“Terus kalo besok tiba-tiba kita bosen sama suami
kita,gimana?”
Pertanyaanku yang terdengar polos
nan bodoh sontak saja menjadi bahan cacian teman temanku yang kala itu aku
masih ingat betul siapa saja mereka. Satu bantahan yang paling kuingat adalah
dari Kenia. Ya, kenia yang sudah lama (belum) menemukan tambatan hatinya juga
tidak menyetujui pertanyaan yang kulontarkan tadi.
“Ya nggak mungkinlah kita bosen, kan udah jadi suami.”
Aku yang kala itu masih labil dan
mungkin juga takut jika aku terus mempertahankan pertanyaanku usiaku takkan
lama karena akan dikeroyok perempuan-perempuan yang haus belaian itu, aku
mencoba mengiyakan tentangan dari mereka tentang bosan dalam hubungan, yang
menurut mereka tidak bisa berlaku ketika kita sudah dalam ikatan pernikahan.
Seiring dengan bertambah panjang
rambutku,seragam yang mulai sempit, lutut kusam yang mulai menyempil dari bawah
rok abu-abu, semakin banyak pula pertanyaan yang ada di otakku tentang
kebosanan dalam suatu hubungan. Aku bingung, mengingat lirik dari Ebiet G.Ade
yang menyuruhku bertanya pada rumput yang bergoyang. Aku takut kalausaja rumput
juga menertawakan pertanyaanku sama seperti cacian dari temanku beberapa waktu
silam. Aku merasa mungkin memang harus kucari sendiri jawabannya bukan dari guru,teman,kakak,orangtua,
bahkan rumput.
Aku semakin yakin pertanyaanku
dulu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepatutnya ditertawakan. Kalau memang
kebosanan dalam hubungan itu tidak sah di dalam pernikahan lalu buat apa ada
perceraian?Mengapa di setiap pagi aku selalu menyaksikan sebuah acara televisi
yang dengan gamblang dan bangganya menyajikan kisah tragis dari sebuah
perceraian. Kebosanan dalam sebuah hubungan menurutku adalah hal yang wajar,
bisa dibilang sebagai sebuah fase yang mau tidak mau harus dirasakan setiap
pasangan. Tinggal bagaimana mereka bisa saling berpegang kepada prinsip mereka
mengapa dulu mereka mau bersama. Hari Senin kemarin aku baru saja menonton film
“Cinta dalam Kardus” meskipun disisipi komedi menurutku satu film itu sanat cocok
untuk pasangan yang sedang dilanda kebosanan. Tanpa didasari selesai menonton
film, aku banyak berfikir. Banyak makna yang seharusnya bisa dijadikan bahan
refleksi untuk aku yaaa walaupun aku masih berstatus tunggal putri(baca:
jomblo). Ketika seseorang sudah mulai bosan dengan pasangannya,dia akan
menemukan oranglain dan akhirnya pergi. Wow! Segampang itukah sebuah hubungan
bisa berakhir. Alasan yang terdengar klise tapi masih saja begitu perih
didengar. Apakah cinta itu bisa bosan?tentu saja bisa.
Saking kurang referensi untuk menjawab pertanyanku, munculah
sebuah tanya baru. Pertanyaan yang kali
ini meragukan keagungan cinta.
“Apa iya mama itu jodohnya papa?”
Pertanyaan macam apa lagi
ini?jujur saja pertanyaan itu benar-benar pernah hadir dalam otakku yang
mungkin tidak semua orang penasaran dengan itu. Waktu itu usia perkawinan mama
dan papa menginjak angka 18 tahun. Tidak
jarang mereka bertengkar, tidak bicara beberapa waktu, dan akhirnya akur.
Tidakkah mereka bosan dengan hubungan yang penuh dengan masalah?aku mulai
sangsi dengan kalimat mama itu jodoh papa. Semakin menguatkan argumenku tentang
kebosanan dalam berumahtangga adalah hal yang sah.
3 tahun setelah itu, apa yang
kuragukan dijelaskan oleh Allah. Aku percaya dan sangat yakin mama adalah jodohnya
papa. Setauku jodoh adalah orang yang bersama saling mencinta berbagi suka dan
duka mengerti satu sama lain menutupi kekurangan saling menjaga dan berjuang
sampai maut yang memisahkan. Papa pergi dalam tenang. Cinta mereka abadi dan
berjodoh. Mereka saling berjuang untuk menyingkirkan perasaan bosan di dalam
mahligai rumah tangga mereka. Bayangkan saja, 21 tahun hidup bersama bukanlah
waktu yang singkat. Impian untuk bisa menjadi orang pertama yang dilihat ketika
kita membuka mata di pagi hari,menyiapkan sarapan,baju,menemani dikala salah
satunya sakit atau terpuruk,memegang tangannya saat berjuang
melahirkan,mengalah ketika salah satunya ngambek, dan tentunya menghabiskan
waktu mereka lebih lama lagi. Mungkin juga kebosanan mereka hilang karena datangnya
kami,anak-anak mereka.
“Bosan adalah hal yang
wajar tinggal seberapa besar keinginan keduanya untuk terus bertahan dan
memegang kuat prinsip saat mereka pertama bersatu. Layaknya mengemudikan perahu
yang bocor yang dinaiki dua orang, ketika satu orang yang berjuang maka belum
sampai tujuan mereka sudah tenggelam dan karam, tidak jika keduanya sama-sama
berjuang mengayuh dan bersabar akhirnya akan tiba di tujuan.(anggaplah bocornya
perahu adalah kebosanan dalam suatu hubungan)”



