Ngga semuanya harus sekarang
Perjalanan kemarin memberi pembelajaran yang sederhana tapi
sulit buat dijalani. Mungkin ini bukan hal yang spesial atau baru. Ketika perjalanan
kemarin mengarahkan diri sendiri untuk bisa lebih ikhlas.
Butuh waktu lebih dari seminggu pasca pulang, untuk akhirnya
bisa benar-benar berdamai. Benar-benar mau “mengerti”. Manusia kan suka gitu
ya, reaktif. Diuji dikit langsung bereaksi, kok gini sih Tuhan?Kok aku sih
Tuhan?Tuhan pengen aku belajar apa sih kok sakit segininya?”
Ya, ternyata ujungnya ikhlas.
Kamu tuh lucu deh..
Bukannya emang kamu minta untuk diberikan ketenangan?Diberikan kekuatan untuk
menerima segala ketetapanNya?
Cara Tuhan untuk memberikan ketenangan dan kekuatan bisa
lewat banyak hal termasuk ujian.
Untuk menjadi tenang ternyata sepaket sama ujian dan ikhlas.
Nggak semuanya harus sekarang.
Yang kamu kira “harus” sekarang, kalo menurut Tuhan belum. Kamu
bisa apa? Belajar buat menurunkan atau bahkan melepas beberapa ekspektasi yang
terlanjur dibangun? Ngga ada yang suruh kamu berekspektasi. Too Sad to be
true, “Kalo tetep ngeyel berekspektasi ya jangan kaget kalau akhirnya
kecewa.”
Oh, ternyata belum bisa ke Jabal Uhud.
Oh ternyata belum bisa selalu sholat di Masjid.
Oh, ternyata belum bisa ke Hijr Ismail.
Diundang ke Rumah Allah-nya kan bukan cuma kamu sendiri, ada
orang tua, ada kakak, dan ada rombongan lain. Ngga semua tentang “inginmu”, negosiasi
atas ekspektasi yang terlanjur terbangun adalah contoh terkecil dari proses
menuju ikhlas. Asliii sulit.
Kalopun belum sekarang, yauda ga z. Maybe next time.
Insya Allah semoga Allah mampukan.
Jangan sampai akhirnya, kedatangan kita ke Tanah Haram
membuat kita jadi merasa berhak menuntut.
Menuntut dan merasa paling berhak untuk bisa berdoa.
Menuntut untuk dikabulkan segala harap dan hajatmu.