Jumat, 01 November 2013

Menyelinap


Hai kamu, kau datang tanpa ragu
Hadirmu terasa begitu nyata wahai pencuri pandangku
Senyummu seolah terasa hangat
Betapa rasanya sangat bersalah membiarkanku larut
 Terbuai menikmati hadirmu pada malam itu
Andai saja kau tahu betapa untuk melupakanmu
Aku perlu banyak kekuatan
Kekuatan untuk menahan rasa sakit
Sakit ketika harus menolak maunya hati ini
                Hai kamu, sang penjaga tidurku
                Kau datang dengan leluasa
                Mengisi singkatnya malam itu
                Seolah kedatanganmu kuinginkan
                Seolah kepergianmu tak membawa luka
                Hadirnya ragamu membuatku kembali berpikir
                Mampukah aku benar-benar melepasmu (?)

Mungkin sajak tadi adalah salah satu cara untuk mengungkapkan betapa sakitnya hati ini. Bukan sakit sebenarnya, aku hanya tak ingin merasakan lagi rasa itu. Rasa yang terlambat terdeteksi dan enggan untuk ku akui. Kamu menarik, menarik pikiranku untuk terus mengikuti kemana hatiku berlari. Ketika pada garis akhir ku temui sosokmu yang mungkin bagi oranglain tak istimewa. Aku muak ketika harus mengakui ini. Ada hal yang kutemukan dari dirimu yang pernah kutemukan dari dirinya dulu. Sial ! aku kalah untuk tidak menaruhmu di hatiku. Aku benci ketika kau harus datang di saat hati ini mulai tenang. Dimana sebelumnya hati ini gelisah ketika tak melihatmu. Dimana hati ini berantakan melihatmu hadir. Mengapa malam itu kau datang? Tak sadarkah kau hati ini tersiksa mengenangmu, meraung kesakitan akan bayangmu. Jangan lagi kau hampiri bunga tidurku wahai pencuri hati, berjanjilah..