjamahnya.

            Tiga pekerjaan yang memiliki satu kesamaan, yaitu membentuk jarak. Ada yang bilang jarak diciptakan untuk membentuk rindu. Saya terpaksa setuju dan tidak sadar mengangguk sambil mengubah cara duduk. Pekerjaan dengan resiko terpisah dari orang terkasih menurut saya sampai hari ini menjadi pekerjaan paling berat. Entah lusa.

            Kembali bersua menjadi hal yang paling dinantikan oleh pelaku keramaian di bandara. Menebas jarak untuk kembali menatap netra bukan menatap telepon pintar. Menebas jarak untuk kembali berbincang bukan hanya mendengar obrolan. Menebas jarak untuk menikmati tawa bukan menikmati wekawekaweka (baca : wkwkkw). Membayar rindu untuk kembali memeluk bukan pelukan virtual.

            Lamunan saya selesai sesaat setelah akhirnya saya sadar panggilan untuk penerbangan ke Jogja telah digaungkan. Saya kembali pulang. Meninggalkan jejak kaki dan juga jejak rindu untuk lagi-lagi membentuk jarak dengan Sulawesi. Para pembentuk jarak sekaligus penggubah rindu kembali melanglang buana menanti bersua dengan yang terkasih.

            Saya selalu senang mengudara di sore hari, transisi temaram dengan pekat. Menyuguhkan semburat senja yang elok. Biru langit yang membias kehijauan, jingga yang semakin merona, pun kelabu yang membayangi terbenamnya senja menjadi pengantar kepulangan saya.  Adios, Sulawesi!


Luwuk, 20 Agustus 2017

           

Selasa, 27 Juni 2017

Anak Lanang


Saya terlahir sebagai bungsu dari tiga bersaudara. Keluarga kami dulunya lengkap sebelum akhirnya Tuhan menunjukkan kasih dan cintaNya yang teramat besar kepada Bapak. Bapak tidak akan pernah lagi terjaga. Tidurnya sangat lelap, ia sangat tampan begitulah yang terakhir kali saya ingat. Sejak detik itu juga saya merasa keluarga kami tidak pernah utuh. Walau bapak sudah tidak ada, ia tetap membersamai kami. Kalimat semu yang hanya mencoba menenangkan saya paling tidak untuk beberapa bulan setelah beliau lelap.

Nyatanya, semua tidak akan pernah sama lagi. Tidak akan pernah ia membersamai kami lagi. Selebrasi-selebrasi tahunan harus kami sesap dengan kealpaan bapak. Pergantian tahun, hari ulangtahun, kelulusan, dan tentu Hari Raya Idul Fitri. Hari istimewa menjadi tak terlalu istimewa. Saya merasa tidak sopan berbahagia dan merayakan kemenangan tanpa ada sosok bapak di sisi. Ya, lagi-lagi siapa yang tahu kalau ternyata sebenarnya bapak ada di sini bersama kami. Tak apa tidurmu lebih nyaman ketimbang harus melihat carut marutnya bumi kita yang mulai tua ini, Pak.

Bicara tentang kepergian bapak, menjadi bakal untuk saya menulis malam ini. Tidak ditemani dengan udud pun kopi bak penulis-penulis mahsyur, saya hanya berbekal energi dari makan malam saya satu jam yang lalu. Pak, selepas pergimu kini imam kami berganti ke Anak Lanangmu. Anak Lanang yang dulu selalu kau tantang untuk bisa menggaet perempuan untuk dijadikan bribikan katamu. Anak lanangmu yang dulu lebih tertarik dengan play station dibengesi ketimbang perempuan. Anak lanangmu yang terlalu cepat masuk usia sekolah dibanding teman temannya yang lain. Anak lanang yang sama sekali tidak tahu mesin pun tentang pekerjaan rumah macam ngepel, ngumbahi, nyapu, lan nyetriko.

Bapak ingat tidak? Saat tahu anak lanangmu diterima di Sekolah Tinggi tanpa biaya dan dijamin kerja, bapak menyembelih seekor menthog sebagai wujud syukur terpenuhinya hajatmu. Anak lanangmu mulai berbenah, Pak. Ia mulai belajar bagaimana hidup di perantauan. Melakukan pekerjaan rumah yang dulu sangat jauh dari tangannya. Anak lanangmu sudah banyak berubah dari yang terakhir kali saya ingat,Pak. Kondisi jauh dari keluarga membuat anak lanangmu paham betul apa itu memupuk rindu pada keluarga. Satu hal yang belum pernah saya dapatkan sejauh ini.

Sore itu, untuk pertama kalinya saya melihat ada titik air mata yang menggenang di pelupuk mata anak lanangmu. Mata yang sama saat tahu kepulangannya dari tanah rantau di tahun 2011 harus berbarengan pula dengan lelapnya tidurmu. Saya sedih sekaligus takut tidak bisa menggantikan bapak untuk menjaga ibu dan kedua saudari saya. Begitu ujar anak lanangmu. Sebuah kalimat yang belum pernah terbesit di dalam pikiran saya justru muncul dari anak lanangmu itu, Pak. Tanpa dikomando pelupuk mata saya juga menggenang, bapak tentu paham betul anak ragilmu ini seperti apa. Walau terlihat paling sering cengengesan, atimu kuwi sing paling cilik, nduk. Aaah betapa mudah bagimu mebaca karakter tiap anak-anakmu termasuk saya.

Sekarang, anak ragilmu ini sudah nyaris selesai dengan kesibukan ala mahasiswa, Pak. Anak ragilmu juga nyaris selesai atau bahkan menyelesaikan apa yang belum pernah dimulai babagan asmara,Pak. Selepas lelapmu, selepas anak lanangmu berujar seperti itu, saya semakin tahu dan yakin. Hidup di dunia dengan sistem patriarki yang masih kental ditambah lagi tuntunan agama yang mengatakan laki-laki adalah pemimpin serta memiliki kewajiban menafkahi keluarga, saya semakin yakin untuk legowo. Bukan legowo karena perempuan tidak memiliki kewajiban mencari nafkah, tetapi legowo untuk melepas harapan-harapan saya kepada anak lanang yang lain. Anak lanang yang pastinya juga memiliki beban yang sama dengan anak lanangmu yang notabene adalah kakak laki-laki saya.

Bapak tahu, nggak? Betapa besar keinginan anak lanangmu itu untuk membahagiakan ibu dan juga dua orang saudarinya. Jungkir balik iya bekerja, merantau ke Tanah Borneo untuk lagi-lagi terpisahkan oleh keluarga. Hidup sederhana, makan seadanya, menyisihkan gajinya untuk bisa memenuhi kebutuhan operasional keluarga kita. Anak lanangmu ini juga yang memberi uang bulanan kepada anak ragilmu untuk keperluannya berulang kali mencetak tugas akhirnya. Anak lanangmu yang mati-matian mengabulkan beberapa mimpi ibu yang belum bisa terwujud selama ini. Betapa ibu (saya rasa kalau bapak masih ada, bapak pun sama seperti ibu) dengan bangga menyebut anak lanang di hadapan kawan-kawan dan sanak saudara. Apa yang ia lakukan sudah lebih dari cukup  untuk ukuran seorang kakak dan membuat saya bangga.

Itulah mengapa, saya rasa ini adalah waktu untuk anak-anak lanang membahagiakan kedua orangtua dan saudaranya bukan pasangannya. Saya tidak bilang, tidak penting untuk mencari pasangan. Ini hanya soal waktu dan prioritas. Kau tentu ingat, saya pernah menolak tawaranmu untuk membayar bill makan kita. Itu bukan karena saya sok mandiri, lebih dari itu. Saya merasa lebih baik uang itu kau gunakan untuk membahagiakan keluargamu dulu, jangan saya. Saya belum menjadi siapa-siapamu tetapi keluargamu mereka yang selalu ada di belakangmu. Saya pun tidak berani menjanjikan akan selalu ada disamping atau belakangmu. Barangkali keluarga tidak pernah menyebutkan janjinya, tapi mereka akan selalu menepatinya. Setelah kau selesai paling tidak telah mampu membahagiakan keluargamu, barulah saya. Saya memberimu waktu untuk keluargamu dan untuk menjadi family man yang saya kagumi.

Untukmu yang sedang menata hati, segerakanlah karena senyum orangtuamu lebih layak singgah di hatimu dibanding apapun di dunia ini, termasuk ia yang mengacaukan hatimu.

Selasa, 20 Juni 2017

Berkemas


Dunia sudah tak lagi gusar dengan perpisahan

Bukankah Jon sendiri yang mengingatkan

Bahwa tak ada seorangpun yang siap menghadapi perpisahan

Tak ada yang kuasa menghindar atau memalingkan wajah

Sebuah sajak perpisahan yang ku tulis dari sebuah bayangan pertemuan

Lagi-lagi Jon lah yang mengingatkan

Bahwa pertemuan dan perpisahan adalah sejoli

Imajiku kembali membayang

Saat pertemuan kita yang tak istimewa

Justru harus berpisah dengan berbagai emosi yang kadung bergumul

Pontang panting aku mencoba menyusunnya

Agar aku mampu melepasmu dengan rasa yang tersusun rapi

Agar saat terakhir kali aku menatap netramu

Tak kau temui redup netraku atas pergimu

Kenapa dunia sudah terlalu akrab dengan perpisahan

Tapi aku masih saja menjadi yang membencinya

Biar aku mengenangmu dengan racikan rinduku sendiri

Biar pelupuk netraku mulai menggenang

Biar aku saja yang menikmati pergimu

Tak perlu ada janji Jon

Aku mulai trauma dengan janji yang selalu mengiringi perpisahan

Terbuai janji sekaligus terhunus karena perpisahan

Ijinkan aku mengenangmu dengan sebaik-baiknya cara

Tuhan sangat baik

Mempersilakan kita mengakhiri pertemuan ini dengan rasa

Terima kasih kepada semesta yang menjadi saksi

Saksi beragam pertemuan kita sengaja maupun tak sengaja

Tersimpan rapi dalam kotak

Kotak yang lagi lagi hanya perlu waktu untuk menjadi usang

Selamat menjalani dunia baru untukmu, Jon

Pun untukku.

Jumat, 02 Juni 2017

Masih Terlalu Prematur(?)


Persinggahan sementara untuk berlayar lebih jauh lagi. Telah ku tunaikan janji si bungsu kepada mereka yang menyayangiku. Kepada cinta pertamanya yang mengajari arti ketulusan dan kesetiaan. Kepada madrasah pertamanya yang memberinya pelajaran untuk menjadi perempuan mandiri. Kepada kedua kawan pertamanya di bumi yang tak pernah mengendurkan ikatan persaudaraan ini.

Beranjak pada sebuah kondisi yang ingin ku tunda. Sesuatu yang ingin jauh-jauh ku hindari sebab aku yang selalu merasa tak kunjung siap bertemu dengan kehidupan baru. Nyaliku masih seujung kuku untuk membayangkan akan jadi apa esok, akan bagaimana esok, akan seperti apa esok, dan akan akan yang lain. Agaknya wajar, untuk orang-orang seusiaku ketakutan memikirkan masa depan. Apalagi seseorang sepertiku dengan segala atribut yang melekat pada diriku sebagai sebuah takdir.

Ya takdir sebagai seorang bungsu dari tiga bersaudara. Seorang bungsu yang selama hidupnya tak pernah lepas dari kedua orang tua nya, kecuali terkait perpisahanku dengan cinta pertamanya di dunia enam tahun silam karena ajal. Si bungsu yang selalu diberi label manja oleh kebanyakan orang. Tapi, aku tak mau menjadi bungsu-bungsu seperti yang mereka gunjingkan. Pun aku ingin menjadi bungsu yang berbeda. Melangkah melewati garis normal untuk merasakan jauh dari rumah. Si bungsu berhasil menakhlukan 60 harinya jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan. Aku berhasil. Sebuah prestasi pertama untukku melewati lebaran pertama di tanah Sulawesi dengan embel-embel pengabdian.

Sungguh si bungsu perlu berbangga hati sekaligus tidak puas diri. Enam puluh hari masih terlalu singkat untuk dibandingkan dengan dunia yang tengah ku hindari. Sebuah dunia baru yang harus ku tatap pasca ku lepas baju hitam putihku. Bila dulu, seragam merah-putih berganti dengan biru putih, lantas biru-putih berganti abu-abu putih, menanggalkan seragam putih-abu-abu dengan kebebasan, dan kini label mahasiswa yang akan segera berganti dengan tanggung jawab baru. Aku masih terlalu prematur untuk dilepas ke dunia baru itu.

Kembali lagi, ketika beberapa orang seusiaku sangat bersemangat untuk melepaskan angannya ke angkasa. Aku justru enggan melakukannya. Bukan karena aku tak percaya diri atau tak lagi percaya kekuatan doa. Aku sungguh-sungguh tumbuh menjadi pribadi yang sangat mengagumi cara Tuhan memberiku kejutan. Bagaimana Tuhan memberikan aku, apa yang tak pernah ku pinta tetapi selalu tepat membuatku tersenyum. Mengikuti tiap kode-kode menuju sebuah kejutan yang tak pernah kusadari sebagai sebuah petunjuk kehidupan. Tuhan, salahkah bila aku masih menjadi si bungsu yang begitu mengagumi caraMu memberiku kejutan? Salahkah aku yang masih setia menantikan kejutan dariMu tanpa pernah mau menerka atau memintanya kepadaMu.

Sudah seharusnya aku memikirkan masa depanku, sudah saatnya aku merangkai atau mengajukan proposal kepada Tuhan untuk menjadi konsep kejutan dariNya. Entahlah, lagi-lagi aku masih terlalu prematur untuk memulai kebiasaan baru ini.

Minggu, 30 April 2017

Membenci yang Kau Puja


Manusia dan kejujuran adalah hal yang menggelitik

Kadang ia menyumpahi dusta

Padahal ia sendiri dekat dengan dusta

Manusia sering menghardik karena dibohongi

Padahal kepada dirinya sendiri ia pernah berdusta

Tapi mana pernah ia menghardik dirinya sendiri

            Hukuman terberat seorang manusia adalah

            Kebohongan pada dirinya sendiri

            Tak berani mengakui bahwa ia senang berdusta

            Ia lemparkan serapah kepada orang lain

            Demi menutupi dusta yang ia bangun sendiri

Membenci dusta padahal ia mendekatinya

Menghardik dusta padahal ia akrab dengannya

Menolak dusta padahal ia mencarinya

Membenci sesuatu yang sebenarnya ia puja





           

Jumat, 28 April 2017

Ikrar Seorang Kawan

Ada yang sebenarnya rusak, namun masih saja mengelak
Ada yang sebenarnya luka, tapi menjunjung tinggi bersama
Ada yang sebenarnya mendung, tapi terpaksa bersenandung
Duh,Gusti...
Betapa dunia ini penuh dengan gelimang rupa
Hamba tak kuasa menarik diri
Membedakan mana kawan mana lawan
Ikatan yang seharusnya kian kuat, terpaksa kalah oleh hasrat
Hasrat manusia dengan banyak rupa
Lagi-lagi hamba tertipu oleh rupa yang rupawan
Mengais harapan akan hubungan yang kekal
Bertekuk lutut pada seleksi alam
Tak selamanya kawan menjadi kawan
           Ada yang sebenarnya coba diperbaiki
           Padahal sama sekali tak memperbaiki
           Ada yang berusaha merendah
           Malah semakin direndahkan
           Duh, Gusti...
           Apa begini susahnya hidup di jaman sekarang
           Sukar bertahan dari seleksi perkawanan
           Apa begini tantangan jadi kawan
           Terlanjur terikat janji bertahan
           Biarlah hamba tunaikan ikrar pertemanan
           Selalu siap sedia saat Yang Mulai butuh
           Selalu siap sendiri saat hamba perlu

Jumat, 14 April 2017

Di Penghujung Dua Puluh Satu


Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Izinkan aku menjadi gadis kecilmu lagi. Gadis kecil yang selalu mengadu apapun kepadamu cinta pertamanya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Bukalah lebar-lebar lenganmu untuk memeluk gadis kecilmu yang semakin hari semakin merindu ragamu.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Senandungkan untaian doa dan harapan yang masih kau inginkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Biarkan aku rebah di pangkuanmu hanya sekadar mengusap titik air mata.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Relakan aku menangis sejadi-jadinya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Relakan aku bercerita tentangnya. Biarkan aku mengadu padamu tentang seseorang yang ingin kuperkenalkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Izinkan aku mengakui bahwa aku jatuh hati pada seseorang yang telah mematahkan hatiku berkali-kali.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Bukalah lebar-lebar telingamu saat ku bisikkan siapa namanya. Mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya ku menyebut namanya di hadapanmu.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Aku masih saja berandai-andai mungkin jikalau ragamu ada disini kau akan memberi pertanda. Agar aku tak jatuh hati pada orang yang salah.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Biarkan aku mengakui, banyak hal yang ada pada dirimu kutemukan di dirinya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Tak perlu cemas, tak usah risau, dan hilangkan cemburumu. Ia tak lagi kuperjuangkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Ku hapus namanya, namanya yang selalu kusebut setelah namamu.

Di awal dua puluh duaku, kirimkanlah doa terbaikmu untukku,Pah.

Rabu, 15 Maret 2017

Lintang di Tenggara Bahari


Kala senja membias dan tertutup kelam. Imajiku menyebut dirimu sebagai lintang di tenggara bahari. Perkenankan puan mencoba menggapai tuan. Walau hanya akan terbawa ke tengah samudera jika puan tak berhati-hati. Hasrat tak terbendung, saat sepasang netra merayu puan untuk berjingkat. Menggapai-gapai ke langit nan tinggi di tenggara bahari. Hingga tak sadar, puan telah jauh dari daratan. Puan bermain-main dengan celaka, berkelakar dengan maut. Duhai, lintang di tenggara bahari. Sinar yang mengiringi indah sepasang netramu, membuat puan lena. Antara khayal dan nyata, puan lupa bahwa tuan ada di langit dan puan masih memijak lantai bumi. Bahwa, kita hanya akan menjadi kata. Berbeda ruang dan kisah.

Jumat, 10 Maret 2017

Bisaku karena Biasaku


Bukankah ini hanya soal kebiasaan?
Tak usah risaukan ini
Hal semacam ini telah fasih kuperankan
Bukan tanpa mendung
Bukan tanpa rintik
Bukan tanpa rindu
Kealpaanmu harus kuselami sebagai hal baru
Hal baru yang mungkin merusak biasaku
Biasa denganmu
Biasa bertukar angan denganmu
Biasa mengekalkan tawa denganmu
Biasa menjarah waktu hanya denganmu
Ya, denganmu yang telah menjadi sebuah biasa ku
Aku tau ini tak akan mudah seperti biasanya
Ketika lenyapmu berarti menggubah kebiasaan baru
Mengizinkanmu undur diri dari kebiasaanku
Jabat jemariku dan kan ku akhiri kita sebagai sebuah awal dari biasaku
Aku yakini, awal kan selalu sulit
Mereka menyebutnya sebagai siklus keniscayaan

-Yogyakarta,11 Maret 2017-

Minggu, 26 Februari 2017

Ikhlaskan saja, Ia tanpa Nama.


Ketika ikhlas sudah ada di tangan, ia yang akan menjadi obat kecewamu.

Terdengar klise tapi memang begitulah adanya. Manusia secara alamiah diberikan rasa tidak pernah puas. Tak banyak yang pandai bersyukur. Kalaupun bersyukur, adakalanya ia lupa dan kembali menghujani Tuhan dengan pertanyaan mengapa harus terjadi kepadaku, Tuhan? Kenapa bukan orang lain.

Tuhan lebih tahu siapa yang pantas, bukan kita manusia yang bersyukur saja masih sering lena.

Tulisan saya kali ini hendak memadukan dengan obrolan-obrolan khas anak muda yang tengah sibuk mencari cinta. Cerita ini bisa saja berdasar pengalaman pribadi tetapi sangat bisa didramatisir untuk keperluan estetis.

Menurutmu, penting nggak sih status pacaran itu?

Satu pertanyaan yang masih saya ingat dilontarkan dari seorang kawan lelaki yang tengah kebingungan di tengah perjalanan selepas kuliah.

Perlu beberapa detik untuk mencerna baik-baik pertanyaan dari kawan saya itu.

Pada dasarnya, perempuan (uuppsss maafkan saya yang kadung mengeneralisir) menginginkan sebuah kejelasan. Termasuk, status pacaran.

Agaknya jawaban saya tadi membuat kawan saya ini semakin bingung. Tentu saja tak membuatnya bersenang hati.

Di lain cerita, ada sepasang anak muda yang tengah dekat. Entahlah apa arti hubungan mereka. Mereka berdua kerap kali menghabiskan waktu bersama. Dulu, mereka tak pernah sedekat ini. Kedekatan mereka terjadi begitu saja, alami seperti semesta yang menyatukan mereka. Tak ada yang pernah membayangkan mereka menjadi sepasang kekasih. Tak cukup menarik sepertinya.
Saya tentu sangat heran sekaligus bersyukur atas kedekatan kami. Tapi, entahlah semakin hari kami terus saja bertemu, berinteraksi, dan bergurau. Dulu, kedekatan kami hanya sebatas teman biasa yang berinteraksi seperlunya saja. Tak pernah kami secara sengaja merencanakan untuk pergi berdua. Kami hanya teman yang masuk dalam kategori teman sangat biasa. Kemanapun ada kesempatan kami pergi, kami tak pernah berdua selalu beramai-ramai.

Kini, kami semakin dekat. Bercerita tentang apa saja, termasuk mimpi-mimpinya. Usia kami tak lagi muda, membicarakan masa depan menjadi cerita paling mengasyikkan. Saya pun kerap menceritakan apa saja kepadanya. Entahlah rasanya nyaman. Awalnya, saya pikir hubungan kami ini mengarah ke sebuah percintaan yang rumit. Kala itu, saya juga tengah dekat dengan seorang lelaki. Saya pun tak ketinggalan bercerita tentang kedekatan saya dengan lelaki itu. Tak tertebak, ia tetap menjadi pendengar yang baik bagi saya. Matanya tetap menyala tanda ingin mendengar lebih. Saya semakin tak tahu hubungan kami ini apa. Ketika saya tak lagi bisa menyangkal ada rasa kecewa melihat matanya tetap menyala mendengar kisah asmara saya dengan lelaki lain. Saya kira, saya akan menemukan mata yang cemburu. Walau sekali lagi saya katakan, kami tak tahu apa nama untuk hubungan kami ini.

Kami pergi menonton sendratari di salah satu candi ternama. Kami menjadi saksi ratusan lampion yang diterbangkan ke langit malam. Kami menjelajahi kuliner yang tak banyak orang tahu. Kami menghabiskan malam dengan berkeliling ke festival Tionghoa saat rintik hujan mulai menjamah kota yang katanya romantis ini. Kami ke sebuah acara charity dengan bintang tamu favorit kami berdua. Entah sudah berapa kali kami menghabiskan kata-kata dan waktu bersama.

Cerita mereka membuat saya berpikir untuk kembali merenungkan pertanyaan seberapa penting status pacaran itu. Sebuah hubungan yang dibangun tanpa paksaan dan mengalir begitu saja. Tanpa pernah ada tuntutan satu sama lain. Tak ada kata cinta, tak ada kata romantis, tak ada pengakuan. Berjalan begitu saja, indah tanpa banyak fafifu. Mereka hanya tahu, mereka saling bicara dan merasa nyaman. Apakah penting status pacaran bila dibandingkan dengan apa yang telah mereka dapatkan. Tuhan memberikan kesempatan untuk mereka mendapatkan kasih dan kenyamanan yang menjadi dambaan tiap pasang kekasih. Tuhan pula yang memberikan kebebasan untuk mereka tanpa perlu terikat.
Lagi-lagi manusia kerap kali merasa tidak puas. Kasih dan kenyamanan tidaklah cukup bagi mereka. Salah satu dari mereka atau bahkan keduanya menginginkan lebih. Barangkali status. Hubungan tanpa nama yang dibangun atas dasar kenyamanan dan kebiasaan barangkali menurut mereka perlu diberi nama.

Coba saja syukuri apa yang telah Tuhan berikan. Mungkin saja hubungan seperti itulah yang terbaik saat ini. Tuhan mungkin sedang menjauhkan kita dari apa itu sakit hati, dusta, cemburu, harapan, dan juga pengkhianatan. Jangan kita pertanyakan mengapa hubungan mereka tak punya nama. Mengapa harus dipertanyakan ketika tanpa namapun tetap membawa bahagia. Ikhlaskan saja hubungan ini tanpa nama, kawan. Ia akan menjadi obat dari rasa kecewamu.