Selasa, 27 Juni 2017

Anak Lanang


Saya terlahir sebagai bungsu dari tiga bersaudara. Keluarga kami dulunya lengkap sebelum akhirnya Tuhan menunjukkan kasih dan cintaNya yang teramat besar kepada Bapak. Bapak tidak akan pernah lagi terjaga. Tidurnya sangat lelap, ia sangat tampan begitulah yang terakhir kali saya ingat. Sejak detik itu juga saya merasa keluarga kami tidak pernah utuh. Walau bapak sudah tidak ada, ia tetap membersamai kami. Kalimat semu yang hanya mencoba menenangkan saya paling tidak untuk beberapa bulan setelah beliau lelap.

Nyatanya, semua tidak akan pernah sama lagi. Tidak akan pernah ia membersamai kami lagi. Selebrasi-selebrasi tahunan harus kami sesap dengan kealpaan bapak. Pergantian tahun, hari ulangtahun, kelulusan, dan tentu Hari Raya Idul Fitri. Hari istimewa menjadi tak terlalu istimewa. Saya merasa tidak sopan berbahagia dan merayakan kemenangan tanpa ada sosok bapak di sisi. Ya, lagi-lagi siapa yang tahu kalau ternyata sebenarnya bapak ada di sini bersama kami. Tak apa tidurmu lebih nyaman ketimbang harus melihat carut marutnya bumi kita yang mulai tua ini, Pak.

Bicara tentang kepergian bapak, menjadi bakal untuk saya menulis malam ini. Tidak ditemani dengan udud pun kopi bak penulis-penulis mahsyur, saya hanya berbekal energi dari makan malam saya satu jam yang lalu. Pak, selepas pergimu kini imam kami berganti ke Anak Lanangmu. Anak Lanang yang dulu selalu kau tantang untuk bisa menggaet perempuan untuk dijadikan bribikan katamu. Anak lanangmu yang dulu lebih tertarik dengan play station dibengesi ketimbang perempuan. Anak lanangmu yang terlalu cepat masuk usia sekolah dibanding teman temannya yang lain. Anak lanang yang sama sekali tidak tahu mesin pun tentang pekerjaan rumah macam ngepel, ngumbahi, nyapu, lan nyetriko.

Bapak ingat tidak? Saat tahu anak lanangmu diterima di Sekolah Tinggi tanpa biaya dan dijamin kerja, bapak menyembelih seekor menthog sebagai wujud syukur terpenuhinya hajatmu. Anak lanangmu mulai berbenah, Pak. Ia mulai belajar bagaimana hidup di perantauan. Melakukan pekerjaan rumah yang dulu sangat jauh dari tangannya. Anak lanangmu sudah banyak berubah dari yang terakhir kali saya ingat,Pak. Kondisi jauh dari keluarga membuat anak lanangmu paham betul apa itu memupuk rindu pada keluarga. Satu hal yang belum pernah saya dapatkan sejauh ini.

Sore itu, untuk pertama kalinya saya melihat ada titik air mata yang menggenang di pelupuk mata anak lanangmu. Mata yang sama saat tahu kepulangannya dari tanah rantau di tahun 2011 harus berbarengan pula dengan lelapnya tidurmu. Saya sedih sekaligus takut tidak bisa menggantikan bapak untuk menjaga ibu dan kedua saudari saya. Begitu ujar anak lanangmu. Sebuah kalimat yang belum pernah terbesit di dalam pikiran saya justru muncul dari anak lanangmu itu, Pak. Tanpa dikomando pelupuk mata saya juga menggenang, bapak tentu paham betul anak ragilmu ini seperti apa. Walau terlihat paling sering cengengesan, atimu kuwi sing paling cilik, nduk. Aaah betapa mudah bagimu mebaca karakter tiap anak-anakmu termasuk saya.

Sekarang, anak ragilmu ini sudah nyaris selesai dengan kesibukan ala mahasiswa, Pak. Anak ragilmu juga nyaris selesai atau bahkan menyelesaikan apa yang belum pernah dimulai babagan asmara,Pak. Selepas lelapmu, selepas anak lanangmu berujar seperti itu, saya semakin tahu dan yakin. Hidup di dunia dengan sistem patriarki yang masih kental ditambah lagi tuntunan agama yang mengatakan laki-laki adalah pemimpin serta memiliki kewajiban menafkahi keluarga, saya semakin yakin untuk legowo. Bukan legowo karena perempuan tidak memiliki kewajiban mencari nafkah, tetapi legowo untuk melepas harapan-harapan saya kepada anak lanang yang lain. Anak lanang yang pastinya juga memiliki beban yang sama dengan anak lanangmu yang notabene adalah kakak laki-laki saya.

Bapak tahu, nggak? Betapa besar keinginan anak lanangmu itu untuk membahagiakan ibu dan juga dua orang saudarinya. Jungkir balik iya bekerja, merantau ke Tanah Borneo untuk lagi-lagi terpisahkan oleh keluarga. Hidup sederhana, makan seadanya, menyisihkan gajinya untuk bisa memenuhi kebutuhan operasional keluarga kita. Anak lanangmu ini juga yang memberi uang bulanan kepada anak ragilmu untuk keperluannya berulang kali mencetak tugas akhirnya. Anak lanangmu yang mati-matian mengabulkan beberapa mimpi ibu yang belum bisa terwujud selama ini. Betapa ibu (saya rasa kalau bapak masih ada, bapak pun sama seperti ibu) dengan bangga menyebut anak lanang di hadapan kawan-kawan dan sanak saudara. Apa yang ia lakukan sudah lebih dari cukup  untuk ukuran seorang kakak dan membuat saya bangga.

Itulah mengapa, saya rasa ini adalah waktu untuk anak-anak lanang membahagiakan kedua orangtua dan saudaranya bukan pasangannya. Saya tidak bilang, tidak penting untuk mencari pasangan. Ini hanya soal waktu dan prioritas. Kau tentu ingat, saya pernah menolak tawaranmu untuk membayar bill makan kita. Itu bukan karena saya sok mandiri, lebih dari itu. Saya merasa lebih baik uang itu kau gunakan untuk membahagiakan keluargamu dulu, jangan saya. Saya belum menjadi siapa-siapamu tetapi keluargamu mereka yang selalu ada di belakangmu. Saya pun tidak berani menjanjikan akan selalu ada disamping atau belakangmu. Barangkali keluarga tidak pernah menyebutkan janjinya, tapi mereka akan selalu menepatinya. Setelah kau selesai paling tidak telah mampu membahagiakan keluargamu, barulah saya. Saya memberimu waktu untuk keluargamu dan untuk menjadi family man yang saya kagumi.

Untukmu yang sedang menata hati, segerakanlah karena senyum orangtuamu lebih layak singgah di hatimu dibanding apapun di dunia ini, termasuk ia yang mengacaukan hatimu.

Selasa, 20 Juni 2017

Berkemas


Dunia sudah tak lagi gusar dengan perpisahan

Bukankah Jon sendiri yang mengingatkan

Bahwa tak ada seorangpun yang siap menghadapi perpisahan

Tak ada yang kuasa menghindar atau memalingkan wajah

Sebuah sajak perpisahan yang ku tulis dari sebuah bayangan pertemuan

Lagi-lagi Jon lah yang mengingatkan

Bahwa pertemuan dan perpisahan adalah sejoli

Imajiku kembali membayang

Saat pertemuan kita yang tak istimewa

Justru harus berpisah dengan berbagai emosi yang kadung bergumul

Pontang panting aku mencoba menyusunnya

Agar aku mampu melepasmu dengan rasa yang tersusun rapi

Agar saat terakhir kali aku menatap netramu

Tak kau temui redup netraku atas pergimu

Kenapa dunia sudah terlalu akrab dengan perpisahan

Tapi aku masih saja menjadi yang membencinya

Biar aku mengenangmu dengan racikan rinduku sendiri

Biar pelupuk netraku mulai menggenang

Biar aku saja yang menikmati pergimu

Tak perlu ada janji Jon

Aku mulai trauma dengan janji yang selalu mengiringi perpisahan

Terbuai janji sekaligus terhunus karena perpisahan

Ijinkan aku mengenangmu dengan sebaik-baiknya cara

Tuhan sangat baik

Mempersilakan kita mengakhiri pertemuan ini dengan rasa

Terima kasih kepada semesta yang menjadi saksi

Saksi beragam pertemuan kita sengaja maupun tak sengaja

Tersimpan rapi dalam kotak

Kotak yang lagi lagi hanya perlu waktu untuk menjadi usang

Selamat menjalani dunia baru untukmu, Jon

Pun untukku.

Jumat, 02 Juni 2017

Masih Terlalu Prematur(?)


Persinggahan sementara untuk berlayar lebih jauh lagi. Telah ku tunaikan janji si bungsu kepada mereka yang menyayangiku. Kepada cinta pertamanya yang mengajari arti ketulusan dan kesetiaan. Kepada madrasah pertamanya yang memberinya pelajaran untuk menjadi perempuan mandiri. Kepada kedua kawan pertamanya di bumi yang tak pernah mengendurkan ikatan persaudaraan ini.

Beranjak pada sebuah kondisi yang ingin ku tunda. Sesuatu yang ingin jauh-jauh ku hindari sebab aku yang selalu merasa tak kunjung siap bertemu dengan kehidupan baru. Nyaliku masih seujung kuku untuk membayangkan akan jadi apa esok, akan bagaimana esok, akan seperti apa esok, dan akan akan yang lain. Agaknya wajar, untuk orang-orang seusiaku ketakutan memikirkan masa depan. Apalagi seseorang sepertiku dengan segala atribut yang melekat pada diriku sebagai sebuah takdir.

Ya takdir sebagai seorang bungsu dari tiga bersaudara. Seorang bungsu yang selama hidupnya tak pernah lepas dari kedua orang tua nya, kecuali terkait perpisahanku dengan cinta pertamanya di dunia enam tahun silam karena ajal. Si bungsu yang selalu diberi label manja oleh kebanyakan orang. Tapi, aku tak mau menjadi bungsu-bungsu seperti yang mereka gunjingkan. Pun aku ingin menjadi bungsu yang berbeda. Melangkah melewati garis normal untuk merasakan jauh dari rumah. Si bungsu berhasil menakhlukan 60 harinya jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan. Aku berhasil. Sebuah prestasi pertama untukku melewati lebaran pertama di tanah Sulawesi dengan embel-embel pengabdian.

Sungguh si bungsu perlu berbangga hati sekaligus tidak puas diri. Enam puluh hari masih terlalu singkat untuk dibandingkan dengan dunia yang tengah ku hindari. Sebuah dunia baru yang harus ku tatap pasca ku lepas baju hitam putihku. Bila dulu, seragam merah-putih berganti dengan biru putih, lantas biru-putih berganti abu-abu putih, menanggalkan seragam putih-abu-abu dengan kebebasan, dan kini label mahasiswa yang akan segera berganti dengan tanggung jawab baru. Aku masih terlalu prematur untuk dilepas ke dunia baru itu.

Kembali lagi, ketika beberapa orang seusiaku sangat bersemangat untuk melepaskan angannya ke angkasa. Aku justru enggan melakukannya. Bukan karena aku tak percaya diri atau tak lagi percaya kekuatan doa. Aku sungguh-sungguh tumbuh menjadi pribadi yang sangat mengagumi cara Tuhan memberiku kejutan. Bagaimana Tuhan memberikan aku, apa yang tak pernah ku pinta tetapi selalu tepat membuatku tersenyum. Mengikuti tiap kode-kode menuju sebuah kejutan yang tak pernah kusadari sebagai sebuah petunjuk kehidupan. Tuhan, salahkah bila aku masih menjadi si bungsu yang begitu mengagumi caraMu memberiku kejutan? Salahkah aku yang masih setia menantikan kejutan dariMu tanpa pernah mau menerka atau memintanya kepadaMu.

Sudah seharusnya aku memikirkan masa depanku, sudah saatnya aku merangkai atau mengajukan proposal kepada Tuhan untuk menjadi konsep kejutan dariNya. Entahlah, lagi-lagi aku masih terlalu prematur untuk memulai kebiasaan baru ini.