Jumat, 06 Maret 2026

Kota Bitung, Jogja-nya Sulawesi Utara

 

“Wah, dari Jogja ya. Orang Jogja pasti lembut-lembut, ramah-ramah.”

Sebuah kalimat template yang agaknya sudah puluhan kali melewati gendang telinga setiap kali memperkenalkan diri ke orang baru di wilayah Indonesia lainnya. Ingin hati mengamini, sebagai seorang yang memang lahir dan tumbuh di Jogja. Tentu sulit untuk menampik anggapan atau label yang terlanjur melekat ke orang-orang Jogja totok. Sedikit memberi beban juga, membentuk diri untuk lebih awas lan waspada dalam berucap. Pride, Lur! Sudah dipuji masa iya nggak menampilkan diri dengan persona tersebut. Tak perlu waktu lama, gestur dan jawaban template khas orang Jogja juga refleks saya berikan.

“Hehe, iya.” (tentu saja dengan senyuman dan sedikit gestur menganggukkan kepala)

Kali ini berbeda, saat berkunjung ke salah satu kota di ujung utara Pulau Sulawesi. Berada dan berbaur dengan masyarakat, mengamati setiap gerak-gerik kehidupan di kota ini, dan menikmati kuliner yang pedasnya bukan main. Ada pergumulan dan pergulatan batin yang cukup mengganggu, dan akhirnya bermuara pada satu kesimpulan.

“Kota Bitung agaknya bisa menjadi saingan berat Kota Jogja, bab Ramah dan Hangat.”

Kota Bitung, Kota Cakalang dan Industri

Terletak sekitar 43 kilometer dari Kota Manado, butuh sekitar satu jam perjalanan darat untuk sampai ke kota yang mahsyur sebagai Kota Cakalang. Kota Bitung memiliki kondisi geografis yang cukup unik, ia diapit oleh pesisir pantai dan perbukitan. Kota yang tidak terlalu besar, tapi memiliki beberapa pabrik besar. Salah satunya pabrik pengalengan ikan. Saat pertama kali berkeliling, nampak sebuah Tugu Cakalang sebagai bukti pengukuhan Kota Cakalang.

“Kota Bitung ini (dulu) terkenal dengan ikan cakalangnya. Tapi sekarang sudah agak berkurang. Kalau Ikan Tuna dan Ikan Tude masih banyak. Ikan Tuna yang besar-besar diekspor ke Jepang. Hasil laut masih melimpah.” Ujar Raymond, driver yang membawa kami dari Manado ke Bitung.

“Coba cek matahari di luar, Kak. Mau tinggal di sini 2 minggu, kan. Cek dulu lah, di Kota Bitung ini matahari satu orang satu.”

Ternyata betul, teriknya bukan main. Very hot potatoes, panase ngentang-ngentang. Perkenalan yang kelewat hangat.

Baru hari pertama, sudah terBitung-Bitung

Ya, saya akan singgah di kota ini kurang lebih dua minggu. Moda transportasi di Bitung terbilang cukup baik. Tidak sulit menemukan angkutan kota (angkot) tentu saja dengan musik full jedag jedug. Pun di beberapa titik keramaian, tukang ojek pangkalan selalu hadir menyapa dan siap mengantarkan sampai tujuan. Ojek online juga tersedia, hanya saja masih terbatas. Pilihan saya jatuh kepada, sewa motor kepada pemilik kos. Secara budget sudah barang pasti tidak boncos, dan lebih leluasa berkeliling kota.

Sialnya, kondisi motor tidak berbanding lurus dengan ekspektasi. Hal tersebut, menyulitkan saya untuk mengetahui indikator tangki bensin masih penuh atau kosong. Sialnya lagi, ternyata kosong plong. Motor mogok di saat senja mulai temaram alias surup. Badut! Baru hari pertama sudah sial. Menuntun motor yang bahkan footstepnya sudah mleyot, saya menyusuri gang berharap ada penjual bensin eceran. Baru beberapa meter, ada pemuda yang nampak iba. Ia sempat memberi saran untuk mengetuk warung di ujung jalan yang biasanya berjualan bensin.

“Kalau pom jauh, kak. Aih, jauh lagi kakak berjalan.” Terdengar nadanya kesal karena tidak bisa membantu lebih jauh, karena ia pun tak membawa kendaraan.

“Tidak apa, saya ke pom saja. Terima kasih.” kembali saya menuntun dan menyeberang ke jalan besar.

Baru beberapa meter, tiba-tiba ada seorang bapak berkaos biru berteriak (mungkin ini bukan berteriak, orang Jogja yang lembut ini mana paham)

“Kenapa?Habis minyak?”

Tanpa pikir panjang, ia langsung mendorong motor saya untuk mencari bensin terdekat. Saat di jalan kami sempat mengobrol singkat. Setibanya di penjual bensin, bapak tersebut tanpa pamit pergi. Saya yang kadung kagok, refleks berterima kasih dengan sedikit berteriak. Siapa sangka, di hari pertama ini saya menemukan wajah Kota Bitung yang ramah dan baik.

Senyum, Sapa, Maaf masih Lestari

Hal unik lainnya yang mudah dijumpai di Kota Bitung adalah masyarakatnya yang sering menyapa dan tersenyum. Entah karena memang saya terlihat bukan penduduk lokal atau memang kebiasaan baik ini masih terus dipertahankan. Saat berkeliling di gang sempit, saya berulang kali ditanya dan diarahkan agar tak terjebak gang buntu. Bila biasanya di kota lain, saya pasti ditatap dengan tatapan intimidatif penuh kekepoan. Berbeda dengan disini, mereka begitu hangat. Menariknya lagi, orang disini sering kali menggunakan kata maaf yang berulang-ulang sebagai tanda bentuk penyesalan yang mendalam. Saya yang orang Jogja malah jadi pekewuh dimintai maaf berulang-ulang.

Pak Jemi, ke Jepang Jalur Ombak

Salah seorang nelayan yang saya temui di dekat pesisir. Awalnya, saya mengobrol dengan istrinya. Lagi-lagi label ramah menjadi hal yang begitu melekat saat Pak Jemi tiba-tiba ikut nimbrung. Beliau bercerita banyak tentang kehidupan nelayan, hingga tersebutlah bahwa ia pernah ke Jepang jalur ombak. Terdengar menarik, Pak Jemi menceritakan kisah dramatis yang ia alami 20 tahun lalu. Ia dan seorang kawannya melaut seperti biasa, hanya saja setibanya di tengah lautan cuaca berubah buruk. Mereka memutuskan untuk kembali ke daratan tentu saja karena perahu yang digunakan tidak cukup kuat untuk diadu dengan ombak besar.

Saat sedang ke arah pulang, ada sebuah kapal berisi 6 orang Anak Buah Kapal yang terbalik. Pak Jemi langsung menyuruh 6 orang tersebut untuk naik ke perahu miliknya. Saat semua sudah berada di perahu, gelombang tinggi menerjang perahu milik Pak Jemi jauh ke tengah lautan. Mereka terombang-ambing tanpa logistik. Bahkan untuk bertahan hidup mereka meminum air kencing dan kayu-kayu perahu yang agak lunak. Berhari-hari kemudian, lewatlah sebuah kapal besar dan melihat perahu Pak Jemi. Mereka berdelapan kemudian hanya berteriak, ”Indonesia, Indonesia”. Akhirnya mereka mendapat pertolongan dari kapal Northwest Sanderling milik Australia yang hendak ke Jepang. Pak Jemi dan ketujuh orang lainnya dibawa ke Jepang, dan dipulangkan kembali oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia-Osaka. Pak Jemi dan kawannya mendapatkan piagam penghargaan atas jasanya menyelamatkan Kapten dan Anak Buah Kapal Barang Samsinar.

Mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Sebuah kisah dramatis yang lagi-lagi memperkuat asumsi saya, beliau adalah gambaran kecil dari wajah Kota Bitung yang ramah dan baik.

Bitunglah Sandaran Hati..

Cukup beruntung. Di penghujung perjalanan saya di Kota Bitung, ternyata bertepatan dengan adanya Kapal Pesiar yang bersandar di Pelabuhan Bitung. Momen ini ternyata dipersiapkan cukup matang oleh Pemerintah Kota Bitung. Seluruh kepala desa dan petinggi pemerintah kota diwajibkan menyambut penumpang kapal pesiar. Kapal Arcadia menjadi kapal pertama yang singgah di Bitung. Berisi ratusan turis mancanegara dari Asia hingga Eropa. Selain saya, antusiasme dirasakan juga oleh seluruh warga Bitung. Semua berduyun-duyun ke Pelabuhan untuk melihat kegagahan kapal pesiar yang besar bukan main. Nampak anak-anak sekolah turut meramaikan pelabuhan, mungkin merekapun diberi tugas oleh gurunya untuk mewawancarai turis kapal tersebut. Kapal Arcadia singgah selama 10 jam di Bitung, momen ini membuat suasana kota lebih semarak. Tentunya pendapatan asli daerah juga meningkat. Lagi-lagi saya melihat wajah ramah warga Bitung yang menyapa dengan hangat turis-turis di pelabuhan. Apa ini salah satu faktor yang membentuk warga Bitung terbiasa ramah dan hangat kepada siapa saja yang singgah.

Apa itu mayoritas minoritas?

Kota Bitung didiami oleh berbagai suku mulai dari Suku Minahasa, Gorontalo, Sangir, Jawa, Batak, dll. Mayoritas berkeyakinan Kristen, ada juga Katolik, beberapa juga Islam, sedikit Hindu, Konghucu dan Budha. Sangat mudah menjumpai bangunan gereja berbagai aliran di Bitung dan kalau soal kuliner banyak penjual olahan babi disini. Walau bisa dibilang miniatur Indonesia, masyarakat Bitung sudah terbiasa hidup berdampingan di tengah keberagaman. Saling menghargai adalah harga mati.

“Disini kami sudah langsung paham, misal ada hajatan/pesta akan memisahkan makanan untuk warga muslim, mana yang pakai babi. Setiap lebaran, kami Pemuda Kristen akan menjaga di area sholat Idul Fitri. Kami diajak makan ketupat juga. Begitupun saat Natal, remaja masjid akan bergantian berjaga di gereja.” Ujar Edward, salah satu tokoh pemuda di Kota Bitung.

“Tahun lalu, sempat ada kerusuhan antar ormas. Sebetulnya pemberitaan yang beredar banyak yang diplintir oknum tertentu. Kami disini aslinya damai berdampingan, tetapi ada yang sepertinya menggoreng isu ini. Ingin memecah belah persatuan. Bahkan saat kerusuhan terjadi, rumah kami ini menampung dan menyelamatkan massa yang beragama Islam. Ada mungkin belasan orang masuk ke sini. Semua berlindung di rumah kami, padahal kami Kristen. Hahaha” kenang Yulianes yang begitu bersemangat bercerita.

Pertemuan saya dengan orang-orang di Bitung memantapkan hati saya untuk lagi-lagi menobatkan Kota Bitung sebagai saingan berat Kota Jogja bab ramah dan hangat. Kala itu, saya yang minoritas tak sedikitpun merasa terintimidasi ataupun powerless. Mereka dengan hangat memberi ruang untuk berdiskusi, ngobrol wetan-kulon, belajar banyak hal termasuk kehangatan dalam keberagaman. Perspektif ini tentu berbeda karena di Jogja, saya adalah mayoritas ada suasana lain yang Bitung perlihatkan. Bahwa ini bukan soal mayoritas atau minoritas ini soal menjadi humanis.

“Lhoh kok melamun, dimakan pisang gorengnya jangan lupa dicocol sambal roa.”

 

Rabu, 04 Maret 2026

Menelusuri Cikal Bakal Ketertarikanku dengan Lagu-Lagu Lawas

Sudah dari lama aku mempertanyakan, “Kenapa aku begitu menikmati musik lawas?”

Beberapa artikel menyebutkan hal ini bisa dijelaskan dengan ilmu psikologi mere exposure effect. Kita itu sudah terpapar secara nggak sadar. Apa yang kita dengar, lihat, selama kita masih kecil (bisa jadi saat golden age bahkan). Kita merekam memori itu dengan baik di dalam ingatan. Pas kecil, kita yang nggak tahu apa-apa, akan merekam atau menyerap apapun di sekeliling kita. Pasti ingetlah, gimana curious-nya, excited-nya kita pas kecil. Beranjak dewasa, kayaknya udah terlanjur capek duluan untuk excited ya?Pengen jadi bocah lagi, biar energinya full.

Terpapar hal yang sama tapi hasilnya bisa beda?

Apa yang bergema di rumah, lagu apa yang diputer (tentu saja pilihan lagu Papa - Mama, pun lagu Kakek-Nenek) sebetulnya kan sama-sama kami dengarkan ya (kami = aku dan kakak-kakakku). Cumaa..preferensinya tetep berbeda. Kakak pertamaku lebih suka lagu upbeat dan cenderung lebih dinamis mengikuti perkembangan musik barat kekinian. Khasanah lagu baru beliau lebih bagus seperti Alan Walker, Billie Elish, dll. Sedangkan kakak keduaku, cenderung berhenti di lagu-lagu Indonesia 2000an. Ia tidak terlalu banyak mendengarkan musik dan tidak suka nonton konser. Mereka pun juga heran, kenapa selera musikku cenderung lebih tua dibanding mereka.

Papa selalu memutar lagu The Beatles.

Sebuah fakta baru yang belum lama aku tahu. Ternyata ada benang merahnya, kenapa aku bisa begitu menyukai The Beatles. Walau sebetulnya tidak sefanatik itu juga sih. Hal ini diperkuat saat SMA, ada pelajaran Seni Musik dan kami diminta untuk meng-cover lagu-lagu The Beatles. Seru!

Mama senang lagu sendu Indonesia dan beberapa hits lagu barat.

Hati yang luka milik Betharia Sonata menjadi yang paling aku ingat. Beberapa juga lagu Gombloh atau Tantowi Yahya. Kalau lagu hits barat yah standar saja Bryan Adams, Rod Stewart, Air Supply. Ada dua lagu yang terngiang, yaitu Knife dan Sad Movies. Waktu masih kecil aku ya cuma mendengarkannya saja, beranjak dewasa ternyata lagu ini emang sad.

Kakekku suka bernyanyi dan suaranya indah.

Ingatanku bergerak mundur, emang setiap ada acara keluarga seperti arisan ataupun halal bi halal tidak pernah lupa mengundang organ tunggal/keyboard. Kakekku sangat suka bernyanyi, kebanyakan lagu barat. What a wonderful world, My Way, The Greatest Love of All, dan Storybook Children. Lagu itu sangat melekat, lengkap dengan ingatanku terhadap suara beliau yang memang merdu. Pronunciation beliau juga lebih dari bagus.

Menariknya, aku masih belum tau darimana ketertarikanku pada Michael Learns To Rock. Aku mencoba mencari jejaknya dari kaset, VCD/DVD yang sayangnya bajakan, tapi nggak ada. Bulan lalu, aku sengaja menonton konser MLTR di Solo. Saat ijin ke mama, kukira beliau akan marah karena tidak diajak. Eh, kok malah beliau bingung. Siapa MLTR?aku putar beberapa lagunya, beliau semakin bingung. Ada beberapa lagu yang beliau familiar, Sleeping Child dan That’s Why You Go Away. Masih menjadi misteri dari siapa pertama kali aku dengar MLTR. Entahlah, rasanya sangat familiar.