Saya terlahir sebagai bungsu dari tiga
bersaudara. Keluarga kami dulunya lengkap sebelum akhirnya Tuhan menunjukkan
kasih dan cintaNya yang teramat besar kepada Bapak. Bapak tidak akan pernah
lagi terjaga. Tidurnya sangat lelap, ia sangat tampan begitulah yang terakhir
kali saya ingat. Sejak detik itu juga saya merasa keluarga kami tidak pernah
utuh. Walau bapak sudah tidak ada, ia tetap membersamai kami. Kalimat semu yang
hanya mencoba menenangkan saya paling tidak untuk beberapa bulan setelah beliau
lelap.
Nyatanya, semua tidak akan pernah sama lagi.
Tidak akan pernah ia membersamai kami lagi. Selebrasi-selebrasi tahunan harus
kami sesap dengan kealpaan bapak. Pergantian tahun, hari ulangtahun, kelulusan,
dan tentu Hari Raya Idul Fitri. Hari istimewa menjadi tak terlalu istimewa. Saya
merasa tidak sopan berbahagia dan merayakan kemenangan tanpa ada sosok bapak di
sisi. Ya, lagi-lagi siapa yang tahu kalau ternyata sebenarnya bapak ada di sini
bersama kami. Tak apa tidurmu lebih nyaman ketimbang harus melihat carut
marutnya bumi kita yang mulai tua ini, Pak.
Bicara tentang kepergian bapak, menjadi
bakal untuk saya menulis malam ini. Tidak ditemani dengan udud pun kopi bak penulis-penulis mahsyur, saya hanya berbekal
energi dari makan malam saya satu jam yang lalu. Pak, selepas pergimu kini imam
kami berganti ke Anak Lanangmu. Anak Lanang
yang dulu selalu kau tantang untuk bisa menggaet perempuan untuk dijadikan bribikan katamu. Anak lanangmu yang dulu lebih tertarik dengan play station dibengesi ketimbang
perempuan. Anak lanangmu yang terlalu
cepat masuk usia sekolah dibanding teman temannya yang lain. Anak lanang yang sama sekali tidak tahu
mesin pun tentang pekerjaan rumah macam ngepel,
ngumbahi, nyapu, lan nyetriko.
Bapak ingat tidak? Saat tahu anak lanangmu diterima di Sekolah Tinggi
tanpa biaya dan dijamin kerja, bapak menyembelih seekor menthog sebagai wujud syukur terpenuhinya hajatmu. Anak lanangmu mulai berbenah, Pak. Ia
mulai belajar bagaimana hidup di perantauan. Melakukan pekerjaan rumah yang
dulu sangat jauh dari tangannya. Anak
lanangmu sudah banyak berubah dari yang terakhir kali saya ingat,Pak.
Kondisi jauh dari keluarga membuat anak
lanangmu paham betul apa itu memupuk rindu pada keluarga. Satu hal yang
belum pernah saya dapatkan sejauh ini.
Sore itu, untuk pertama kalinya saya melihat
ada titik air mata yang menggenang di pelupuk mata anak lanangmu. Mata yang sama saat tahu kepulangannya dari tanah
rantau di tahun 2011 harus berbarengan pula dengan lelapnya tidurmu. Saya sedih sekaligus takut tidak bisa
menggantikan bapak untuk menjaga ibu dan kedua saudari saya. Begitu ujar
anak lanangmu. Sebuah kalimat yang belum pernah terbesit di dalam pikiran saya
justru muncul dari anak lanangmu itu,
Pak. Tanpa dikomando pelupuk mata saya juga menggenang, bapak tentu paham betul
anak ragilmu ini seperti apa. Walau terlihat
paling sering cengengesan, atimu kuwi sing paling cilik, nduk. Aaah betapa
mudah bagimu mebaca karakter tiap anak-anakmu termasuk saya.
Sekarang, anak ragilmu ini sudah nyaris selesai dengan kesibukan ala
mahasiswa, Pak. Anak ragilmu juga
nyaris selesai atau bahkan menyelesaikan apa yang belum pernah dimulai babagan asmara,Pak. Selepas lelapmu,
selepas anak lanangmu berujar seperti
itu, saya semakin tahu dan yakin. Hidup di dunia dengan sistem patriarki yang
masih kental ditambah lagi tuntunan agama yang mengatakan laki-laki adalah
pemimpin serta memiliki kewajiban menafkahi keluarga, saya semakin yakin untuk
legowo. Bukan legowo karena perempuan tidak memiliki kewajiban mencari nafkah,
tetapi legowo untuk melepas harapan-harapan saya kepada anak lanang yang lain. Anak
lanang yang pastinya juga memiliki beban yang sama dengan anak lanangmu yang notabene adalah kakak laki-laki saya.
Bapak tahu, nggak? Betapa besar keinginan anak lanangmu itu untuk membahagiakan
ibu dan juga dua orang saudarinya. Jungkir balik iya bekerja, merantau ke Tanah
Borneo untuk lagi-lagi terpisahkan oleh keluarga. Hidup sederhana, makan
seadanya, menyisihkan gajinya untuk bisa memenuhi kebutuhan operasional
keluarga kita. Anak lanangmu ini juga
yang memberi uang bulanan kepada anak
ragilmu untuk keperluannya berulang kali mencetak tugas akhirnya. Anak lanangmu yang mati-matian
mengabulkan beberapa mimpi ibu yang belum bisa terwujud selama ini. Betapa ibu
(saya rasa kalau bapak masih ada, bapak pun sama seperti ibu) dengan bangga
menyebut anak lanang di hadapan
kawan-kawan dan sanak saudara. Apa yang ia lakukan sudah lebih dari cukup untuk ukuran seorang kakak dan membuat saya
bangga.
Itulah mengapa, saya rasa ini adalah waktu
untuk anak-anak lanang membahagiakan
kedua orangtua dan saudaranya bukan pasangannya. Saya tidak bilang, tidak
penting untuk mencari pasangan. Ini hanya soal waktu dan prioritas. Kau tentu
ingat, saya pernah menolak tawaranmu untuk membayar bill makan kita. Itu bukan karena saya sok mandiri, lebih dari itu.
Saya merasa lebih baik uang itu kau gunakan untuk membahagiakan keluargamu
dulu, jangan saya. Saya belum menjadi siapa-siapamu tetapi keluargamu mereka yang
selalu ada di belakangmu. Saya pun tidak berani menjanjikan akan selalu ada
disamping atau belakangmu. Barangkali keluarga tidak pernah menyebutkan
janjinya, tapi mereka akan selalu menepatinya. Setelah kau selesai paling tidak
telah mampu membahagiakan keluargamu, barulah saya. Saya memberimu waktu untuk keluargamu dan untuk menjadi family man yang saya kagumi.
Untukmu
yang sedang menata hati, segerakanlah karena senyum orangtuamu lebih layak
singgah di hatimu dibanding apapun di dunia ini, termasuk ia yang mengacaukan
hatimu.