Sabtu, 17 Januari 2015

Diabaikan atau Mengabaikan

     Pada dasarnya setiap manusia memiliki dua sisi. Sisi pertama yang tentunya berbeda dengan sisi yang lainnya. Masing-masing memiliki kekuatan argumen untuk mengintervensi diri kita yang akhirnya memberikan sebuah keputusan sikap. Dua sisi inilah yang mungkin tengah beradu di dalam batin saya kali ini. Ya, saya yang selama ini mencoba tenang ketika dua sisi ini mulai bertengkar. Walaupun, pertengkaran mereka pastinya terkait tentang saya, perasaan saya. Ah, memang saya ingat benar suasana seperti inilah yang paling digemari mereka untuk bertengkar. Perpaduan ketenangan malam diiringi hujan yang mulai mereda. Mereka selalu suka memanfaatkan momen ini untuk bergelut.
     Seperti yang telah saya bocorkan di awal, mereka lagi-lagi bergelut tentang perasaan saya. Bagaimana rasa yang sudah saya coba susun rapih, dengan mudahnya mereka geledah. Sisi pertama, masih kukuh dengan argumennya untuk membenci perasaan saya yang ia anggap terlalu lemah. Ia gemar mengungkit hal baik apa saja yang sudah saya lakukan untuk perasaan saya. Kembali bernostalgia dengan itu semua.. 

Satu waktu, saya lah yang memegang sebelah tanganmu. Menuntun jalanmu dalam gelap agar kau tak salah langkah. Saya menjadi salah satu orang yang mengkhawatirkan keadaanmu. 

Sayangnya, saya diabaikan.

Di waktu lain, saya lah yang membuka telinga lebar mendengar keluh kesahmu. Mencoba menjadi pantai yang samudera kunjungi saat menghindar dari amarah sang ombak.

Sayangnya, lagi-lagi saya diabaikan. 

Ayolah..bukankah kau tahu betul bagaimana rasanya diabaikan?Tak mudah bukan? Apa yang kau mau, diam dan terus diabaikan. Kau terlalu banyak diabaikan, dan akan terus diabaikan jika kau hanya diam. Cobalah untuk sekali saja katakan bahwa kau ini ada,kau ini nyata. Agar ia tak seenaknya mengacuhkanmu. Katakanlah betapa kau sangat peduli dengannya. Jangan biarkan ia terlalu egois. Hanya sejenak menepi, saat amarah mereda ia kembali ke dalam pelukan sang ombak. Sementara kau, tak bergeming ketika samudera meninggalkanmu. 
     Tak mau kalah, sisi berikutnya coba memberikan argumen lain atau lebih tepatnya sanggahan dari apa yang di utarakan oleh sisi satunya. Ia menganggap saya terlalu kuat untuk diabaikan, bukan saatnya lagi perasaan saya diabaikan. Kembali bermain-main dengan nostalgia.


Satu waktu, saya lah yang melepas genggaman di tanganmu. Tak lagi menuntunmu dalam gelap, karena kau telah melangkah terlebih dahulu. Saya menjadi salah satu orang yang berbahagia atas senyummu. 

Sayangnya, saya tetap diabaikan.

Di waktu lain, saya lah yang menutup telinga ketika perasaan menjerit. Mencoba menjadi batu karang yang terhantam samudera ketika bercumbu dengan ombak. 

Kali ini, saya yang mengabaikan.   

Ayolah..bukankah kau tahu betul bagaimana rasanya diabaikan? Tak mudah bukan? Apa yang kau mau, diam dan terus diabaikan. Saatnya kau yang mengabaikan, dan akan terus mengabaikan. Cobalah sekali saja lihat  bahwa kau ini ada bukan untuk diabaikan. Perasaan ini bukan sekedar tentang kata ini soal rasa. Tak ada yang perlu kau katakan, jika ia teliti dan peka ia pasti tahu dan takkan mengabaikanmu. Kau benar memilih diam, karena mungkin saja ketika kau bicara kau tak lagi bisa. Tak lagi bisa menggenggam tangannya, menuntunnya, mengkhawatirkannya, menjadi pantainya. Tidak semua hal perlu untuk dikatakan jika pada akhirnya hanya akan menyakiti. Jika pada akhirnya merenggangkan kalian. Dia tak pernah benar-benar untukmu, bukan dia yang kau cari. Bahkan, frekuensi kalian saja berbeda mana mungkin bisa bertemu. Dia bukanlah orang yang pantas untuk kembali mengabaikanmu. Sudahi sajalah..
     Saya hanya bisa menggelengkan kepala ketika dua sisi ini kembali memaksa saya untuk mengingat. Sudah kukatakan memori ini telah kususun rapih, mengapa kau tega menggeledahnya kembali. Perasaan saya memang pada akhirnya tak pernah benar-benar saya ungkapkan. Benar memang, saya terlalu lemah membiarkan kau mengabaikanku. Namun, saya juga hebat bertahan dengan kondisi keterabaian. Bukankah, kau tetap tidak pernah melihat saya. Bahkan, ketika saya mencoba berdamai dengan pengabaianmu untuk kedua kalinya. Toh, Saya tetap tidak pernah terlihat olehmu. Ada rasa sakit yang coba saya sembunyikan. Kau tahu penawarnya apa? Pengabaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar