Kalau saja kita punya waktu lebih
untuk sekadar merenung, mungkin beginilah jawabannya,
Semua kisah tentang apapun yang
pernah saya lalui nampaknya terlalu rumit dan panjang untuk kembali
diceritakan. Perenungan menjadi hal yang asyik untuk dilakukan, yah sekali-kali
lah sebagai media introspeksi diri. Barangkali hal yang tidak kita mengerti
dulu sudah menemukan titik terang seiring dengan bertambah dewasanya pemikiran
kita. Barangkali karena kita semakin punya pengalaman yang ternyata jawaban
dari gelisah kita di masa lampau. Atau..atau baru bisa kita selami dan akhirnya
berujung pada sebuah penyesalan?
Entah muaranya pada apa,
perenungan menjadi kegiatan yang akhir-akhir ini saya lakukan. Bukan karena
terlalu menarik tapi karena saya kesulitan mencari-cari kesibukan lain. Hidup yang
sudah cukup lama saya jalani memberikan stimulus-stimulus untuk saya kembali
bernostalgia.
Dulu, entah kapan tepatnya salah
seorang teman mencoba menerawang diri saya.
“Kalo kamu itu orangnya ngalir,
mengikuti arus akan kemana. Santaaaai banget sama masa depan. Kayak nggak punya mimpi atau tujuan. Ya
yang ada dijalani, nggak muluk dan nggak neko-neko. Besok bakal jadi apa ya
gimana ntar.”
Saya kok setuju dengan hasil terawangan
abal-abal teman saya satu itu. Hadeh, walaupun agak syok juga ketika dikatain
sebagai seorang yang nggak punya tujuan yang jelas. Bukan bemaksud mengamini
tapi memang sulit bagi saya mengelak.
Menjadi penikmat bagaimana takdir
Tuhan bekerja. Mungkin itu adalah kalimat keren yang terus saya bangun sampai
saat ini. hingga akhirnya membuat saya lagi-lagi berkata, “Astaga, lucu tenan
uripku!”
Mungkin ada benarnya menjalani
hidup itu harus sederhana, jangan berlebihan. Membenci orang sewajarnya pun
mencintai orang juga sewajarnya. Kalau minum obat, harus sesuai petunjuk dokter.
Kalau perasaan benci dan cinta, harus sesuai petunjuk Tuhan. Intinya sama,
dikonsumsi seperlunya. Saya barangkali menjadi yang paling terbahak-bahak
menyelami kehidupan saya yang begitu koc(L)ak. Begitu mudahnya Tuhan, memutar
balikkan hidup saya dengan apa yang pernah saya lakukan dulu. Kita manusia, makhluk
yang di dalam tulisan saya sebelumnya saya namai sebagai makhluk yang sering
lena. Pun kali ini saya lagi-lagi mengamini, manusia mudah berubah. Perubahan
adalah sebuah kepastian. Sudah sering lena, sering berubah pula.
Saya dulu membenci seseorang yang
ternyata mengambil apa yang saya kagumi kala itu. Bagi saya, ia jahat. Merampas
apa yang tengah saya kagumi. Membuyarkan semua harapan yang baru saja mulai
saya susun. Ibarat lagi menyusun balok-balok UNO, diambil satu batang dan
ambyar semua. Rontok seperti ketombe. Kala itu, rasanya belum ikhlas. Orang itu
mengambil apa yang baru saja saya gemari. No excuse for you.
Lagi-lagi waktu menyembuhkan. Lagi-lagi
Tuhan bermain-main dengan hidup saya. Tuhan kirimkan karunia yang amat besar.
sebuah karunia yang tidak pernah berani saya impikan. Karena memang kata teman
saya, saya nggak pernah punya mimpi.
Karunia yang selama ini banyak diimpikan oleh kawan-kawan , mendarat sukses dalam
genggaman tangan saya. Mungkin sekarang tertebak, siapa yang menjadi ‘hero’
dalam cerita saya kali ini. Ya, orang yang dulu saya benci karena mengambil apa
yang saya kagumi. Bisa bayangkan bagaimana perasaan benci saya yang seketika
rontok seperti ketombe. Ternyata benar,“Ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kamu,
Ia tengah mempersiapkan gantinya yang lebih baik.” Kadang kita manusia belum
bisa mengerti sama kalimat itu, ketika belum dikasih lihat gantinya. Bahwa
benar, manusia itu berubah. Orang yang kamu benci bisa jadi pembuka kehidupanmu
selanjutnya.
Poin yang mau saya tekankan ya
itu tadi masa nggak bisa menyimpulkan sendiri sih.
Sebagai penikmat bagaimana takdir
Tuhan bekerja, saya wajib tertawa karena hidup saya yang lucu ini. Kadang suka
takut membayangkan apa yang akan terjadi besok. Nggak tau lusa.
Yogyakarta, 12 Februari 2018.