Minggu, 20 Agustus 2017

Para Pembentuk Jarak dan Penggubah Rindu


Petang itu saya kembali menginjakkan kaki di Jawa. Masih membekas di dalam ingatan, sore tadi saya masih duduk termangu di sudut bandara menunggu pesawat yang terlambat terbang. Ya, masih di Sulawesi. Pulau yang sudah dua kali saya singgahi ini memang membawa kesyahduan yang luar biasa. Sayang rasanya untuk kembali pulang. Di sisi lain, Jogja tak pernah lelah melambai-lambaikan tangannya merajuk untuk kembali direngkuh. Sejujurnya, hari itu saya mulai jatuh hati pada Sulawesi. Entah lusa.

            Sore itu tepat dua minggu setelah semua kewajiban saya tunaikan, saya kembali terdiam. Secara raga mungkin mematung, tapi imajinasi saya mulai liar. Bandara, ya mungkin sudah banyak yang menulisnya. Barangkali menulis lebih indah daripada saya yang masih ecek-ecek ini. Persinggahan sementara untuk yang datang dan pergi. Keramaian yang terlihat mata tapi pada hakikatnya ia kosong. Pikiran saya lebih liar lagi, memasuki ranah privasi orang-orang pelaku keramaian di bandara.

            Pilot. Aaah, ketika nama itu yang muncul pertama kali tanpa sadar saya tersenyum tipis. Saya pernah bermimpi punya suami pilot dengan gen kembar. Dulu, saya sangat terobsesi dengan anak kembar. Entah lusa.

            Peneliti pun pekerjaan yang dituntut bepergian kesan kemari seperti saya misalnya. Huuussh, kamu ini masih asisten peneliti. Terlalu ujub jikalau menamai diri sebagai peneliti. Bepergian kesana kemari. Pindah kota sana-sini.

            Perantau yang singgah untuk mengadu nasib. Terpaksa pergi sejauh-jauhnya untuk mendapat peruntungan lebih layak di lain pulau. Mungkin baginya, Jawa sudah tak seksi lagi. Terlalu banyak orang yang menjamahnya.

            Tiga pekerjaan yang memiliki satu kesamaan, yaitu membentuk jarak. Ada yang bilang jarak diciptakan untuk membentuk rindu. Saya terpaksa setuju dan tidak sadar mengangguk sambil mengubah cara duduk. Pekerjaan dengan resiko terpisah dari orang terkasih menurut saya sampai hari ini menjadi pekerjaan paling berat. Entah lusa.

            Kembali bersua menjadi hal yang paling dinantikan oleh pelaku keramaian di bandara. Menebas jarak untuk kembali menatap netra bukan menatap telepon pintar. Menebas jarak untuk kembali berbincang bukan hanya mendengar obrolan. Menebas jarak untuk menikmati tawa bukan menikmati wekawekaweka (baca : wkwkkw). Membayar rindu untuk kembali memeluk bukan pelukan virtual.

            Lamunan saya selesai sesaat setelah akhirnya saya sadar panggilan untuk penerbangan ke Jogja telah digaungkan. Saya kembali pulang. Meninggalkan jejak kaki dan juga jejak rindu untuk lagi-lagi membentuk jarak dengan Sulawesi. Para pembentuk jarak sekaligus penggubah rindu kembali melanglang buana menanti bersua dengan yang terkasih.

            Saya selalu senang mengudara di sore hari, transisi temaram dengan pekat. Menyuguhkan semburat senja yang elok. Biru langit yang membias kehijauan, jingga yang semakin merona, pun kelabu yang membayangi terbenamnya senja menjadi pengantar kepulangan saya.  Adios, Sulawesi!


Luwuk, 20 Agustus 2017

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar