Sudah dari lama aku mempertanyakan, “Kenapa aku begitu menikmati musik lawas?”
Beberapa artikel menyebutkan hal
ini bisa dijelaskan dengan ilmu psikologi mere exposure effect. Kita itu
sudah terpapar secara nggak sadar. Apa yang kita dengar, lihat, selama kita
masih kecil (bisa jadi saat golden age bahkan). Kita merekam memori itu dengan
baik di dalam ingatan. Pas kecil, kita yang nggak tahu apa-apa, akan merekam
atau menyerap apapun di sekeliling kita. Pasti ingetlah, gimana curious-nya,
excited-nya kita pas kecil. Beranjak dewasa, kayaknya udah terlanjur capek
duluan untuk excited ya?Pengen jadi bocah lagi, biar energinya full.
Terpapar hal yang sama tapi
hasilnya bisa beda?
Apa yang bergema di rumah, lagu
apa yang diputer (tentu saja pilihan lagu Papa - Mama, pun lagu Kakek-Nenek)
sebetulnya kan sama-sama kami dengarkan ya (kami = aku dan kakak-kakakku). Cumaa..preferensinya
tetep berbeda. Kakak pertamaku lebih suka lagu upbeat dan cenderung lebih
dinamis mengikuti perkembangan musik barat kekinian. Khasanah lagu baru beliau
lebih bagus seperti Alan Walker, Billie Elish, dll. Sedangkan kakak keduaku, cenderung
berhenti di lagu-lagu Indonesia 2000an. Ia tidak terlalu banyak mendengarkan
musik dan tidak suka nonton konser. Mereka pun juga heran, kenapa selera
musikku cenderung lebih tua dibanding mereka.
Papa selalu memutar lagu The
Beatles.
Sebuah fakta baru yang belum lama
aku tahu. Ternyata ada benang merahnya, kenapa aku bisa begitu menyukai The
Beatles. Walau sebetulnya tidak sefanatik itu juga sih. Hal ini diperkuat saat
SMA, ada pelajaran Seni Musik dan kami diminta untuk meng-cover lagu-lagu The
Beatles. Seru!
Mama senang lagu sendu Indonesia
dan beberapa hits lagu barat.
Hati yang luka milik Betharia
Sonata menjadi yang paling aku ingat. Beberapa juga lagu Gombloh atau Tantowi
Yahya. Kalau lagu hits barat yah standar saja Bryan Adams, Rod Stewart, Air Supply.
Ada dua lagu yang terngiang, yaitu Knife dan Sad Movies. Waktu
masih kecil aku ya cuma mendengarkannya saja, beranjak dewasa ternyata lagu ini
emang sad.
Kakekku suka bernyanyi dan
suaranya indah.
Ingatanku bergerak mundur, emang
setiap ada acara keluarga seperti arisan ataupun halal bi halal tidak pernah lupa
mengundang organ tunggal/keyboard. Kakekku sangat suka bernyanyi, kebanyakan
lagu barat. What a wonderful world, My Way, The Greatest Love of All,
dan Storybook Children. Lagu itu sangat melekat, lengkap dengan
ingatanku terhadap suara beliau yang memang merdu. Pronunciation beliau
juga lebih dari bagus.
Menariknya, aku masih belum tau
darimana ketertarikanku pada Michael Learns To Rock. Aku mencoba mencari
jejaknya dari kaset, VCD/DVD yang sayangnya bajakan, tapi nggak ada. Bulan
lalu, aku sengaja menonton konser MLTR di Solo. Saat ijin ke mama, kukira beliau
akan marah karena tidak diajak. Eh, kok malah beliau bingung. Siapa MLTR?aku
putar beberapa lagunya, beliau semakin bingung. Ada beberapa lagu yang beliau
familiar, Sleeping Child dan That’s Why You Go Away. Masih
menjadi misteri dari siapa pertama kali aku dengar MLTR. Entahlah, rasanya
sangat familiar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar