Jumat, 06 Maret 2026

Kota Bitung, Jogja-nya Sulawesi Utara

 

“Wah, dari Jogja ya. Orang Jogja pasti lembut-lembut, ramah-ramah.”

Sebuah kalimat template yang agaknya sudah puluhan kali melewati gendang telinga setiap kali memperkenalkan diri ke orang baru di wilayah Indonesia lainnya. Ingin hati mengamini, sebagai seorang yang memang lahir dan tumbuh di Jogja. Tentu sulit untuk menampik anggapan atau label yang terlanjur melekat ke orang-orang Jogja totok. Sedikit memberi beban juga, membentuk diri untuk lebih awas lan waspada dalam berucap. Pride, Lur! Sudah dipuji masa iya nggak menampilkan diri dengan persona tersebut. Tak perlu waktu lama, gestur dan jawaban template khas orang Jogja juga refleks saya berikan.

“Hehe, iya.” (tentu saja dengan senyuman dan sedikit gestur menganggukkan kepala)

Kali ini berbeda, saat berkunjung ke salah satu kota di ujung utara Pulau Sulawesi. Berada dan berbaur dengan masyarakat, mengamati setiap gerak-gerik kehidupan di kota ini, dan menikmati kuliner yang pedasnya bukan main. Ada pergumulan dan pergulatan batin yang cukup mengganggu, dan akhirnya bermuara pada satu kesimpulan.

“Kota Bitung agaknya bisa menjadi saingan berat Kota Jogja, bab Ramah dan Hangat.”

Kota Bitung, Kota Cakalang dan Industri

Terletak sekitar 43 kilometer dari Kota Manado, butuh sekitar satu jam perjalanan darat untuk sampai ke kota yang mahsyur sebagai Kota Cakalang. Kota Bitung memiliki kondisi geografis yang cukup unik, ia diapit oleh pesisir pantai dan perbukitan. Kota yang tidak terlalu besar, tapi memiliki beberapa pabrik besar. Salah satunya pabrik pengalengan ikan. Saat pertama kali berkeliling, nampak sebuah Tugu Cakalang sebagai bukti pengukuhan Kota Cakalang.

“Kota Bitung ini (dulu) terkenal dengan ikan cakalangnya. Tapi sekarang sudah agak berkurang. Kalau Ikan Tuna dan Ikan Tude masih banyak. Ikan Tuna yang besar-besar diekspor ke Jepang. Hasil laut masih melimpah.” Ujar Raymond, driver yang membawa kami dari Manado ke Bitung.

“Coba cek matahari di luar, Kak. Mau tinggal di sini 2 minggu, kan. Cek dulu lah, di Kota Bitung ini matahari satu orang satu.”

Ternyata betul, teriknya bukan main. Very hot potatoes, panase ngentang-ngentang. Perkenalan yang kelewat hangat.

Baru hari pertama, sudah terBitung-Bitung

Ya, saya akan singgah di kota ini kurang lebih dua minggu. Moda transportasi di Bitung terbilang cukup baik. Tidak sulit menemukan angkutan kota (angkot) tentu saja dengan musik full jedag jedug. Pun di beberapa titik keramaian, tukang ojek pangkalan selalu hadir menyapa dan siap mengantarkan sampai tujuan. Ojek online juga tersedia, hanya saja masih terbatas. Pilihan saya jatuh kepada, sewa motor kepada pemilik kos. Secara budget sudah barang pasti tidak boncos, dan lebih leluasa berkeliling kota.

Sialnya, kondisi motor tidak berbanding lurus dengan ekspektasi. Hal tersebut, menyulitkan saya untuk mengetahui indikator tangki bensin masih penuh atau kosong. Sialnya lagi, ternyata kosong plong. Motor mogok di saat senja mulai temaram alias surup. Badut! Baru hari pertama sudah sial. Menuntun motor yang bahkan footstepnya sudah mleyot, saya menyusuri gang berharap ada penjual bensin eceran. Baru beberapa meter, ada pemuda yang nampak iba. Ia sempat memberi saran untuk mengetuk warung di ujung jalan yang biasanya berjualan bensin.

“Kalau pom jauh, kak. Aih, jauh lagi kakak berjalan.” Terdengar nadanya kesal karena tidak bisa membantu lebih jauh, karena ia pun tak membawa kendaraan.

“Tidak apa, saya ke pom saja. Terima kasih.” kembali saya menuntun dan menyeberang ke jalan besar.

Baru beberapa meter, tiba-tiba ada seorang bapak berkaos biru berteriak (mungkin ini bukan berteriak, orang Jogja yang lembut ini mana paham)

“Kenapa?Habis minyak?”

Tanpa pikir panjang, ia langsung mendorong motor saya untuk mencari bensin terdekat. Saat di jalan kami sempat mengobrol singkat. Setibanya di penjual bensin, bapak tersebut tanpa pamit pergi. Saya yang kadung kagok, refleks berterima kasih dengan sedikit berteriak. Siapa sangka, di hari pertama ini saya menemukan wajah Kota Bitung yang ramah dan baik.

Senyum, Sapa, Maaf masih Lestari

Hal unik lainnya yang mudah dijumpai di Kota Bitung adalah masyarakatnya yang sering menyapa dan tersenyum. Entah karena memang saya terlihat bukan penduduk lokal atau memang kebiasaan baik ini masih terus dipertahankan. Saat berkeliling di gang sempit, saya berulang kali ditanya dan diarahkan agar tak terjebak gang buntu. Bila biasanya di kota lain, saya pasti ditatap dengan tatapan intimidatif penuh kekepoan. Berbeda dengan disini, mereka begitu hangat. Menariknya lagi, orang disini sering kali menggunakan kata maaf yang berulang-ulang sebagai tanda bentuk penyesalan yang mendalam. Saya yang orang Jogja malah jadi pekewuh dimintai maaf berulang-ulang.

Pak Jemi, ke Jepang Jalur Ombak

Salah seorang nelayan yang saya temui di dekat pesisir. Awalnya, saya mengobrol dengan istrinya. Lagi-lagi label ramah menjadi hal yang begitu melekat saat Pak Jemi tiba-tiba ikut nimbrung. Beliau bercerita banyak tentang kehidupan nelayan, hingga tersebutlah bahwa ia pernah ke Jepang jalur ombak. Terdengar menarik, Pak Jemi menceritakan kisah dramatis yang ia alami 20 tahun lalu. Ia dan seorang kawannya melaut seperti biasa, hanya saja setibanya di tengah lautan cuaca berubah buruk. Mereka memutuskan untuk kembali ke daratan tentu saja karena perahu yang digunakan tidak cukup kuat untuk diadu dengan ombak besar.

Saat sedang ke arah pulang, ada sebuah kapal berisi 6 orang Anak Buah Kapal yang terbalik. Pak Jemi langsung menyuruh 6 orang tersebut untuk naik ke perahu miliknya. Saat semua sudah berada di perahu, gelombang tinggi menerjang perahu milik Pak Jemi jauh ke tengah lautan. Mereka terombang-ambing tanpa logistik. Bahkan untuk bertahan hidup mereka meminum air kencing dan kayu-kayu perahu yang agak lunak. Berhari-hari kemudian, lewatlah sebuah kapal besar dan melihat perahu Pak Jemi. Mereka berdelapan kemudian hanya berteriak, ”Indonesia, Indonesia”. Akhirnya mereka mendapat pertolongan dari kapal Northwest Sanderling milik Australia yang hendak ke Jepang. Pak Jemi dan ketujuh orang lainnya dibawa ke Jepang, dan dipulangkan kembali oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia-Osaka. Pak Jemi dan kawannya mendapatkan piagam penghargaan atas jasanya menyelamatkan Kapten dan Anak Buah Kapal Barang Samsinar.

Mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Sebuah kisah dramatis yang lagi-lagi memperkuat asumsi saya, beliau adalah gambaran kecil dari wajah Kota Bitung yang ramah dan baik.

Bitunglah Sandaran Hati..

Cukup beruntung. Di penghujung perjalanan saya di Kota Bitung, ternyata bertepatan dengan adanya Kapal Pesiar yang bersandar di Pelabuhan Bitung. Momen ini ternyata dipersiapkan cukup matang oleh Pemerintah Kota Bitung. Seluruh kepala desa dan petinggi pemerintah kota diwajibkan menyambut penumpang kapal pesiar. Kapal Arcadia menjadi kapal pertama yang singgah di Bitung. Berisi ratusan turis mancanegara dari Asia hingga Eropa. Selain saya, antusiasme dirasakan juga oleh seluruh warga Bitung. Semua berduyun-duyun ke Pelabuhan untuk melihat kegagahan kapal pesiar yang besar bukan main. Nampak anak-anak sekolah turut meramaikan pelabuhan, mungkin merekapun diberi tugas oleh gurunya untuk mewawancarai turis kapal tersebut. Kapal Arcadia singgah selama 10 jam di Bitung, momen ini membuat suasana kota lebih semarak. Tentunya pendapatan asli daerah juga meningkat. Lagi-lagi saya melihat wajah ramah warga Bitung yang menyapa dengan hangat turis-turis di pelabuhan. Apa ini salah satu faktor yang membentuk warga Bitung terbiasa ramah dan hangat kepada siapa saja yang singgah.

Apa itu mayoritas minoritas?

Kota Bitung didiami oleh berbagai suku mulai dari Suku Minahasa, Gorontalo, Sangir, Jawa, Batak, dll. Mayoritas berkeyakinan Kristen, ada juga Katolik, beberapa juga Islam, sedikit Hindu, Konghucu dan Budha. Sangat mudah menjumpai bangunan gereja berbagai aliran di Bitung dan kalau soal kuliner banyak penjual olahan babi disini. Walau bisa dibilang miniatur Indonesia, masyarakat Bitung sudah terbiasa hidup berdampingan di tengah keberagaman. Saling menghargai adalah harga mati.

“Disini kami sudah langsung paham, misal ada hajatan/pesta akan memisahkan makanan untuk warga muslim, mana yang pakai babi. Setiap lebaran, kami Pemuda Kristen akan menjaga di area sholat Idul Fitri. Kami diajak makan ketupat juga. Begitupun saat Natal, remaja masjid akan bergantian berjaga di gereja.” Ujar Edward, salah satu tokoh pemuda di Kota Bitung.

“Tahun lalu, sempat ada kerusuhan antar ormas. Sebetulnya pemberitaan yang beredar banyak yang diplintir oknum tertentu. Kami disini aslinya damai berdampingan, tetapi ada yang sepertinya menggoreng isu ini. Ingin memecah belah persatuan. Bahkan saat kerusuhan terjadi, rumah kami ini menampung dan menyelamatkan massa yang beragama Islam. Ada mungkin belasan orang masuk ke sini. Semua berlindung di rumah kami, padahal kami Kristen. Hahaha” kenang Yulianes yang begitu bersemangat bercerita.

Pertemuan saya dengan orang-orang di Bitung memantapkan hati saya untuk lagi-lagi menobatkan Kota Bitung sebagai saingan berat Kota Jogja bab ramah dan hangat. Kala itu, saya yang minoritas tak sedikitpun merasa terintimidasi ataupun powerless. Mereka dengan hangat memberi ruang untuk berdiskusi, ngobrol wetan-kulon, belajar banyak hal termasuk kehangatan dalam keberagaman. Perspektif ini tentu berbeda karena di Jogja, saya adalah mayoritas ada suasana lain yang Bitung perlihatkan. Bahwa ini bukan soal mayoritas atau minoritas ini soal menjadi humanis.

“Lhoh kok melamun, dimakan pisang gorengnya jangan lupa dicocol sambal roa.”

 

Rabu, 04 Maret 2026

Menelusuri Cikal Bakal Ketertarikanku dengan Lagu-Lagu Lawas

Sudah dari lama aku mempertanyakan, “Kenapa aku begitu menikmati musik lawas?”

Beberapa artikel menyebutkan hal ini bisa dijelaskan dengan ilmu psikologi mere exposure effect. Kita itu sudah terpapar secara nggak sadar. Apa yang kita dengar, lihat, selama kita masih kecil (bisa jadi saat golden age bahkan). Kita merekam memori itu dengan baik di dalam ingatan. Pas kecil, kita yang nggak tahu apa-apa, akan merekam atau menyerap apapun di sekeliling kita. Pasti ingetlah, gimana curious-nya, excited-nya kita pas kecil. Beranjak dewasa, kayaknya udah terlanjur capek duluan untuk excited ya?Pengen jadi bocah lagi, biar energinya full.

Terpapar hal yang sama tapi hasilnya bisa beda?

Apa yang bergema di rumah, lagu apa yang diputer (tentu saja pilihan lagu Papa - Mama, pun lagu Kakek-Nenek) sebetulnya kan sama-sama kami dengarkan ya (kami = aku dan kakak-kakakku). Cumaa..preferensinya tetep berbeda. Kakak pertamaku lebih suka lagu upbeat dan cenderung lebih dinamis mengikuti perkembangan musik barat kekinian. Khasanah lagu baru beliau lebih bagus seperti Alan Walker, Billie Elish, dll. Sedangkan kakak keduaku, cenderung berhenti di lagu-lagu Indonesia 2000an. Ia tidak terlalu banyak mendengarkan musik dan tidak suka nonton konser. Mereka pun juga heran, kenapa selera musikku cenderung lebih tua dibanding mereka.

Papa selalu memutar lagu The Beatles.

Sebuah fakta baru yang belum lama aku tahu. Ternyata ada benang merahnya, kenapa aku bisa begitu menyukai The Beatles. Walau sebetulnya tidak sefanatik itu juga sih. Hal ini diperkuat saat SMA, ada pelajaran Seni Musik dan kami diminta untuk meng-cover lagu-lagu The Beatles. Seru!

Mama senang lagu sendu Indonesia dan beberapa hits lagu barat.

Hati yang luka milik Betharia Sonata menjadi yang paling aku ingat. Beberapa juga lagu Gombloh atau Tantowi Yahya. Kalau lagu hits barat yah standar saja Bryan Adams, Rod Stewart, Air Supply. Ada dua lagu yang terngiang, yaitu Knife dan Sad Movies. Waktu masih kecil aku ya cuma mendengarkannya saja, beranjak dewasa ternyata lagu ini emang sad.

Kakekku suka bernyanyi dan suaranya indah.

Ingatanku bergerak mundur, emang setiap ada acara keluarga seperti arisan ataupun halal bi halal tidak pernah lupa mengundang organ tunggal/keyboard. Kakekku sangat suka bernyanyi, kebanyakan lagu barat. What a wonderful world, My Way, The Greatest Love of All, dan Storybook Children. Lagu itu sangat melekat, lengkap dengan ingatanku terhadap suara beliau yang memang merdu. Pronunciation beliau juga lebih dari bagus.

Menariknya, aku masih belum tau darimana ketertarikanku pada Michael Learns To Rock. Aku mencoba mencari jejaknya dari kaset, VCD/DVD yang sayangnya bajakan, tapi nggak ada. Bulan lalu, aku sengaja menonton konser MLTR di Solo. Saat ijin ke mama, kukira beliau akan marah karena tidak diajak. Eh, kok malah beliau bingung. Siapa MLTR?aku putar beberapa lagunya, beliau semakin bingung. Ada beberapa lagu yang beliau familiar, Sleeping Child dan That’s Why You Go Away. Masih menjadi misteri dari siapa pertama kali aku dengar MLTR. Entahlah, rasanya sangat familiar.

Senin, 21 April 2025

Nggak Semuanya Harus Sekarang

Ngga semuanya harus sekarang

Perjalanan kemarin memberi pembelajaran yang sederhana tapi sulit buat dijalani. Mungkin ini bukan hal yang spesial atau baru. Ketika perjalanan kemarin mengarahkan diri sendiri untuk bisa lebih ikhlas.

Butuh waktu lebih dari seminggu pasca pulang, untuk akhirnya bisa benar-benar berdamai. Benar-benar mau “mengerti”. Manusia kan suka gitu ya, reaktif. Diuji dikit langsung bereaksi, kok gini sih Tuhan?Kok aku sih Tuhan?Tuhan pengen aku belajar apa sih kok sakit segininya?”

Ya, ternyata ujungnya ikhlas.

Kamu tuh lucu deh..
Bukannya emang kamu minta untuk diberikan ketenangan?Diberikan kekuatan untuk menerima segala ketetapanNya?

Cara Tuhan untuk memberikan ketenangan dan kekuatan bisa lewat banyak hal termasuk ujian.

Untuk menjadi tenang ternyata sepaket sama ujian dan ikhlas.

Nggak semuanya harus sekarang.

Yang kamu kira “harus” sekarang, kalo menurut Tuhan belum. Kamu bisa apa? Belajar buat menurunkan atau bahkan melepas beberapa ekspektasi yang terlanjur dibangun? Ngga ada yang suruh kamu berekspektasi. Too Sad to be true, “Kalo tetep ngeyel berekspektasi ya jangan kaget kalau akhirnya kecewa.”

Oh, ternyata belum bisa ke Jabal Uhud.

Oh ternyata belum bisa selalu sholat di Masjid.

Oh, ternyata belum bisa ke Hijr Ismail.

Diundang ke Rumah Allah-nya kan bukan cuma kamu sendiri, ada orang tua, ada kakak, dan ada rombongan lain. Ngga semua tentang “inginmu”, negosiasi atas ekspektasi yang terlanjur terbangun adalah contoh terkecil dari proses menuju ikhlas. Asliii sulit.

Kalopun belum sekarang, yauda ga z. Maybe next time. Insya Allah semoga Allah mampukan.

Jangan sampai akhirnya, kedatangan kita ke Tanah Haram membuat kita jadi merasa berhak menuntut.

Menuntut dan merasa paling berhak untuk bisa berdoa.

Menuntut untuk dikabulkan segala harap dan hajatmu.

Selasa, 20 Februari 2018

Tuhan, kali ini saya menang.


Tuhan. Kali ini saya menang.

Ini menjadi waktu yang paling saya benci sekaligus saya nantikan
Bukan karena rasa tetapi lebih kepada menantang diri sendiri
Bukan tanpa resah tetapi lebih kepada menata hati
Ya, dan harus saya akui kali ini saya menang
Ingatkah Engkau Tuhan, apa yang saya ucap beberapa bulan lalu?
Meski terdengar amat lirih bahkan nyaris berbisik
Saya ucapkan dengan setenang mungkin
Agar tak terlalu kacau kata-kata yang saya pilih
Agar mudah bagi Mu mengabulkannya
Untaian doa agar tak lagi saya temui kalut
Meski sempat meragu dan kembali terbata-bata berharap
Saya kembali yakin
Berbekal letihnya menjadi yang tak terlihat
Membuktikan kali ini saya menang.
Tidak ada luka
Tidak ada titik air mata
Tidak saya temui gelisah pun amarah
Mari kita rayakan kemenangan ini dengan bersulang
Atas nama diri yang mulai melangkah walau sempat tertatih
Atas nama diri yang kembali bernostalgia tetapi tidak lupa
Atas nama diri yang sudah merdeka dari perasaannya yang lara

Yogyakarta, 20 Februari 2018

Senin, 12 Februari 2018

Astaga, lucu tenan uripku!


Kalau saja kita punya waktu lebih untuk sekadar merenung, mungkin beginilah jawabannya,

Semua kisah tentang apapun yang pernah saya lalui nampaknya terlalu rumit dan panjang untuk kembali diceritakan. Perenungan menjadi hal yang asyik untuk dilakukan, yah sekali-kali lah sebagai media introspeksi diri. Barangkali hal yang tidak kita mengerti dulu sudah menemukan titik terang seiring dengan bertambah dewasanya pemikiran kita. Barangkali karena kita semakin punya pengalaman yang ternyata jawaban dari gelisah kita di masa lampau. Atau..atau baru bisa kita selami dan akhirnya berujung pada sebuah penyesalan?

Entah muaranya pada apa, perenungan menjadi kegiatan yang akhir-akhir ini saya lakukan. Bukan karena terlalu menarik tapi karena saya kesulitan mencari-cari kesibukan lain. Hidup yang sudah cukup lama saya jalani memberikan stimulus-stimulus untuk saya kembali bernostalgia.

Dulu, entah kapan tepatnya salah seorang teman mencoba menerawang diri saya.

“Kalo kamu itu orangnya ngalir, mengikuti arus akan kemana. Santaaaai banget sama masa depan. Kayak nggak punya mimpi atau tujuan. Ya yang ada dijalani, nggak muluk dan nggak neko-neko. Besok bakal jadi apa ya gimana ntar.”

Saya kok setuju dengan hasil terawangan abal-abal teman saya satu itu. Hadeh, walaupun agak syok juga ketika dikatain sebagai seorang yang nggak punya tujuan yang jelas. Bukan bemaksud mengamini tapi memang sulit bagi saya mengelak.

Menjadi penikmat bagaimana takdir Tuhan bekerja. Mungkin itu adalah kalimat keren yang terus saya bangun sampai saat ini. hingga akhirnya membuat saya lagi-lagi berkata, “Astaga, lucu tenan uripku!”

Mungkin ada benarnya menjalani hidup itu harus sederhana, jangan berlebihan. Membenci orang sewajarnya pun mencintai orang juga sewajarnya. Kalau minum obat, harus sesuai petunjuk dokter. Kalau perasaan benci dan cinta, harus sesuai petunjuk Tuhan. Intinya sama, dikonsumsi seperlunya. Saya barangkali menjadi yang paling terbahak-bahak menyelami kehidupan saya yang begitu koc(L)ak. Begitu mudahnya Tuhan, memutar balikkan hidup saya dengan apa yang pernah saya lakukan dulu. Kita manusia, makhluk yang di dalam tulisan saya sebelumnya saya namai sebagai makhluk yang sering lena. Pun kali ini saya lagi-lagi mengamini, manusia mudah berubah. Perubahan adalah sebuah kepastian. Sudah sering lena, sering berubah pula.

Saya dulu membenci seseorang yang ternyata mengambil apa yang saya kagumi kala itu. Bagi saya, ia jahat. Merampas apa yang tengah saya kagumi. Membuyarkan semua harapan yang baru saja mulai saya susun. Ibarat lagi menyusun balok-balok UNO, diambil satu batang dan ambyar semua. Rontok seperti ketombe. Kala itu, rasanya belum ikhlas. Orang itu mengambil apa yang baru saja saya gemari. No excuse for you.

Lagi-lagi waktu menyembuhkan. Lagi-lagi Tuhan bermain-main dengan hidup saya. Tuhan kirimkan karunia yang amat besar. sebuah karunia yang tidak pernah berani saya impikan. Karena memang kata teman saya, saya nggak pernah punya mimpi. Karunia yang selama ini banyak diimpikan oleh kawan-kawan , mendarat sukses dalam genggaman tangan saya. Mungkin sekarang tertebak, siapa yang menjadi ‘hero’ dalam cerita saya kali ini. Ya, orang yang dulu saya benci karena mengambil apa yang saya kagumi. Bisa bayangkan bagaimana perasaan benci saya yang seketika rontok seperti ketombe. Ternyata benar,“Ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kamu, Ia tengah mempersiapkan gantinya yang lebih baik.” Kadang kita manusia belum bisa mengerti sama kalimat itu, ketika belum dikasih lihat gantinya. Bahwa benar, manusia itu berubah. Orang yang kamu benci bisa jadi pembuka kehidupanmu selanjutnya.

Poin yang mau saya tekankan ya itu tadi masa nggak bisa menyimpulkan sendiri sih.

Sebagai penikmat bagaimana takdir Tuhan bekerja, saya wajib tertawa karena hidup saya yang lucu ini. Kadang suka takut membayangkan apa yang akan terjadi besok. Nggak tau lusa.



 Yogyakarta, 12 Februari 2018.

Minggu, 20 Agustus 2017

Para Pembentuk Jarak dan Penggubah Rindu


Petang itu saya kembali menginjakkan kaki di Jawa. Masih membekas di dalam ingatan, sore tadi saya masih duduk termangu di sudut bandara menunggu pesawat yang terlambat terbang. Ya, masih di Sulawesi. Pulau yang sudah dua kali saya singgahi ini memang membawa kesyahduan yang luar biasa. Sayang rasanya untuk kembali pulang. Di sisi lain, Jogja tak pernah lelah melambai-lambaikan tangannya merajuk untuk kembali direngkuh. Sejujurnya, hari itu saya mulai jatuh hati pada Sulawesi. Entah lusa.

            Sore itu tepat dua minggu setelah semua kewajiban saya tunaikan, saya kembali terdiam. Secara raga mungkin mematung, tapi imajinasi saya mulai liar. Bandara, ya mungkin sudah banyak yang menulisnya. Barangkali menulis lebih indah daripada saya yang masih ecek-ecek ini. Persinggahan sementara untuk yang datang dan pergi. Keramaian yang terlihat mata tapi pada hakikatnya ia kosong. Pikiran saya lebih liar lagi, memasuki ranah privasi orang-orang pelaku keramaian di bandara.

            Pilot. Aaah, ketika nama itu yang muncul pertama kali tanpa sadar saya tersenyum tipis. Saya pernah bermimpi punya suami pilot dengan gen kembar. Dulu, saya sangat terobsesi dengan anak kembar. Entah lusa.

            Peneliti pun pekerjaan yang dituntut bepergian kesan kemari seperti saya misalnya. Huuussh, kamu ini masih asisten peneliti. Terlalu ujub jikalau menamai diri sebagai peneliti. Bepergian kesana kemari. Pindah kota sana-sini.

            Perantau yang singgah untuk mengadu nasib. Terpaksa pergi sejauh-jauhnya untuk mendapat peruntungan lebih layak di lain pulau. Mungkin baginya, Jawa sudah tak seksi lagi. Terlalu banyak orang yang menjamahnya.

            Tiga pekerjaan yang memiliki satu kesamaan, yaitu membentuk jarak. Ada yang bilang jarak diciptakan untuk membentuk rindu. Saya terpaksa setuju dan tidak sadar mengangguk sambil mengubah cara duduk. Pekerjaan dengan resiko terpisah dari orang terkasih menurut saya sampai hari ini menjadi pekerjaan paling berat. Entah lusa.

            Kembali bersua menjadi hal yang paling dinantikan oleh pelaku keramaian di bandara. Menebas jarak untuk kembali menatap netra bukan menatap telepon pintar. Menebas jarak untuk kembali berbincang bukan hanya mendengar obrolan. Menebas jarak untuk menikmati tawa bukan menikmati wekawekaweka (baca : wkwkkw). Membayar rindu untuk kembali memeluk bukan pelukan virtual.

            Lamunan saya selesai sesaat setelah akhirnya saya sadar panggilan untuk penerbangan ke Jogja telah digaungkan. Saya kembali pulang. Meninggalkan jejak kaki dan juga jejak rindu untuk lagi-lagi membentuk jarak dengan Sulawesi. Para pembentuk jarak sekaligus penggubah rindu kembali melanglang buana menanti bersua dengan yang terkasih.

            Saya selalu senang mengudara di sore hari, transisi temaram dengan pekat. Menyuguhkan semburat senja yang elok. Biru langit yang membias kehijauan, jingga yang semakin merona, pun kelabu yang membayangi terbenamnya senja menjadi pengantar kepulangan saya.  Adios, Sulawesi!


Luwuk, 20 Agustus 2017

           

Selasa, 27 Juni 2017

Anak Lanang


Saya terlahir sebagai bungsu dari tiga bersaudara. Keluarga kami dulunya lengkap sebelum akhirnya Tuhan menunjukkan kasih dan cintaNya yang teramat besar kepada Bapak. Bapak tidak akan pernah lagi terjaga. Tidurnya sangat lelap, ia sangat tampan begitulah yang terakhir kali saya ingat. Sejak detik itu juga saya merasa keluarga kami tidak pernah utuh. Walau bapak sudah tidak ada, ia tetap membersamai kami. Kalimat semu yang hanya mencoba menenangkan saya paling tidak untuk beberapa bulan setelah beliau lelap.

Nyatanya, semua tidak akan pernah sama lagi. Tidak akan pernah ia membersamai kami lagi. Selebrasi-selebrasi tahunan harus kami sesap dengan kealpaan bapak. Pergantian tahun, hari ulangtahun, kelulusan, dan tentu Hari Raya Idul Fitri. Hari istimewa menjadi tak terlalu istimewa. Saya merasa tidak sopan berbahagia dan merayakan kemenangan tanpa ada sosok bapak di sisi. Ya, lagi-lagi siapa yang tahu kalau ternyata sebenarnya bapak ada di sini bersama kami. Tak apa tidurmu lebih nyaman ketimbang harus melihat carut marutnya bumi kita yang mulai tua ini, Pak.

Bicara tentang kepergian bapak, menjadi bakal untuk saya menulis malam ini. Tidak ditemani dengan udud pun kopi bak penulis-penulis mahsyur, saya hanya berbekal energi dari makan malam saya satu jam yang lalu. Pak, selepas pergimu kini imam kami berganti ke Anak Lanangmu. Anak Lanang yang dulu selalu kau tantang untuk bisa menggaet perempuan untuk dijadikan bribikan katamu. Anak lanangmu yang dulu lebih tertarik dengan play station dibengesi ketimbang perempuan. Anak lanangmu yang terlalu cepat masuk usia sekolah dibanding teman temannya yang lain. Anak lanang yang sama sekali tidak tahu mesin pun tentang pekerjaan rumah macam ngepel, ngumbahi, nyapu, lan nyetriko.

Bapak ingat tidak? Saat tahu anak lanangmu diterima di Sekolah Tinggi tanpa biaya dan dijamin kerja, bapak menyembelih seekor menthog sebagai wujud syukur terpenuhinya hajatmu. Anak lanangmu mulai berbenah, Pak. Ia mulai belajar bagaimana hidup di perantauan. Melakukan pekerjaan rumah yang dulu sangat jauh dari tangannya. Anak lanangmu sudah banyak berubah dari yang terakhir kali saya ingat,Pak. Kondisi jauh dari keluarga membuat anak lanangmu paham betul apa itu memupuk rindu pada keluarga. Satu hal yang belum pernah saya dapatkan sejauh ini.

Sore itu, untuk pertama kalinya saya melihat ada titik air mata yang menggenang di pelupuk mata anak lanangmu. Mata yang sama saat tahu kepulangannya dari tanah rantau di tahun 2011 harus berbarengan pula dengan lelapnya tidurmu. Saya sedih sekaligus takut tidak bisa menggantikan bapak untuk menjaga ibu dan kedua saudari saya. Begitu ujar anak lanangmu. Sebuah kalimat yang belum pernah terbesit di dalam pikiran saya justru muncul dari anak lanangmu itu, Pak. Tanpa dikomando pelupuk mata saya juga menggenang, bapak tentu paham betul anak ragilmu ini seperti apa. Walau terlihat paling sering cengengesan, atimu kuwi sing paling cilik, nduk. Aaah betapa mudah bagimu mebaca karakter tiap anak-anakmu termasuk saya.

Sekarang, anak ragilmu ini sudah nyaris selesai dengan kesibukan ala mahasiswa, Pak. Anak ragilmu juga nyaris selesai atau bahkan menyelesaikan apa yang belum pernah dimulai babagan asmara,Pak. Selepas lelapmu, selepas anak lanangmu berujar seperti itu, saya semakin tahu dan yakin. Hidup di dunia dengan sistem patriarki yang masih kental ditambah lagi tuntunan agama yang mengatakan laki-laki adalah pemimpin serta memiliki kewajiban menafkahi keluarga, saya semakin yakin untuk legowo. Bukan legowo karena perempuan tidak memiliki kewajiban mencari nafkah, tetapi legowo untuk melepas harapan-harapan saya kepada anak lanang yang lain. Anak lanang yang pastinya juga memiliki beban yang sama dengan anak lanangmu yang notabene adalah kakak laki-laki saya.

Bapak tahu, nggak? Betapa besar keinginan anak lanangmu itu untuk membahagiakan ibu dan juga dua orang saudarinya. Jungkir balik iya bekerja, merantau ke Tanah Borneo untuk lagi-lagi terpisahkan oleh keluarga. Hidup sederhana, makan seadanya, menyisihkan gajinya untuk bisa memenuhi kebutuhan operasional keluarga kita. Anak lanangmu ini juga yang memberi uang bulanan kepada anak ragilmu untuk keperluannya berulang kali mencetak tugas akhirnya. Anak lanangmu yang mati-matian mengabulkan beberapa mimpi ibu yang belum bisa terwujud selama ini. Betapa ibu (saya rasa kalau bapak masih ada, bapak pun sama seperti ibu) dengan bangga menyebut anak lanang di hadapan kawan-kawan dan sanak saudara. Apa yang ia lakukan sudah lebih dari cukup  untuk ukuran seorang kakak dan membuat saya bangga.

Itulah mengapa, saya rasa ini adalah waktu untuk anak-anak lanang membahagiakan kedua orangtua dan saudaranya bukan pasangannya. Saya tidak bilang, tidak penting untuk mencari pasangan. Ini hanya soal waktu dan prioritas. Kau tentu ingat, saya pernah menolak tawaranmu untuk membayar bill makan kita. Itu bukan karena saya sok mandiri, lebih dari itu. Saya merasa lebih baik uang itu kau gunakan untuk membahagiakan keluargamu dulu, jangan saya. Saya belum menjadi siapa-siapamu tetapi keluargamu mereka yang selalu ada di belakangmu. Saya pun tidak berani menjanjikan akan selalu ada disamping atau belakangmu. Barangkali keluarga tidak pernah menyebutkan janjinya, tapi mereka akan selalu menepatinya. Setelah kau selesai paling tidak telah mampu membahagiakan keluargamu, barulah saya. Saya memberimu waktu untuk keluargamu dan untuk menjadi family man yang saya kagumi.

Untukmu yang sedang menata hati, segerakanlah karena senyum orangtuamu lebih layak singgah di hatimu dibanding apapun di dunia ini, termasuk ia yang mengacaukan hatimu.