Jumat, 01 November 2013

Menyelinap


Hai kamu, kau datang tanpa ragu
Hadirmu terasa begitu nyata wahai pencuri pandangku
Senyummu seolah terasa hangat
Betapa rasanya sangat bersalah membiarkanku larut
 Terbuai menikmati hadirmu pada malam itu
Andai saja kau tahu betapa untuk melupakanmu
Aku perlu banyak kekuatan
Kekuatan untuk menahan rasa sakit
Sakit ketika harus menolak maunya hati ini
                Hai kamu, sang penjaga tidurku
                Kau datang dengan leluasa
                Mengisi singkatnya malam itu
                Seolah kedatanganmu kuinginkan
                Seolah kepergianmu tak membawa luka
                Hadirnya ragamu membuatku kembali berpikir
                Mampukah aku benar-benar melepasmu (?)

Mungkin sajak tadi adalah salah satu cara untuk mengungkapkan betapa sakitnya hati ini. Bukan sakit sebenarnya, aku hanya tak ingin merasakan lagi rasa itu. Rasa yang terlambat terdeteksi dan enggan untuk ku akui. Kamu menarik, menarik pikiranku untuk terus mengikuti kemana hatiku berlari. Ketika pada garis akhir ku temui sosokmu yang mungkin bagi oranglain tak istimewa. Aku muak ketika harus mengakui ini. Ada hal yang kutemukan dari dirimu yang pernah kutemukan dari dirinya dulu. Sial ! aku kalah untuk tidak menaruhmu di hatiku. Aku benci ketika kau harus datang di saat hati ini mulai tenang. Dimana sebelumnya hati ini gelisah ketika tak melihatmu. Dimana hati ini berantakan melihatmu hadir. Mengapa malam itu kau datang? Tak sadarkah kau hati ini tersiksa mengenangmu, meraung kesakitan akan bayangmu. Jangan lagi kau hampiri bunga tidurku wahai pencuri hati, berjanjilah..

Kamis, 27 Juni 2013

Bosan (?)



“Terus kalo besok tiba-tiba kita bosen sama suami kita,gimana?”

Pertanyaanku yang terdengar polos nan bodoh sontak saja menjadi bahan cacian teman temanku yang kala itu aku masih ingat betul siapa saja mereka. Satu bantahan yang paling kuingat adalah dari Kenia. Ya, kenia yang sudah lama (belum) menemukan tambatan hatinya juga tidak menyetujui pertanyaan yang kulontarkan tadi.

“Ya nggak mungkinlah kita bosen, kan udah jadi suami.”

Aku yang kala itu masih labil dan mungkin juga takut jika aku terus mempertahankan pertanyaanku usiaku takkan lama karena akan dikeroyok perempuan-perempuan yang haus belaian itu, aku mencoba mengiyakan tentangan dari mereka tentang bosan dalam hubungan, yang menurut mereka tidak bisa berlaku ketika kita sudah dalam ikatan pernikahan.

Seiring dengan bertambah panjang rambutku,seragam yang mulai sempit, lutut kusam yang mulai menyempil dari bawah rok abu-abu, semakin banyak pula pertanyaan yang ada di otakku tentang kebosanan dalam suatu hubungan. Aku bingung, mengingat lirik dari Ebiet G.Ade yang menyuruhku bertanya pada rumput yang bergoyang. Aku takut kalausaja rumput juga menertawakan pertanyaanku sama seperti cacian dari temanku beberapa waktu silam. Aku merasa mungkin memang harus kucari sendiri jawabannya bukan dari guru,teman,kakak,orangtua, bahkan rumput.

Aku semakin yakin pertanyaanku dulu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepatutnya ditertawakan. Kalau memang kebosanan dalam hubungan itu tidak sah di dalam pernikahan lalu buat apa ada perceraian?Mengapa di setiap pagi aku selalu menyaksikan sebuah acara televisi yang dengan gamblang dan bangganya menyajikan kisah tragis dari sebuah perceraian. Kebosanan dalam sebuah hubungan menurutku adalah hal yang wajar, bisa dibilang sebagai sebuah fase yang mau tidak mau harus dirasakan setiap pasangan. Tinggal bagaimana mereka bisa saling berpegang kepada prinsip mereka mengapa dulu mereka mau bersama. Hari Senin kemarin aku baru saja menonton film “Cinta dalam Kardus” meskipun disisipi komedi menurutku satu film itu sanat cocok untuk pasangan yang sedang dilanda kebosanan. Tanpa didasari selesai menonton film, aku banyak berfikir. Banyak makna yang seharusnya bisa dijadikan bahan refleksi untuk aku yaaa walaupun aku masih berstatus tunggal putri(baca: jomblo). Ketika seseorang sudah mulai bosan dengan pasangannya,dia akan menemukan oranglain dan akhirnya pergi. Wow! Segampang itukah sebuah hubungan bisa berakhir. Alasan yang terdengar klise tapi masih saja begitu perih didengar. Apakah cinta itu bisa bosan?tentu saja bisa.

Saking kurang referensi untuk menjawab pertanyanku, munculah sebuah tanya baru.  Pertanyaan yang kali ini meragukan keagungan cinta.

“Apa iya mama itu jodohnya papa?”

Pertanyaan macam apa lagi ini?jujur saja pertanyaan itu benar-benar pernah hadir dalam otakku yang mungkin tidak semua orang penasaran dengan itu. Waktu itu usia perkawinan mama dan papa menginjak angka 18 tahun.  Tidak jarang mereka bertengkar, tidak bicara beberapa waktu, dan akhirnya akur. Tidakkah mereka bosan dengan hubungan yang penuh dengan masalah?aku mulai sangsi dengan kalimat mama itu jodoh papa. Semakin menguatkan argumenku tentang kebosanan dalam berumahtangga adalah hal yang sah.

3 tahun setelah itu, apa yang kuragukan dijelaskan oleh Allah. Aku percaya dan sangat yakin mama adalah jodohnya papa. Setauku jodoh adalah orang yang bersama saling mencinta berbagi suka dan duka mengerti satu sama lain menutupi kekurangan saling menjaga dan berjuang sampai maut yang memisahkan. Papa pergi dalam tenang. Cinta mereka abadi dan berjodoh. Mereka saling berjuang untuk menyingkirkan perasaan bosan di dalam mahligai rumah tangga mereka. Bayangkan saja, 21 tahun hidup bersama bukanlah waktu yang singkat. Impian untuk bisa menjadi orang pertama yang dilihat ketika kita membuka mata di pagi hari,menyiapkan sarapan,baju,menemani dikala salah satunya sakit atau terpuruk,memegang tangannya saat berjuang melahirkan,mengalah ketika salah satunya ngambek, dan tentunya menghabiskan waktu mereka lebih lama lagi. Mungkin juga kebosanan mereka hilang karena datangnya kami,anak-anak mereka.

“Bosan adalah hal yang wajar tinggal seberapa besar keinginan keduanya untuk terus bertahan dan memegang kuat prinsip saat mereka pertama bersatu. Layaknya mengemudikan perahu yang bocor yang dinaiki dua orang, ketika satu orang yang berjuang maka belum sampai tujuan mereka sudah tenggelam dan karam, tidak jika keduanya sama-sama berjuang mengayuh dan bersabar akhirnya akan tiba di tujuan.(anggaplah bocornya perahu adalah kebosanan dalam suatu hubungan)”

Kamis, 06 Juni 2013

LULUS dan LOLOS

Lega. Ya, satu kata itu yang cukup mewakili perasaanku ketika pertama kali membuka web sekolahku. Tidak seperti biasanya, tahun ini pengumuman kelulusan di unggah di web sekolah. Hal itu tentu bertujuan agar kami yang hampir pensiun ini tidak melakukan aksi coret-coret seragam. Namanya juga anak muda, nggak bisa yang namanya dilarang. Larangan bagi kami adalah tantangan yang akan tetap kamu lakukan walau beresiko. Ya, kurang afdol rasanya lulus tanpa merayakannya dengan sekedar coret-coret baju. Coret-coret baju itu nggak norak tapi klasik apalagi sambil bagi-bagi sembako. Nggak melulu foya-foya tapi juga berbagi ke warga daerah Terban agar mereka ikut merasakan kebahagiaan yang kami rasakan.
This is my story begins,
Jam 10 pagi adalah waktu yang telah ditentukan. Waktu penentuan akankah kami benar-benar jadi pensiunan dari SMA N 6 Yogyakarta ataukah tetap menjadi pelajar satu tahun lagi. Aku rasa tidak ada yang mau dengan pilihan yang kedua. Kami semua masuk bareng , pensiun juga harus bareng J
Beberapa jam sebelum pukul sepuluh jujur, aku deg-degan bukan main. Banyak yang mengatakan aku terlalu bodoh untuk takut tidak lulus. Ya, aku takut kebodohanku itu menjadi nyata, karena aku meyakini segala sesuatu bisa saja terjadi dari hal yang baik sampai yang terburuk sekalipun. Terlebih aku ikut ujian susulan yang katanya dibuat lebih susah. Dagdigdug bukan main. Web sekolah sempat eror, itulah mengapa aku berniat ke sekolah mengantisipasi web benar-benar tidak bisa di akses. Saat perjalanan, aku melihat handphone dan ternyata web sudah bisa di akses. Dengan posisi masih mengendarai motor aku panik bukan main. Aku tidak bisa fokus. Aku menjatuhkan pilihanku untuk berhenti di depan Dinas pendidikan kota Yogyakarta. Aku login dengan terus membaca ayat-ayat al quran AKHIRNYA.....
Ya, saya pensiun.
Senang sekali dan langsung sujud syukur tidak peduli ada beberapa pasang mata yang melihatku heran. Masa bodoh ! ini sungguh menakjubkan nilaiku sudah memenuhi target yap 50.65 untuk 6 mata pelajaran. Alhamdulillah harus kupenuhi nazar yang kuucapkan jauh jauh hari dulu.
Aku melanjutkan ke sekolah, bertemu dengan temanku yang lain dan saling bercengkrama melepas ketakutan selama beberapa hari yang lalu. Ini adalah obrolan kami yang pertama setelah kami lulus. Kami berkumpul di KFC Sudirman bukan tanpa tujuan, kami mau coret-coret tapi karena kami mantan pelajar yang terpelajar jadi aksi coret-coret tidak disertai konvoi dan dilakukan setelah jumatan. Aksi coret-coret pun dimulai. Akhirnya, aku merasakan juga yang namanya lulus SMA. Tidak terasa tiga tahun ini sudah hampir berlalu, kebersamaan ini sungguh indah terekam di hatiku.



Kami masih harus merasakan deg-degan yang berkelanjutan yaitu pengumuman SNMPTN. Hidup dan mati kami ditentukan Senin 27 Mei mendatang.. Akankah selama 20hari ke depan kami menganggur atau belajar untuk tes tulis.
Entah ada yang salah atau tidak dengan otakku, di saat semua temanku lebih tegang dengan pengumuman  SNMPTN dibanding dg pengumuman Lulus aku justru sebaliknya. Demi apa aku tidak begitu deg-degan menanti hasil SNMPTN walau ketidakdegdeganku tidak mengurangi doaku kepada Pemiliki Segalanya ini. Kau tetap berdoa dan terus meminta yang tebaik bagiku.
Jam empat sore
Dua sms masuk ...yang pertama ada ais dan yang kedua ada anggi.
Isinya : “ Kita terpisah Os...hiks... :’(   “
Aku bales  : “ Kamu hukum is?”
( Ais dan aku memang memiliki keinginan yang sama yaitu diterima di Jurusan Manajemen UGM jalur undangan, itu artinya ada 4 kemungkinan. Kemungkinan pertama, aku diterima manajemen dia nggak. Kemungkinan kedua , dia diterima di Hukum UGM dan aku di Sosiatri UGM . Kemungkinan ketiga dia keterima sedang aku enggak, dan yang terakhir yang paling buruk kami nggak lolos undangan.)
Sms yang kedua dari anggi nih bikin jengkel
“CIEEEEEE OSHA.....”
Aku bales : “ hah?apaan?”
Daaaaaaaannnnnn dibales lagi sama nih beruang madu
“Kamu keterima sosiatri kan.”
“Daf*q....asyeeeeeeemmm kenapa harus dikasih tau..ane kan belum buka web. Kan jadi nggakasiiik..kan aku baru selese mandi..belum sholat...belum doa yang terakhir kalinya untuk minta lolos eeeeeehh di spoiler. Yahhh sudahlah...walau emang rada nggak enak tahu dari orang lain saya tetap bersyukur.”
Saya resmi jadi calon mahasiswa baru Sosiatri UGM 2013.
Buat teman-temanku yang sudah keterima di PTN maupun PTS
“ Selamat ! “
Buat teman-temanku yang harus SBMPTN
“Semangat! Jalan kita yang beda..Aku tunggu kalian di UGM/UNY/UI atau dimanapun kalian pengen.”
Buat teman-teman yang BELUM suka sama jurusan yang kalian dapetin
“Kalian harus pikirkan nasib teman-teman yang masih harus berjuang di SBMPTN... Nggak gampang broooo buat dapetin jurusan yang kamu dapet sekarang.”
Buat semuamuamuanya...
“Banggalah dengan jurusan kita masing-masing, nggak perlu gengsi, kuliah cuman cari gengsi  just go on and you got nothing Bro..Sist...”
Ditunggu kesuksesannya. SALAM SUKSES !!!!!


Senin, 13 Mei 2013

Rumitnya "Satu Kata" itu


Happy 2013 ! telat banget yaaa udah dari 2012 aku nggak pernah post lagi, tapi mumpung aku lagi selo untuk beberapa waktu kedepan jadi blog ini akan dipenuhi lagi tulisan-tulisan rada ngasal ini :)
Sebenernya udah dari bulan Desember tahun lalu aku mau post tapi lupa cara post tulisan di blog alhasil nganggur 6 bulan ni blog -_-

Oke, materi yang bakal dibahas kali ini agak berat. Ya, just make sure that you are ready to open your mind and read this !
Jujur aku masih belum sepenuhnya paham atau bahkan layak dibilang awam untuk materi yang satu ini. Cinta. Sadis kan materinya? Aku bukanlah orang yang ahli dalam masalah yang satu ini ataupun orang yang sudah berkali-kali menjalin hubungan sehingga aku mengerti. Bukan mau sok menggurui tapi disini aku mencoba untuk berpendapat atau sekedar berceloteh bak balita yang ingin tahu,
Aku memang sudah berumur 18 tahun , usia tidak lantas dijadikan tolok ukur seseorang untuk mengerti cinta. Aku juga bukan jomblo abadi yang banyak temanku mengira. Kisah cintaku tidak suram-suram amatlah. Aku juga pernah pacaran, entah waktu SD itu bisa dikategorikan pacaran atau bukan. At least ,aku pernah tahu cinta-cintaan sedari dini.
Mungkin karena saking dininya aku mengenal cinta jadi ya beginilah dampaknya, aku hanya mengenal cinta dalam artian dangkal. Aku hanya mengerti cinta itu terjadi ketika dua orang berbeda jenis yang sedang mencari bagian lain dari orang lain untuk memenuhi dirinya yang belum lengkap. Cinta itu ketika kita tertarik dengan orang lain dan akhirnya menjalin sebuah hubungan yang dinamakan pacaran. Menjalin hubungan baru itu gampang, kalau di dalam prosesnya tidak cocok langsung saja putus cari yang lain. Menjalin cinta hanya berdasar gengsi karena tidak laku aaaah itu sama dangkalnya dengan pemikiranku dulu tentang cinta.
Ada yang lebih penting dari sekedar memulai sebuah hubungan yaitu prosesnya. Proses untuk menyatujan dua perbedaan untuk menjadi kesatuan yang sempurna. Dimana kekurangan kita ditutupi kelebihannya begitu juga sebaliknya. Nah proses inilah yang sulit dan tidak banyak pasangan yang memahaminya. Seperti di awal aku mengatakan, aku belum pernah mengalami secara nyata tapi aku belajar dari setiap cerita yang bukan hanya kudengar tapi juga kupelajari. Banyak contoh yang mungkin bisa aku bagi di sini. Check this out !
“Apa?!! Mereka putus gara-gara si X ngerangkul si Y !! gak mutu banget alasannya.”
Si X dan Si Y itu pacaran. Mungkin banyak orang yang bilang perpisahan mereka aneh. Nggak semestinya Cuma karena dirangkul akhirnya minta putus. Lagian pacaran ngerangkul masih wajar kan. Dulu aku juga menjadi salah satu di antara orang yang mulutnya nyiyir kayak yang di atas, tapi semakin ke sini aku paham. Yang namanya menjalin hubungan itu kita harus menjaga dan menghormati apa yang ada di dalam diri kita masing-masing. Termasuk prinsip. Ketika  ada satu prinsip kita yang diacuhkan kita berhak untuk marah. Yang namanya prinsip itu susah lho..prinsip ya prinsip kita harus menghargai apapun prinsip pasangan kita termasuk prinsip nggak mau dirangkul.
“Aku nggak mau dianggap aku berkhianat sama temenku sendiri.”
Untuk cerita yang satu ini mungkin banyak juga yang mengalami. Di satu sisi kita nggak mau dianggap ngambil pacar temen kita sendiri entah itu mantan temen atau masih berlabel pacar temen kita. Pasti juga ada yang nyiyir,
“Iiih kok mau ya bekas temennya sendiri..”
Menurutku mereka nggak bisa disalahkan. Yang namanya cinta kan sebenarnya datengnya tiba-tiba nggak tahu sama siapa,dimana dan kapan *kunobangetnihkalimat*
Sekarang sebelum kita menjudge sesuatu coba kita mencoba menempatkan diri kita ke posisi mereka. Kamu rela nggak rasa yang seharusnya menjadi sebuah berkah dijudge orang dengan kata Iiih. Kalaupun bisa milih kita juga nggak mau kan suka sama bekas temen sendiri. Tapi yang namanya cinta itu susah diprediksi.
“Gimana ya, aku kangen e..aku kasian liat dia nungguin.”
Aaahh nggak asik nih...bilangnya mau ngasih pelajaran..bilangnya mau neghindar dulu biar dia ngerti...bilangnya males ketemu..bilangnya emosi..ujung-ujungnya nggak tega.
Well, aku nyiyir sendiri denger Si Z bilang gitu..katanya males ketemu tapi kangen aaahh ya dari awal aja kenapa bro?kalo emang nggak kuat marah yaudah maafin aja nggak usah sok males ketemu ujung-ujungnya nyiksa sendiri kan. Waktu lagi di kamar mandi aku jadi mikir,
“Apa mungkin gitu ya rasanya sayang sama orang..pas kita lagi marah, marahnya luluh jadi nggak tega. Mungkin karena aku belum ngerasain kali yaa..ah sudahlah.”
Yang namanya cinta itu ngerubah pahit jadi manis, marah jadi nggak tega, item jadi putih , kosong jadi berwarna dsb.
“Aku masih sayang sama dia.”
Cinta itu absurd. Nggak jelas bentuknya, macem-macem rasanya dan beragam kisahnya. Cerita yang satu ini tuh berawal dari perpisahan hubungan yang sebenernya masih menyisakan akar cinta *tsaaah. Mau diakhiri berapa kalipun kalau emang masih ada akarnya tinggal perlu diperbaiki cara perawatannya bakal tumbuh lagi. Gitu juga sama si A yang rela nunggu bertahun-tahun untuk nunggu pacarnya berubah dan memulai untuk memperbaiki pohon tadi. Mau digantungin gimanapun yang namanya percaya itu beeeeuh dahsyat men kekuataannya. Makanya, sebuah hubungan bakal langgeng dengan didasari kepercayaan. Nggak peduli mau berapa lama yang namanya cinta nggak bakal nyerah gitu aja kalau didasari percaya.
Oooo ya aku pengen ke post ini nih....Ini ada di draft hp ku
10 April 2011
Mungkin bukan menyesal, tapi kecewa lebih tepatnya
Bagaimanapun juga aku tak pernah dan tak mau menyesali apa yang tlah terjadi
Aku ingin memahami dari semua yang ku alami
Menjadikannya pengokoh ragaku
Bukan itu tujuanku mencintai dia
Bukan hanya sebagai status,
Bukan untuk menunjukkan aku mampu mendapatkannya
Bukan hanya untuk kesenangan semata,
Atau bahkan hanya untuk mengubah statement bahwa aku tidak laku
Konyol bila itu tujuan dan alasanku mencintai dia
Sederhana saja, aku hanya ingin berbagi
Berbagi sukaku-sukamu , dukaku-dukamu , marahmu-marahku ,ambisiku-ambisimu
Hidupku-hidupmu, cita-citaku-cita-citamu
Dengan keadaan saat ini
Mungkin kita memang tak satu pemikiran
Dengan kata lain bukan denganku kamu ingin berbagi
Semua itu tidaklah penting bagiku
Tidak lantas membuatku benci padamu
Aku tetap mencintaimu dengan tujuan yang sama
“Aku mencintaimu bukan untuk memilikimu, tapi untuk berbagi kisah, walau kau berbagi kisahmu dengan dia bukan denganku”

 *Terus ada lagi tapi aku lupa tanggal berapa yang pasti 2011 juga..
Ada seberkas cahaya pengharapan untuk bisa menggapaimu
Walau angin pun enggan membantu
Tapi aku sadari sgala kelemahanku yang tertutupi kelebihanmu
Mungkin terlalu sulit mengucap benci dalam hati dan pikiranku
Setiap bagian indah yang sebenarnya mampu kulepas tapi kuenggan
Setiap detil garis wajahmu yang sempurna namun enggan untuk kulupa
Konyol sebenarnya
Mencintai tanpa dicintai, peduli tapi dihindari
Hanya sebagai pelampiasan atau mungkin sedikit dianggap pelarian
Hanya sesaat memang, tapi bagiku itu lebih dari cukup
Bisa berbagi denganmu dalam waktu yang mungkin kau rasa tak berarti dan kosong
Mencoba untuk menyelami lebih dalam tentangmu
Dari tiap waktu yang singkat
Tapi kau enggan untuk membiarkanku mengenalmu
Aku tidak memiliki cukup alasan untuk mencintaimu
Tapi kurasa aku memiliki cukup alasan untuk pergi
Akhir dari awal yang indah
Nice to know you , Sir J