Kala senja membias dan tertutup kelam. Imajiku
menyebut dirimu sebagai lintang di tenggara bahari. Perkenankan puan mencoba
menggapai tuan. Walau hanya akan terbawa ke tengah samudera jika puan tak
berhati-hati. Hasrat tak terbendung, saat sepasang netra merayu puan untuk
berjingkat. Menggapai-gapai ke langit nan tinggi di tenggara bahari. Hingga tak
sadar, puan telah jauh dari daratan. Puan bermain-main dengan celaka,
berkelakar dengan maut. Duhai, lintang di tenggara bahari. Sinar yang
mengiringi indah sepasang netramu, membuat puan lena. Antara khayal dan nyata,
puan lupa bahwa tuan ada di langit dan puan masih memijak lantai bumi. Bahwa,
kita hanya akan menjadi kata. Berbeda ruang dan kisah.
Rabu, 15 Maret 2017
Jumat, 10 Maret 2017
Bisaku karena Biasaku
Bukankah ini hanya soal kebiasaan?
Tak usah risaukan ini
Hal semacam ini telah fasih kuperankan
Bukan tanpa mendung
Bukan tanpa rintik
Bukan tanpa rindu
Kealpaanmu harus kuselami sebagai hal baru
Hal baru yang mungkin merusak biasaku
Biasa denganmu
Biasa bertukar angan denganmu
Biasa mengekalkan tawa denganmu
Biasa menjarah waktu hanya denganmu
Ya, denganmu yang telah menjadi sebuah biasa ku
Aku tau ini tak akan mudah seperti biasanya
Ketika lenyapmu berarti menggubah kebiasaan baru
Mengizinkanmu undur diri dari kebiasaanku
Jabat jemariku dan kan ku akhiri kita sebagai sebuah awal
dari biasaku
Aku yakini, awal kan selalu sulit
Mereka menyebutnya sebagai siklus keniscayaan
-Yogyakarta,11 Maret 2017-
Langganan:
Komentar (Atom)