Minggu, 30 April 2017

Membenci yang Kau Puja


Manusia dan kejujuran adalah hal yang menggelitik

Kadang ia menyumpahi dusta

Padahal ia sendiri dekat dengan dusta

Manusia sering menghardik karena dibohongi

Padahal kepada dirinya sendiri ia pernah berdusta

Tapi mana pernah ia menghardik dirinya sendiri

            Hukuman terberat seorang manusia adalah

            Kebohongan pada dirinya sendiri

            Tak berani mengakui bahwa ia senang berdusta

            Ia lemparkan serapah kepada orang lain

            Demi menutupi dusta yang ia bangun sendiri

Membenci dusta padahal ia mendekatinya

Menghardik dusta padahal ia akrab dengannya

Menolak dusta padahal ia mencarinya

Membenci sesuatu yang sebenarnya ia puja





           

Jumat, 28 April 2017

Ikrar Seorang Kawan

Ada yang sebenarnya rusak, namun masih saja mengelak
Ada yang sebenarnya luka, tapi menjunjung tinggi bersama
Ada yang sebenarnya mendung, tapi terpaksa bersenandung
Duh,Gusti...
Betapa dunia ini penuh dengan gelimang rupa
Hamba tak kuasa menarik diri
Membedakan mana kawan mana lawan
Ikatan yang seharusnya kian kuat, terpaksa kalah oleh hasrat
Hasrat manusia dengan banyak rupa
Lagi-lagi hamba tertipu oleh rupa yang rupawan
Mengais harapan akan hubungan yang kekal
Bertekuk lutut pada seleksi alam
Tak selamanya kawan menjadi kawan
           Ada yang sebenarnya coba diperbaiki
           Padahal sama sekali tak memperbaiki
           Ada yang berusaha merendah
           Malah semakin direndahkan
           Duh, Gusti...
           Apa begini susahnya hidup di jaman sekarang
           Sukar bertahan dari seleksi perkawanan
           Apa begini tantangan jadi kawan
           Terlanjur terikat janji bertahan
           Biarlah hamba tunaikan ikrar pertemanan
           Selalu siap sedia saat Yang Mulai butuh
           Selalu siap sendiri saat hamba perlu

Jumat, 14 April 2017

Di Penghujung Dua Puluh Satu


Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Izinkan aku menjadi gadis kecilmu lagi. Gadis kecil yang selalu mengadu apapun kepadamu cinta pertamanya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Bukalah lebar-lebar lenganmu untuk memeluk gadis kecilmu yang semakin hari semakin merindu ragamu.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Senandungkan untaian doa dan harapan yang masih kau inginkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Biarkan aku rebah di pangkuanmu hanya sekadar mengusap titik air mata.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Relakan aku menangis sejadi-jadinya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Relakan aku bercerita tentangnya. Biarkan aku mengadu padamu tentang seseorang yang ingin kuperkenalkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Izinkan aku mengakui bahwa aku jatuh hati pada seseorang yang telah mematahkan hatiku berkali-kali.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Bukalah lebar-lebar telingamu saat ku bisikkan siapa namanya. Mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya ku menyebut namanya di hadapanmu.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Aku masih saja berandai-andai mungkin jikalau ragamu ada disini kau akan memberi pertanda. Agar aku tak jatuh hati pada orang yang salah.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Biarkan aku mengakui, banyak hal yang ada pada dirimu kutemukan di dirinya.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Tak perlu cemas, tak usah risau, dan hilangkan cemburumu. Ia tak lagi kuperjuangkan.

Pah, di penghujung dua puluh satu ku ini. Ku hapus namanya, namanya yang selalu kusebut setelah namamu.

Di awal dua puluh duaku, kirimkanlah doa terbaikmu untukku,Pah.