Selasa, 20 Februari 2018

Tuhan, kali ini saya menang.


Tuhan. Kali ini saya menang.

Ini menjadi waktu yang paling saya benci sekaligus saya nantikan
Bukan karena rasa tetapi lebih kepada menantang diri sendiri
Bukan tanpa resah tetapi lebih kepada menata hati
Ya, dan harus saya akui kali ini saya menang
Ingatkah Engkau Tuhan, apa yang saya ucap beberapa bulan lalu?
Meski terdengar amat lirih bahkan nyaris berbisik
Saya ucapkan dengan setenang mungkin
Agar tak terlalu kacau kata-kata yang saya pilih
Agar mudah bagi Mu mengabulkannya
Untaian doa agar tak lagi saya temui kalut
Meski sempat meragu dan kembali terbata-bata berharap
Saya kembali yakin
Berbekal letihnya menjadi yang tak terlihat
Membuktikan kali ini saya menang.
Tidak ada luka
Tidak ada titik air mata
Tidak saya temui gelisah pun amarah
Mari kita rayakan kemenangan ini dengan bersulang
Atas nama diri yang mulai melangkah walau sempat tertatih
Atas nama diri yang kembali bernostalgia tetapi tidak lupa
Atas nama diri yang sudah merdeka dari perasaannya yang lara

Yogyakarta, 20 Februari 2018

Senin, 12 Februari 2018

Astaga, lucu tenan uripku!


Kalau saja kita punya waktu lebih untuk sekadar merenung, mungkin beginilah jawabannya,

Semua kisah tentang apapun yang pernah saya lalui nampaknya terlalu rumit dan panjang untuk kembali diceritakan. Perenungan menjadi hal yang asyik untuk dilakukan, yah sekali-kali lah sebagai media introspeksi diri. Barangkali hal yang tidak kita mengerti dulu sudah menemukan titik terang seiring dengan bertambah dewasanya pemikiran kita. Barangkali karena kita semakin punya pengalaman yang ternyata jawaban dari gelisah kita di masa lampau. Atau..atau baru bisa kita selami dan akhirnya berujung pada sebuah penyesalan?

Entah muaranya pada apa, perenungan menjadi kegiatan yang akhir-akhir ini saya lakukan. Bukan karena terlalu menarik tapi karena saya kesulitan mencari-cari kesibukan lain. Hidup yang sudah cukup lama saya jalani memberikan stimulus-stimulus untuk saya kembali bernostalgia.

Dulu, entah kapan tepatnya salah seorang teman mencoba menerawang diri saya.

“Kalo kamu itu orangnya ngalir, mengikuti arus akan kemana. Santaaaai banget sama masa depan. Kayak nggak punya mimpi atau tujuan. Ya yang ada dijalani, nggak muluk dan nggak neko-neko. Besok bakal jadi apa ya gimana ntar.”

Saya kok setuju dengan hasil terawangan abal-abal teman saya satu itu. Hadeh, walaupun agak syok juga ketika dikatain sebagai seorang yang nggak punya tujuan yang jelas. Bukan bemaksud mengamini tapi memang sulit bagi saya mengelak.

Menjadi penikmat bagaimana takdir Tuhan bekerja. Mungkin itu adalah kalimat keren yang terus saya bangun sampai saat ini. hingga akhirnya membuat saya lagi-lagi berkata, “Astaga, lucu tenan uripku!”

Mungkin ada benarnya menjalani hidup itu harus sederhana, jangan berlebihan. Membenci orang sewajarnya pun mencintai orang juga sewajarnya. Kalau minum obat, harus sesuai petunjuk dokter. Kalau perasaan benci dan cinta, harus sesuai petunjuk Tuhan. Intinya sama, dikonsumsi seperlunya. Saya barangkali menjadi yang paling terbahak-bahak menyelami kehidupan saya yang begitu koc(L)ak. Begitu mudahnya Tuhan, memutar balikkan hidup saya dengan apa yang pernah saya lakukan dulu. Kita manusia, makhluk yang di dalam tulisan saya sebelumnya saya namai sebagai makhluk yang sering lena. Pun kali ini saya lagi-lagi mengamini, manusia mudah berubah. Perubahan adalah sebuah kepastian. Sudah sering lena, sering berubah pula.

Saya dulu membenci seseorang yang ternyata mengambil apa yang saya kagumi kala itu. Bagi saya, ia jahat. Merampas apa yang tengah saya kagumi. Membuyarkan semua harapan yang baru saja mulai saya susun. Ibarat lagi menyusun balok-balok UNO, diambil satu batang dan ambyar semua. Rontok seperti ketombe. Kala itu, rasanya belum ikhlas. Orang itu mengambil apa yang baru saja saya gemari. No excuse for you.

Lagi-lagi waktu menyembuhkan. Lagi-lagi Tuhan bermain-main dengan hidup saya. Tuhan kirimkan karunia yang amat besar. sebuah karunia yang tidak pernah berani saya impikan. Karena memang kata teman saya, saya nggak pernah punya mimpi. Karunia yang selama ini banyak diimpikan oleh kawan-kawan , mendarat sukses dalam genggaman tangan saya. Mungkin sekarang tertebak, siapa yang menjadi ‘hero’ dalam cerita saya kali ini. Ya, orang yang dulu saya benci karena mengambil apa yang saya kagumi. Bisa bayangkan bagaimana perasaan benci saya yang seketika rontok seperti ketombe. Ternyata benar,“Ketika Tuhan mengambil sesuatu dari kamu, Ia tengah mempersiapkan gantinya yang lebih baik.” Kadang kita manusia belum bisa mengerti sama kalimat itu, ketika belum dikasih lihat gantinya. Bahwa benar, manusia itu berubah. Orang yang kamu benci bisa jadi pembuka kehidupanmu selanjutnya.

Poin yang mau saya tekankan ya itu tadi masa nggak bisa menyimpulkan sendiri sih.

Sebagai penikmat bagaimana takdir Tuhan bekerja, saya wajib tertawa karena hidup saya yang lucu ini. Kadang suka takut membayangkan apa yang akan terjadi besok. Nggak tau lusa.



 Yogyakarta, 12 Februari 2018.