Saya
perempuan. Saya muslim. Saya tidak punya kepentingan politik terhadap fraksi parpol
tertentu.
Belakangan,
isu keberagaman dan toleransi menjadi sangat seksi sekaligus sensitif
digunjingkan. Ya, kata salah seorang teman saya hidup itu adalah soal dua
pilihan, digunjingkan atau menggunjing. Sama halnya dengan Para Pujangga yang
tak henti menyuarakan bahwa setiap cinta diciptakan berpasang-pasangan. Sewaktu
saya SMA pun, telinga saya ini sudah sering mendengar kata keberagaman dalam mata
pelajaran PKn ataupun Sosiologi. Lagi-lagi, semua hal diciptakan berpasangan. Keberagaman
pun dituntut untuk memilih pasangannya, ia pun memilih toleransi sebagai
pasangannya. Semenjak, sepasang kekasih ini sedang asyik diperbincangkan dan justru
beranakkan perseteruan saya menjadi takut.
Setiap
orang membela haknya, menuntut haknya untuk dipenuhi, berlomba-lomba merasa
paling benar merasa paling menderita karena haknya belum terpenuhi dan mengaku
haknya diserobot orang lain. Mereka lupa, mereka lupa keberagaman telah memilih
toleransi sebagai penyeimbangnya.
Ada
yang mencoba menjadi orang ketiga dalam hubungan keberagaman dan toleransi yang
sebelumnya harmonis. Ia adalah kebencian. Kebencian menjelma bak bara api yang
siap membumi hanguskan keharmonisan mereka.
Di
awal saya mengatakan melihat dunia saat ini membuat saya takut, keberagaman dan
juga toleransi yang kalau kata anak muda jaman sekarang disebut sebagai relationship
goals atau panutan justru tengah mengalami krisis kepercayaan. Mereka tengah
cekcok, hubungan yang terjalin harmonis mulai kisruh karena datangnya kebencian
dalam mahligai mereka.
Seolah-olah
tak pernah ada kecocokan antara keberagaman dengan toleransi. Seolah-olah
mereka ini tidak pernah mampu disatukan. Seolah-olah menyatukan mereka adalah
suatu ketidakmungkinan.
Banyak
yang tak suka hubungan mereka. Mungkin iri atau aah saya pun tak tahu lagi kata
apa yang cocok selain iri. Mereka tak suka warna yang dimiliki keberagaman,
mereka kesal dengan indahnya toleransi. Ada yang bahagia melihat mereka
berpisah. Ada yang tersenyum puas atas usaha yang telah ia lakukan, menyelipkan
kebencian di antara keberagaman dan toleransi.
Saya
ini hanya perempuan 21 tahun yang belum menikah, mana saya paham tentang
bab-bab masalah rumah tangga seperti ini. Mana saya tahu, kepentingan siapa
yang diuntungkan dari memisahkan dua sejoli yang bernama keberagaman dan toleransi.
Saya hanya bingung, saking bingungnya dengan ketidak tahuan ini saya menjadi
kesal.
Ada
apa dengan masyarakat kita saat ini, saya tidak mau kami ini lah yang menjadi
otak dari hancurnya mahligai keberagaman dan toleransi. Mengelu-elukan diri
sebagai yang paling benar seolah tak turut andil dalam chaosnya dunia kita saat ini. Mengatasnamakan agama sebagai tameng.
Agama mana pun tak pernah menghendaki perceraian dan tak pernah mengajarkan
kebencian.
Saya
yang masih atau telah berusia 21 tahun tentu pernah memimpikan sebuah rumah
tangga. Wajar nampaknya, rumah tangga menjadi salah satu yang sedang kami
gambarkan dalam kanvas imajinasi. Menikah, membangun rumah tangga, memperkokoh
komitmen, dan juga punya anak. Bisa kalian bayangkan, betapa kondisi hilangnya
toleransi dan juga keberagaman saat ini membuat saya pribadi menjadi lebih
takut. Bagaimana mengajarkan nilai nilai keberagaman dan toleransi yang saat
ini saja mulai tidak akur.
Kegelisahan
seseorang yang nantinya menjadi seorang istri dan juga ibu. Seorang ibu yang
banyak digadang-gadang sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tanggung jawab
yang luar biasa untuk merayu agar anak anak kami kelak percaya keberagaman dan
toleransi adalah hal yang masih ada. Saya tak akan mengajarkan, bahwa berbeda
adalah hal yang tabu. Saya sedih, membaca cerita salah seorang anak kelas dua
SD, yang dijauhi dan disebut kafir oleh teman sekelasnya karena ia bukan muslim. Saya berjanji tidak akan membiarkan kalimat menyakitkan itu terlontar dari mulut anak saya kelak. Saya dan calon anak saya bukan Tuhan yang berhak menghakimi orang lain sebagai
kafir. Lagi-lagi tulisan ini dibuat oleh perempuan 21 tahun yang sangat bisa
salah karena kurangnya pemahaman. Tulisan ini murni dari pikiran dan
kegelisahan saya yang mungkin dirasakan oleh kalian yang membaca atau justru
menjadi tulisan sampah menurut anda. Saya berdoa agar keberagaman dan toleransi masih bisa bertahan dan berjuang dari goncangan ini. Setiap orang memiliki logikanya
masing-masing.
“Memisahkan
Keberagaman dan Toleransi atas dasar agama, adalah hal paling salah yang tidak
mampu diterima oleh logika berpikir saya.”