Petang itu saya kembali
menginjakkan kaki di Jawa. Masih membekas di dalam ingatan, sore tadi saya
masih duduk termangu di sudut bandara menunggu pesawat yang terlambat terbang. Ya,
masih di Sulawesi. Pulau yang sudah dua kali saya singgahi ini memang membawa
kesyahduan yang luar biasa. Sayang rasanya untuk kembali pulang. Di sisi lain,
Jogja tak pernah lelah melambai-lambaikan tangannya merajuk untuk kembali
direngkuh. Sejujurnya, hari itu saya mulai jatuh hati pada Sulawesi. Entah lusa.
Sore
itu tepat dua minggu setelah semua kewajiban saya tunaikan, saya kembali
terdiam. Secara raga mungkin mematung, tapi imajinasi saya mulai liar. Bandara,
ya mungkin sudah banyak yang menulisnya. Barangkali menulis lebih indah
daripada saya yang masih ecek-ecek ini. Persinggahan sementara untuk yang
datang dan pergi. Keramaian yang terlihat mata tapi pada hakikatnya ia kosong. Pikiran
saya lebih liar lagi, memasuki ranah privasi orang-orang pelaku keramaian di
bandara.
Pilot.
Aaah, ketika nama itu yang muncul pertama kali tanpa sadar saya tersenyum
tipis. Saya pernah bermimpi punya suami pilot dengan gen kembar. Dulu, saya
sangat terobsesi dengan anak kembar. Entah lusa.
Peneliti
pun pekerjaan yang dituntut bepergian kesan kemari seperti saya misalnya. Huuussh,
kamu ini masih asisten peneliti. Terlalu ujub jikalau menamai diri sebagai
peneliti. Bepergian kesana kemari. Pindah kota sana-sini.
Perantau
yang singgah untuk mengadu nasib. Terpaksa pergi sejauh-jauhnya untuk mendapat
peruntungan lebih layak di lain pulau. Mungkin baginya, Jawa sudah tak seksi
lagi. Terlalu banyak orang yang menjamahnya.
Tiga
pekerjaan yang memiliki satu kesamaan, yaitu membentuk jarak. Ada yang bilang
jarak diciptakan untuk membentuk rindu. Saya terpaksa setuju dan tidak sadar
mengangguk sambil mengubah cara duduk. Pekerjaan dengan resiko terpisah dari
orang terkasih menurut saya sampai hari ini menjadi pekerjaan paling berat. Entah
lusa.
Kembali
bersua menjadi hal yang paling dinantikan oleh pelaku keramaian di bandara. Menebas
jarak untuk kembali menatap netra bukan menatap telepon pintar. Menebas jarak
untuk kembali berbincang bukan hanya mendengar obrolan. Menebas jarak untuk
menikmati tawa bukan menikmati wekawekaweka (baca : wkwkkw). Membayar rindu
untuk kembali memeluk bukan pelukan virtual.
Lamunan
saya selesai sesaat setelah akhirnya saya sadar panggilan untuk penerbangan ke
Jogja telah digaungkan. Saya kembali pulang. Meninggalkan jejak kaki dan juga
jejak rindu untuk lagi-lagi membentuk jarak dengan Sulawesi. Para pembentuk
jarak sekaligus penggubah rindu kembali melanglang buana menanti bersua dengan
yang terkasih.
Saya
selalu senang mengudara di sore hari, transisi temaram dengan pekat. Menyuguhkan
semburat senja yang elok. Biru langit yang membias kehijauan, jingga yang semakin
merona, pun kelabu yang membayangi terbenamnya senja menjadi pengantar
kepulangan saya. Adios, Sulawesi!
Luwuk, 20 Agustus 2017
Luwuk, 20 Agustus 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar