Jumat, 14 April 2017

Di Penghujung Dua Puluh Satu


Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Izinkan aku menjadi gadis kecilmu lagi. Gadis kecil yang selalu mengadu apapun kepadamu cinta pertamanya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Bukalah lebar-lebar lenganmu untuk memeluk gadis kecilmu yang semakin hari semakin merindu ragamu.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Senandungkan untaian doa dan harapan yang masih kau inginkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Biarkan aku rebah di pangkuanmu hanya sekadar mengusap titik air mata.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Relakan aku menangis sejadi-jadinya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Relakan aku bercerita tentangnya. Biarkan aku mengadu padamu tentang seseorang yang ingin kuperkenalkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Izinkan aku mengakui bahwa aku jatuh hati pada seseorang yang telah mematahkan hatiku berkali-kali.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Bukalah lebar-lebar telingamu saat ku bisikkan siapa namanya. Mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya ku menyebut namanya di hadapanmu.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Aku masih saja berandai-andai mungkin jikalau ragamu ada disini kau akan memberi pertanda. Agar aku tak jatuh hati pada orang yang salah.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Biarkan aku mengakui, banyak hal yang ada pada dirimu kutemukan di dirinya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Tak perlu cemas, tak usah risau, dan hilangkan cemburumu. Ia tak lagi kuperjuangkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Ku hapus namanya, namanya yang selalu kusebut setelah namamu.

Di awal dua puluh duaku, kirimkanlah doa terbaikmu untukku,Pah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar