Rabu, 04 Maret 2026

Menelusuri Cikal Bakal Ketertarikanku dengan Lagu-Lagu Lawas

Sudah dari lama aku mempertanyakan, “Kenapa aku begitu menikmati musik lawas?”

Beberapa artikel menyebutkan hal ini bisa dijelaskan dengan ilmu psikologi mere exposure effect. Kita itu sudah terpapar secara nggak sadar. Apa yang kita dengar, lihat, selama kita masih kecil (bisa jadi saat golden age bahkan). Kita merekam memori itu dengan baik di dalam ingatan. Pas kecil, kita yang nggak tahu apa-apa, akan merekam atau menyerap apapun di sekeliling kita. Pasti ingetlah, gimana curious-nya, excited-nya kita pas kecil. Beranjak dewasa, kayaknya udah terlanjur capek duluan untuk excited ya?Pengen jadi bocah lagi, biar energinya full.

Terpapar hal yang sama tapi hasilnya bisa beda?

Apa yang bergema di rumah, lagu apa yang diputer (tentu saja pilihan lagu Papa - Mama, pun lagu Kakek-Nenek) sebetulnya kan sama-sama kami dengarkan ya (kami = aku dan kakak-kakakku). Cumaa..preferensinya tetep berbeda. Kakak pertamaku lebih suka lagu upbeat dan cenderung lebih dinamis mengikuti perkembangan musik barat kekinian. Khasanah lagu baru beliau lebih bagus seperti Alan Walker, Billie Elish, dll. Sedangkan kakak keduaku, cenderung berhenti di lagu-lagu Indonesia 2000an. Ia tidak terlalu banyak mendengarkan musik dan tidak suka nonton konser. Mereka pun juga heran, kenapa selera musikku cenderung lebih tua dibanding mereka.

Papa selalu memutar lagu The Beatles.

Sebuah fakta baru yang belum lama aku tahu. Ternyata ada benang merahnya, kenapa aku bisa begitu menyukai The Beatles. Walau sebetulnya tidak sefanatik itu juga sih. Hal ini diperkuat saat SMA, ada pelajaran Seni Musik dan kami diminta untuk meng-cover lagu-lagu The Beatles. Seru!

Mama senang lagu sendu Indonesia dan beberapa hits lagu barat.

Hati yang luka milik Betharia Sonata menjadi yang paling aku ingat. Beberapa juga lagu Gombloh atau Tantowi Yahya. Kalau lagu hits barat yah standar saja Bryan Adams, Rod Stewart, Air Supply. Ada dua lagu yang terngiang, yaitu Knife dan Sad Movies. Waktu masih kecil aku ya cuma mendengarkannya saja, beranjak dewasa ternyata lagu ini emang sad.

Kakekku suka bernyanyi dan suaranya indah.

Ingatanku bergerak mundur, emang setiap ada acara keluarga seperti arisan ataupun halal bi halal tidak pernah lupa mengundang organ tunggal/keyboard. Kakekku sangat suka bernyanyi, kebanyakan lagu barat. What a wonderful world, My Way, The Greatest Love of All, dan Storybook Children. Lagu itu sangat melekat, lengkap dengan ingatanku terhadap suara beliau yang memang merdu. Pronunciation beliau juga lebih dari bagus.

Menariknya, aku masih belum tau darimana ketertarikanku pada Michael Learns To Rock. Aku mencoba mencari jejaknya dari kaset, VCD/DVD yang sayangnya bajakan, tapi nggak ada. Bulan lalu, aku sengaja menonton konser MLTR di Solo. Saat ijin ke mama, kukira beliau akan marah karena tidak diajak. Eh, kok malah beliau bingung. Siapa MLTR?aku putar beberapa lagunya, beliau semakin bingung. Ada beberapa lagu yang beliau familiar, Sleeping Child dan That’s Why You Go Away. Masih menjadi misteri dari siapa pertama kali aku dengar MLTR. Entahlah, rasanya sangat familiar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar