Kamis, 27 Juni 2013

Bosan (?)



“Terus kalo besok tiba-tiba kita bosen sama suami kita,gimana?”

Pertanyaanku yang terdengar polos nan bodoh sontak saja menjadi bahan cacian teman temanku yang kala itu aku masih ingat betul siapa saja mereka. Satu bantahan yang paling kuingat adalah dari Kenia. Ya, kenia yang sudah lama (belum) menemukan tambatan hatinya juga tidak menyetujui pertanyaan yang kulontarkan tadi.

“Ya nggak mungkinlah kita bosen, kan udah jadi suami.”

Aku yang kala itu masih labil dan mungkin juga takut jika aku terus mempertahankan pertanyaanku usiaku takkan lama karena akan dikeroyok perempuan-perempuan yang haus belaian itu, aku mencoba mengiyakan tentangan dari mereka tentang bosan dalam hubungan, yang menurut mereka tidak bisa berlaku ketika kita sudah dalam ikatan pernikahan.

Seiring dengan bertambah panjang rambutku,seragam yang mulai sempit, lutut kusam yang mulai menyempil dari bawah rok abu-abu, semakin banyak pula pertanyaan yang ada di otakku tentang kebosanan dalam suatu hubungan. Aku bingung, mengingat lirik dari Ebiet G.Ade yang menyuruhku bertanya pada rumput yang bergoyang. Aku takut kalausaja rumput juga menertawakan pertanyaanku sama seperti cacian dari temanku beberapa waktu silam. Aku merasa mungkin memang harus kucari sendiri jawabannya bukan dari guru,teman,kakak,orangtua, bahkan rumput.

Aku semakin yakin pertanyaanku dulu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepatutnya ditertawakan. Kalau memang kebosanan dalam hubungan itu tidak sah di dalam pernikahan lalu buat apa ada perceraian?Mengapa di setiap pagi aku selalu menyaksikan sebuah acara televisi yang dengan gamblang dan bangganya menyajikan kisah tragis dari sebuah perceraian. Kebosanan dalam sebuah hubungan menurutku adalah hal yang wajar, bisa dibilang sebagai sebuah fase yang mau tidak mau harus dirasakan setiap pasangan. Tinggal bagaimana mereka bisa saling berpegang kepada prinsip mereka mengapa dulu mereka mau bersama. Hari Senin kemarin aku baru saja menonton film “Cinta dalam Kardus” meskipun disisipi komedi menurutku satu film itu sanat cocok untuk pasangan yang sedang dilanda kebosanan. Tanpa didasari selesai menonton film, aku banyak berfikir. Banyak makna yang seharusnya bisa dijadikan bahan refleksi untuk aku yaaa walaupun aku masih berstatus tunggal putri(baca: jomblo). Ketika seseorang sudah mulai bosan dengan pasangannya,dia akan menemukan oranglain dan akhirnya pergi. Wow! Segampang itukah sebuah hubungan bisa berakhir. Alasan yang terdengar klise tapi masih saja begitu perih didengar. Apakah cinta itu bisa bosan?tentu saja bisa.

Saking kurang referensi untuk menjawab pertanyanku, munculah sebuah tanya baru.  Pertanyaan yang kali ini meragukan keagungan cinta.

“Apa iya mama itu jodohnya papa?”

Pertanyaan macam apa lagi ini?jujur saja pertanyaan itu benar-benar pernah hadir dalam otakku yang mungkin tidak semua orang penasaran dengan itu. Waktu itu usia perkawinan mama dan papa menginjak angka 18 tahun.  Tidak jarang mereka bertengkar, tidak bicara beberapa waktu, dan akhirnya akur. Tidakkah mereka bosan dengan hubungan yang penuh dengan masalah?aku mulai sangsi dengan kalimat mama itu jodoh papa. Semakin menguatkan argumenku tentang kebosanan dalam berumahtangga adalah hal yang sah.

3 tahun setelah itu, apa yang kuragukan dijelaskan oleh Allah. Aku percaya dan sangat yakin mama adalah jodohnya papa. Setauku jodoh adalah orang yang bersama saling mencinta berbagi suka dan duka mengerti satu sama lain menutupi kekurangan saling menjaga dan berjuang sampai maut yang memisahkan. Papa pergi dalam tenang. Cinta mereka abadi dan berjodoh. Mereka saling berjuang untuk menyingkirkan perasaan bosan di dalam mahligai rumah tangga mereka. Bayangkan saja, 21 tahun hidup bersama bukanlah waktu yang singkat. Impian untuk bisa menjadi orang pertama yang dilihat ketika kita membuka mata di pagi hari,menyiapkan sarapan,baju,menemani dikala salah satunya sakit atau terpuruk,memegang tangannya saat berjuang melahirkan,mengalah ketika salah satunya ngambek, dan tentunya menghabiskan waktu mereka lebih lama lagi. Mungkin juga kebosanan mereka hilang karena datangnya kami,anak-anak mereka.

“Bosan adalah hal yang wajar tinggal seberapa besar keinginan keduanya untuk terus bertahan dan memegang kuat prinsip saat mereka pertama bersatu. Layaknya mengemudikan perahu yang bocor yang dinaiki dua orang, ketika satu orang yang berjuang maka belum sampai tujuan mereka sudah tenggelam dan karam, tidak jika keduanya sama-sama berjuang mengayuh dan bersabar akhirnya akan tiba di tujuan.(anggaplah bocornya perahu adalah kebosanan dalam suatu hubungan)”

1 komentar:

  1. *terpanggil* nice post ;) Make me laugh and cry when i read it :')

    BalasHapus