63MILANG
NAMCHE
Hari berpesta
daging sudah berlalu. Namun, kebahagiaan tidak berhenti sampai disini saja
untuk siswa-siswi SMA N 6 Yogyakarta.
Mengapa? Tepat satu hari setelah perayaan kurban, SMA N 6 Yogyakarta merayakan
hari jadinya yang ke-63. Dengan mengusung tema 63milang Namche, hari Sabtu 27
Oktober 2012 menjadi hari tak terlupakan bagi warga namche.
Pagi yang cerah
menambah semangat suka cita seluruh warga SMA N 6 Yogyakarta. Kesukacitaan
mulai tampak dari awal menjejakkan langkah di depan pintu gerbang SMA N 6
Jogja. Beberapa panitia telah sibuk
menyiapkan puluhan benda berwarna-warni
yang langsung menjadi pusat
perhatian siapapun yang lewat di depannya.
Ya, apalagi kalau bukan balon. Benda satu ini tak pernah terlewatkan di
tiap momen istimewa, termasuk acara ulangtahun kali ini. Tak hanya itu,
lapangan basket pun telah disulap oleh panitia menjadi lebih berwarna dan
meriah. Tak sabar menunggu kemeriahan apa yang akan terjadi.
Pukul 07.30 seluruh warga SMA N 6 Yogyakarta mulai
berkumpul ke lapangan. Sudah menjadi tradisi sebelum karnaval keliling kami
terlebih dahulu melaksanakan upacara. Tentu upacara kali ini juga berbeda
dengan upacara bendera biasanya. Bila biasanya pengibaran bendera dilakukan
oleh tiga siswa saja, tidak kali ini. Pengibaran bendera dilakukan oleh seluruh
OSIS Muda Wijaya Terpilih yang akan mengemban tugas dan jabatan menggantikan
OSIS Muda Wijaya angkatan sebelumnya. Upacara berlangsung khidmat, terlebih
saat pembacaan sejarah singkat SMA N 6 Yogyakarta.
Setelah hampir
setengah jam melaksanakan upacara, tiba saat yang paling ditunggu-tunggu yaitu
pelepasan balon. Jumlah balon pertama yang dilepas ada 27 melambangkan tanggal,
10 balon berikutnya melambangkan bulan dan 12 balon berikutnya menandakan tahun
2012. Dari masing-masing kelas juga turut andil melepas empat balon sebagai
tanda dibukanya acara HUT SMA N 6 Jogja. Riuh tepuk tangan dan sorak-sorai
seluruh siswa menambah kegemilangan The Research School of Jogja.
Karnaval Keliling
sudah menjadi agenda rutin untuk memeriahkan ulangtahun SMA N 6 Yogyakarta
beberapa tahun terakhir ini. Tiap-tiap kelas pun sudah mendapatkan tema untuk
kostum yang akan mereka kenakan. Mulai dari baju daerah, baju tidur, baju
olaraga, vintage, rock n roll , agamis, hantu bahkan yang paling menarik
perhatian adalah sirkus. Masing-masing
kelas sangat antusias mempersiapkan segala aksesoris pelengkap. Kostum-kostum
yang dikenakan sangat variatif dan mengundang rasa decak kagum bahkan tawa.
Dimulai dari
kelas XII IPS 3 , karnaval keliling pun dimulai. Rute yang diambil tidaklah
terlalu jauh, kami melewati daerah Gedung Bimo, daerah Masjid Syuhada,
Kotabaru, kami juga melewati SMA N 3 Yogyakarta yang masih menjadi saingan
dalam merebut prestasi dan akhirnya kembali lagi ke SMA N 6 Yogyakarta
tercinta. Di sepanjang perjalanan , banyak pasang mata memperhatiak kami.
Bagaimana tidak, kostum yang kami kenakan sangat menarik perhatian ditambah
lagi sorak sorai kami bernyanyi. Semangat kekeluargaan pun sangat terasa,
karena pada momen ini kami bisa berjalan beriringan dengan guru-guru, karyawan,
sampai satpam sekolah kami yang kece. Satpam sekolah kami yang satu ini memang
kece luar biasa. Badan yang tegap dan gagah terlihat semakin nyata saat Pak Pe
( panggilan akrab ) menaiki motor harley davidson miliknya. Dibalik
kegarangannya Pak pe adalah satpam yang humoris. Itulah sebabnya semua siswa
sangat akrab dengan beliau.
Akhirnya, setelah
melalui perjalanan yang sebenarnya tidak jau hanya saja karena matahari yang
bersinatr terlalu pijar mebuat kami meraskan lelah tingkat dewa. Padahal masih
banyak acara menarik lainnya yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Untuk
merecharge tenaga, kami istirahat sambil melakukan gerakan narsisme. Lomba yang
pertama adalah Lomba menghias tumpeng. Entah bagaimana kelanjutannya , lomba
menghias tumpeng dilaksanakan di aula. Beralih ke lapangan, disana tampak
siswa-siswa berkumpul menjadi satu untuk mengikuti lomba-lomba. Di mulai dari
lapangan voli, disitulah arena Lomba memasukkan paku ke dalam botol. Di sebelah
timurnya, adalah arena Lomba makan kerupuk, dan selanjutnya adalah arena Lomba
Pecah balon. Lomba memasukkan paku ke dalam botol dilakukan oleh lima orang
yang di pinggangnya telah diikat tali rafia. Filosofi dari lomba ini adalah
bagaimana kita bisa bekerja sama untuk bisa mencapai tujuan. Kita dilatih untuk
tidak egois memikirkan kepentingan diri sendiri. Sama halnya dengan lomba makan
kerupuk, kita dituntut untuk tidak mudah menyerah untuk mendpatkan apa yang
kita impikan. Dari arah lapangan timur terdengar suara heboh pendukung kelasnya
masing-masing. Ternyata selain ada aneka lomba, ada penampilan dari band
akustik yang telah lolos seleksi sebelumnya. masong-masing band menyumbangkan
satu lagu daerah dan dua lagu bebas. Semua pun larut ke dalam alunan tiap
petikan gitar.
Adzan dhuhur pun
berkumandang, sejenak kami menghentikan semua kegiatan dan kegaduhan. Siswa
yang belum melaksanakan sholat pun dipersilahkan untuk melaksankan kewajiban
terlebih dahulu sebelum ikut kembali melanjutkan kemeriahan pesta ulangtahun
SMA N 6 Jogja. Sesi kedua, lomba balap karung, lomba pecah air dan estafet
kelereng. Telah nampak beberapa peserta mulai mencoba berlari menggunakan
karung. Semua siswa disini tulus ingin memeriahkan acara, mereka tidak berfikir
tentang hadiah apa yang akan mereka dapat tetapi bagaimana mereka bisa
mendapatkan momen kebersamaan diiringi tawa dan juga harapan bagi sekolah
tercinta mereka.
Akhirnya semua rangkaian acara pun telah
selesai. Namun, harapan serta semangat untuk menoreh prestasi tidak akan pernah
selesai. Jayalah SMA N 6 Yogyakarta !



