Jumat, 02 Juni 2017

Masih Terlalu Prematur(?)


Persinggahan sementara untuk berlayar lebih jauh lagi. Telah ku tunaikan janji si bungsu kepada mereka yang menyayangiku. Kepada cinta pertamanya yang mengajari arti ketulusan dan kesetiaan. Kepada madrasah pertamanya yang memberinya pelajaran untuk menjadi perempuan mandiri. Kepada kedua kawan pertamanya di bumi yang tak pernah mengendurkan ikatan persaudaraan ini.

Beranjak pada sebuah kondisi yang ingin ku tunda. Sesuatu yang ingin jauh-jauh ku hindari sebab aku yang selalu merasa tak kunjung siap bertemu dengan kehidupan baru. Nyaliku masih seujung kuku untuk membayangkan akan jadi apa esok, akan bagaimana esok, akan seperti apa esok, dan akan akan yang lain. Agaknya wajar, untuk orang-orang seusiaku ketakutan memikirkan masa depan. Apalagi seseorang sepertiku dengan segala atribut yang melekat pada diriku sebagai sebuah takdir.

Ya takdir sebagai seorang bungsu dari tiga bersaudara. Seorang bungsu yang selama hidupnya tak pernah lepas dari kedua orang tua nya, kecuali terkait perpisahanku dengan cinta pertamanya di dunia enam tahun silam karena ajal. Si bungsu yang selalu diberi label manja oleh kebanyakan orang. Tapi, aku tak mau menjadi bungsu-bungsu seperti yang mereka gunjingkan. Pun aku ingin menjadi bungsu yang berbeda. Melangkah melewati garis normal untuk merasakan jauh dari rumah. Si bungsu berhasil menakhlukan 60 harinya jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan. Aku berhasil. Sebuah prestasi pertama untukku melewati lebaran pertama di tanah Sulawesi dengan embel-embel pengabdian.

Sungguh si bungsu perlu berbangga hati sekaligus tidak puas diri. Enam puluh hari masih terlalu singkat untuk dibandingkan dengan dunia yang tengah ku hindari. Sebuah dunia baru yang harus ku tatap pasca ku lepas baju hitam putihku. Bila dulu, seragam merah-putih berganti dengan biru putih, lantas biru-putih berganti abu-abu putih, menanggalkan seragam putih-abu-abu dengan kebebasan, dan kini label mahasiswa yang akan segera berganti dengan tanggung jawab baru. Aku masih terlalu prematur untuk dilepas ke dunia baru itu.

Kembali lagi, ketika beberapa orang seusiaku sangat bersemangat untuk melepaskan angannya ke angkasa. Aku justru enggan melakukannya. Bukan karena aku tak percaya diri atau tak lagi percaya kekuatan doa. Aku sungguh-sungguh tumbuh menjadi pribadi yang sangat mengagumi cara Tuhan memberiku kejutan. Bagaimana Tuhan memberikan aku, apa yang tak pernah ku pinta tetapi selalu tepat membuatku tersenyum. Mengikuti tiap kode-kode menuju sebuah kejutan yang tak pernah kusadari sebagai sebuah petunjuk kehidupan. Tuhan, salahkah bila aku masih menjadi si bungsu yang begitu mengagumi caraMu memberiku kejutan? Salahkah aku yang masih setia menantikan kejutan dariMu tanpa pernah mau menerka atau memintanya kepadaMu.

Sudah seharusnya aku memikirkan masa depanku, sudah saatnya aku merangkai atau mengajukan proposal kepada Tuhan untuk menjadi konsep kejutan dariNya. Entahlah, lagi-lagi aku masih terlalu prematur untuk memulai kebiasaan baru ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar