Senin, 21 April 2025

Nggak Semuanya Harus Sekarang

Ngga semuanya harus sekarang

Perjalanan kemarin memberi pembelajaran yang sederhana tapi sulit buat dijalani. Mungkin ini bukan hal yang spesial atau baru. Ketika perjalanan kemarin mengarahkan diri sendiri untuk bisa lebih ikhlas.

Butuh waktu lebih dari seminggu pasca pulang, untuk akhirnya bisa benar-benar berdamai. Benar-benar mau “mengerti”. Manusia kan suka gitu ya, reaktif. Diuji dikit langsung bereaksi, kok gini sih Tuhan?Kok aku sih Tuhan?Tuhan pengen aku belajar apa sih kok sakit segininya?”

Ya, ternyata ujungnya ikhlas.

Kamu tuh lucu deh..
Bukannya emang kamu minta untuk diberikan ketenangan?Diberikan kekuatan untuk menerima segala ketetapanNya?

Cara Tuhan untuk memberikan ketenangan dan kekuatan bisa lewat banyak hal termasuk ujian.

Untuk menjadi tenang ternyata sepaket sama ujian dan ikhlas.

Nggak semuanya harus sekarang.

Yang kamu kira “harus” sekarang, kalo menurut Tuhan belum. Kamu bisa apa? Belajar buat menurunkan atau bahkan melepas beberapa ekspektasi yang terlanjur dibangun? Ngga ada yang suruh kamu berekspektasi. Too Sad to be true, “Kalo tetep ngeyel berekspektasi ya jangan kaget kalau akhirnya kecewa.”

Oh, ternyata belum bisa ke Jabal Uhud.

Oh ternyata belum bisa selalu sholat di Masjid.

Oh, ternyata belum bisa ke Hijr Ismail.

Diundang ke Rumah Allah-nya kan bukan cuma kamu sendiri, ada orang tua, ada kakak, dan ada rombongan lain. Ngga semua tentang “inginmu”, negosiasi atas ekspektasi yang terlanjur terbangun adalah contoh terkecil dari proses menuju ikhlas. Asliii sulit.

Kalopun belum sekarang, yauda ga z. Maybe next time. Insya Allah semoga Allah mampukan.

Jangan sampai akhirnya, kedatangan kita ke Tanah Haram membuat kita jadi merasa berhak menuntut.

Menuntut dan merasa paling berhak untuk bisa berdoa.

Menuntut untuk dikabulkan segala harap dan hajatmu.