“Wah, dari Jogja ya. Orang Jogja pasti
lembut-lembut, ramah-ramah.”
Sebuah kalimat template yang agaknya
sudah puluhan kali melewati gendang telinga setiap kali memperkenalkan diri ke
orang baru di wilayah Indonesia lainnya. Ingin hati mengamini, sebagai seorang
yang memang lahir dan tumbuh di Jogja. Tentu sulit untuk menampik anggapan atau
label yang terlanjur melekat ke orang-orang Jogja totok. Sedikit memberi
beban juga, membentuk diri untuk lebih awas lan waspada dalam berucap. Pride,
Lur! Sudah dipuji masa iya nggak menampilkan diri dengan persona tersebut. Tak
perlu waktu lama, gestur dan jawaban template khas orang Jogja juga refleks saya
berikan.
“Hehe, iya.” (tentu saja dengan
senyuman dan sedikit gestur menganggukkan kepala)
Kali ini berbeda, saat berkunjung
ke salah satu kota di ujung utara Pulau Sulawesi. Berada dan berbaur dengan
masyarakat, mengamati setiap gerak-gerik kehidupan di kota ini, dan menikmati
kuliner yang pedasnya bukan main. Ada pergumulan dan pergulatan batin yang
cukup mengganggu, dan akhirnya bermuara pada satu kesimpulan.
“Kota Bitung agaknya bisa menjadi
saingan berat Kota Jogja, bab Ramah dan Hangat.”
Kota Bitung, Kota Cakalang dan
Industri
Terletak sekitar 43 kilometer
dari Kota Manado, butuh sekitar satu jam perjalanan darat untuk sampai ke kota
yang mahsyur sebagai Kota Cakalang. Kota Bitung memiliki kondisi geografis yang
cukup unik, ia diapit oleh pesisir pantai dan perbukitan. Kota yang tidak
terlalu besar, tapi memiliki beberapa pabrik besar. Salah satunya pabrik
pengalengan ikan. Saat pertama kali berkeliling, nampak sebuah Tugu Cakalang
sebagai bukti pengukuhan Kota Cakalang.
“Kota Bitung ini (dulu) terkenal
dengan ikan cakalangnya. Tapi sekarang sudah agak berkurang. Kalau Ikan Tuna
dan Ikan Tude masih banyak. Ikan Tuna yang besar-besar diekspor ke Jepang.
Hasil laut masih melimpah.” Ujar Raymond, driver yang membawa kami dari Manado
ke Bitung.
“Coba cek matahari di luar, Kak.
Mau tinggal di sini 2 minggu, kan. Cek dulu lah, di Kota Bitung ini matahari
satu orang satu.”
Ternyata betul, teriknya bukan
main. Very hot potatoes, panase ngentang-ngentang. Perkenalan
yang kelewat hangat.
Baru hari pertama, sudah
terBitung-Bitung
Ya, saya akan singgah di kota ini
kurang lebih dua minggu. Moda transportasi di Bitung terbilang cukup baik.
Tidak sulit menemukan angkutan kota (angkot) tentu saja dengan musik full jedag
jedug. Pun di beberapa titik keramaian, tukang ojek pangkalan selalu hadir
menyapa dan siap mengantarkan sampai tujuan. Ojek online juga tersedia, hanya
saja masih terbatas. Pilihan saya jatuh kepada, sewa motor kepada pemilik kos.
Secara budget sudah barang pasti tidak boncos, dan lebih leluasa
berkeliling kota.
Sialnya, kondisi motor tidak
berbanding lurus dengan ekspektasi. Hal tersebut, menyulitkan saya untuk
mengetahui indikator tangki bensin masih penuh atau kosong. Sialnya lagi,
ternyata kosong plong. Motor mogok di saat senja mulai temaram alias surup.
Badut! Baru hari pertama sudah sial. Menuntun motor yang bahkan footstepnya
sudah mleyot, saya menyusuri gang berharap ada penjual bensin eceran. Baru
beberapa meter, ada pemuda yang nampak iba. Ia sempat memberi saran untuk
mengetuk warung di ujung jalan yang biasanya berjualan bensin.
“Kalau pom jauh, kak. Aih, jauh
lagi kakak berjalan.” Terdengar nadanya kesal karena tidak bisa membantu lebih
jauh, karena ia pun tak membawa kendaraan.
“Tidak apa, saya ke pom saja.
Terima kasih.” kembali saya menuntun dan menyeberang ke jalan besar.
Baru beberapa meter, tiba-tiba
ada seorang bapak berkaos biru berteriak (mungkin ini bukan berteriak, orang
Jogja yang lembut ini mana paham)
“Kenapa?Habis minyak?”
Tanpa pikir panjang, ia langsung
mendorong motor saya untuk mencari bensin terdekat. Saat di jalan kami sempat
mengobrol singkat. Setibanya di penjual bensin, bapak tersebut tanpa pamit
pergi. Saya yang kadung kagok, refleks berterima kasih dengan sedikit
berteriak. Siapa sangka, di hari pertama ini saya menemukan wajah Kota Bitung
yang ramah dan baik.
Senyum, Sapa, Maaf masih
Lestari
Hal unik lainnya yang mudah
dijumpai di Kota Bitung adalah masyarakatnya yang sering menyapa dan tersenyum.
Entah karena memang saya terlihat bukan penduduk lokal atau memang kebiasaan
baik ini masih terus dipertahankan. Saat berkeliling di gang sempit, saya
berulang kali ditanya dan diarahkan agar tak terjebak gang buntu. Bila biasanya
di kota lain, saya pasti ditatap dengan tatapan intimidatif penuh kekepoan.
Berbeda dengan disini, mereka begitu hangat. Menariknya lagi, orang disini sering
kali menggunakan kata maaf yang berulang-ulang sebagai tanda bentuk penyesalan
yang mendalam. Saya yang orang Jogja malah jadi pekewuh dimintai maaf
berulang-ulang.
Pak Jemi, ke Jepang Jalur
Ombak
Salah seorang nelayan yang saya
temui di dekat pesisir. Awalnya, saya mengobrol dengan istrinya. Lagi-lagi
label ramah menjadi hal yang begitu melekat saat Pak Jemi tiba-tiba ikut nimbrung.
Beliau bercerita banyak tentang kehidupan nelayan, hingga tersebutlah bahwa ia
pernah ke Jepang jalur ombak. Terdengar menarik, Pak Jemi menceritakan kisah
dramatis yang ia alami 20 tahun lalu. Ia dan seorang kawannya melaut seperti
biasa, hanya saja setibanya di tengah lautan cuaca berubah buruk. Mereka
memutuskan untuk kembali ke daratan tentu saja karena perahu yang digunakan
tidak cukup kuat untuk diadu dengan ombak besar.
Saat sedang ke arah pulang, ada
sebuah kapal berisi 6 orang Anak Buah Kapal yang terbalik. Pak Jemi langsung
menyuruh 6 orang tersebut untuk naik ke perahu miliknya. Saat semua sudah
berada di perahu, gelombang tinggi menerjang perahu milik Pak Jemi jauh ke
tengah lautan. Mereka terombang-ambing tanpa logistik. Bahkan untuk bertahan
hidup mereka meminum air kencing dan kayu-kayu perahu yang agak lunak.
Berhari-hari kemudian, lewatlah sebuah kapal besar dan melihat perahu Pak Jemi.
Mereka berdelapan kemudian hanya berteriak, ”Indonesia, Indonesia”. Akhirnya
mereka mendapat pertolongan dari kapal Northwest Sanderling milik Australia yang
hendak ke Jepang. Pak Jemi dan ketujuh orang lainnya dibawa ke Jepang, dan
dipulangkan kembali oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia-Osaka. Pak Jemi
dan kawannya mendapatkan piagam penghargaan atas jasanya menyelamatkan Kapten
dan Anak Buah Kapal Barang Samsinar.
Mempertaruhkan hidupnya untuk
menyelamatkan nyawa orang lain. Sebuah kisah dramatis yang lagi-lagi memperkuat
asumsi saya, beliau adalah gambaran kecil dari wajah Kota Bitung yang ramah dan
baik.
Bitunglah Sandaran Hati..
Cukup beruntung. Di penghujung
perjalanan saya di Kota Bitung, ternyata bertepatan dengan adanya Kapal Pesiar
yang bersandar di Pelabuhan Bitung. Momen ini ternyata dipersiapkan cukup
matang oleh Pemerintah Kota Bitung. Seluruh kepala desa dan petinggi pemerintah
kota diwajibkan menyambut penumpang kapal pesiar. Kapal Arcadia menjadi kapal
pertama yang singgah di Bitung. Berisi ratusan turis mancanegara dari Asia
hingga Eropa. Selain saya, antusiasme dirasakan juga oleh seluruh warga Bitung.
Semua berduyun-duyun ke Pelabuhan untuk melihat kegagahan kapal pesiar yang
besar bukan main. Nampak anak-anak sekolah turut meramaikan pelabuhan, mungkin
merekapun diberi tugas oleh gurunya untuk mewawancarai turis kapal tersebut.
Kapal Arcadia singgah selama 10 jam di Bitung, momen ini membuat suasana kota
lebih semarak. Tentunya pendapatan asli daerah juga meningkat. Lagi-lagi saya
melihat wajah ramah warga Bitung yang menyapa dengan hangat turis-turis di
pelabuhan. Apa ini salah satu faktor yang membentuk warga Bitung terbiasa ramah
dan hangat kepada siapa saja yang singgah.
Apa itu mayoritas minoritas?
Kota Bitung didiami oleh berbagai
suku mulai dari Suku Minahasa, Gorontalo, Sangir, Jawa, Batak, dll. Mayoritas
berkeyakinan Kristen, ada juga Katolik, beberapa juga Islam, sedikit Hindu,
Konghucu dan Budha. Sangat mudah menjumpai bangunan gereja berbagai aliran di
Bitung dan kalau soal kuliner banyak penjual olahan babi disini. Walau bisa
dibilang miniatur Indonesia, masyarakat Bitung sudah terbiasa hidup
berdampingan di tengah keberagaman. Saling menghargai adalah harga mati.
“Disini kami sudah langsung paham,
misal ada hajatan/pesta akan memisahkan makanan untuk warga muslim, mana yang
pakai babi. Setiap lebaran, kami Pemuda Kristen akan menjaga di area sholat
Idul Fitri. Kami diajak makan ketupat juga. Begitupun saat Natal, remaja masjid
akan bergantian berjaga di gereja.” Ujar Edward, salah satu tokoh pemuda di
Kota Bitung.
“Tahun lalu, sempat ada kerusuhan
antar ormas. Sebetulnya pemberitaan yang beredar banyak yang diplintir oknum
tertentu. Kami disini aslinya damai berdampingan, tetapi ada yang sepertinya
menggoreng isu ini. Ingin memecah belah persatuan. Bahkan saat kerusuhan
terjadi, rumah kami ini menampung dan menyelamatkan massa yang beragama Islam. Ada
mungkin belasan orang masuk ke sini. Semua berlindung di rumah kami, padahal
kami Kristen. Hahaha” kenang Yulianes yang begitu bersemangat bercerita.
Pertemuan saya dengan orang-orang
di Bitung memantapkan hati saya untuk lagi-lagi menobatkan Kota Bitung sebagai
saingan berat Kota Jogja bab ramah dan hangat. Kala itu, saya yang minoritas
tak sedikitpun merasa terintimidasi ataupun powerless. Mereka dengan
hangat memberi ruang untuk berdiskusi, ngobrol wetan-kulon, belajar banyak hal
termasuk kehangatan dalam keberagaman. Perspektif ini tentu berbeda karena di
Jogja, saya adalah mayoritas ada suasana lain yang Bitung perlihatkan. Bahwa
ini bukan soal mayoritas atau minoritas ini soal menjadi humanis.
“Lhoh kok melamun, dimakan pisang
gorengnya jangan lupa dicocol sambal roa.”