Persinggahan sementara untuk
berlayar lebih jauh lagi. Telah ku tunaikan janji si bungsu kepada mereka yang
menyayangiku. Kepada cinta pertamanya yang mengajari arti ketulusan dan
kesetiaan. Kepada madrasah pertamanya yang memberinya pelajaran untuk menjadi
perempuan mandiri. Kepada kedua kawan pertamanya di bumi yang tak pernah
mengendurkan ikatan persaudaraan ini.
Beranjak pada sebuah kondisi yang
ingin ku tunda. Sesuatu yang ingin jauh-jauh ku hindari sebab aku yang selalu
merasa tak kunjung siap bertemu dengan kehidupan baru. Nyaliku masih seujung
kuku untuk membayangkan akan jadi apa esok, akan bagaimana esok, akan seperti
apa esok, dan akan akan yang lain. Agaknya wajar, untuk orang-orang seusiaku ketakutan
memikirkan masa depan. Apalagi seseorang sepertiku dengan segala atribut yang
melekat pada diriku sebagai sebuah takdir.
Ya takdir sebagai seorang bungsu
dari tiga bersaudara. Seorang bungsu yang selama hidupnya tak pernah lepas dari
kedua orang tua nya, kecuali terkait perpisahanku dengan cinta pertamanya di
dunia enam tahun silam karena ajal. Si bungsu yang selalu diberi label manja
oleh kebanyakan orang. Tapi, aku tak mau menjadi bungsu-bungsu seperti yang
mereka gunjingkan. Pun aku ingin menjadi bungsu yang berbeda. Melangkah melewati
garis normal untuk merasakan jauh dari rumah. Si bungsu berhasil menakhlukan 60
harinya jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan. Aku berhasil. Sebuah prestasi
pertama untukku melewati lebaran pertama di tanah Sulawesi dengan embel-embel pengabdian.
Sungguh si bungsu perlu berbangga
hati sekaligus tidak puas diri. Enam puluh hari masih terlalu singkat untuk
dibandingkan dengan dunia yang tengah ku hindari. Sebuah dunia baru yang harus
ku tatap pasca ku lepas baju hitam putihku. Bila dulu, seragam merah-putih
berganti dengan biru putih, lantas biru-putih berganti abu-abu putih,
menanggalkan seragam putih-abu-abu dengan kebebasan, dan kini label mahasiswa
yang akan segera berganti dengan tanggung jawab baru. Aku masih terlalu
prematur untuk dilepas ke dunia baru itu.
Kembali lagi, ketika beberapa
orang seusiaku sangat bersemangat untuk melepaskan angannya ke angkasa. Aku justru
enggan melakukannya. Bukan karena aku tak percaya diri atau tak lagi percaya
kekuatan doa. Aku sungguh-sungguh tumbuh menjadi pribadi yang sangat mengagumi
cara Tuhan memberiku kejutan. Bagaimana Tuhan memberikan aku, apa yang tak
pernah ku pinta tetapi selalu tepat membuatku tersenyum. Mengikuti tiap
kode-kode menuju sebuah kejutan yang tak pernah kusadari sebagai sebuah
petunjuk kehidupan. Tuhan, salahkah bila aku masih menjadi si bungsu yang
begitu mengagumi caraMu memberiku kejutan? Salahkah aku yang masih setia
menantikan kejutan dariMu tanpa pernah mau menerka atau memintanya kepadaMu.
Sudah seharusnya aku memikirkan
masa depanku, sudah saatnya aku merangkai atau mengajukan proposal kepada Tuhan
untuk menjadi konsep kejutan dariNya. Entahlah, lagi-lagi aku masih terlalu
prematur untuk memulai kebiasaan baru ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar