Ketika ikhlas sudah ada di tangan, ia yang akan menjadi obat kecewamu.
Terdengar klise tapi memang
begitulah adanya. Manusia secara alamiah diberikan rasa tidak pernah puas. Tak banyak
yang pandai bersyukur. Kalaupun bersyukur, adakalanya ia lupa dan kembali
menghujani Tuhan dengan pertanyaan mengapa harus terjadi kepadaku, Tuhan?
Kenapa bukan orang lain.
Tuhan lebih tahu siapa yang pantas, bukan kita manusia yang bersyukur
saja masih sering lena.
Tulisan saya kali ini hendak
memadukan dengan obrolan-obrolan khas anak muda yang tengah sibuk mencari
cinta. Cerita ini bisa saja berdasar pengalaman pribadi tetapi sangat bisa
didramatisir untuk keperluan estetis.
Menurutmu, penting nggak sih status pacaran itu?
Satu pertanyaan yang masih saya
ingat dilontarkan dari seorang kawan lelaki yang tengah kebingungan di tengah
perjalanan selepas kuliah.
Perlu beberapa detik untuk
mencerna baik-baik pertanyaan dari kawan saya itu.
Pada dasarnya, perempuan (uuppsss maafkan saya yang kadung
mengeneralisir) menginginkan sebuah kejelasan. Termasuk, status pacaran.
Agaknya jawaban saya tadi membuat
kawan saya ini semakin bingung. Tentu saja tak membuatnya bersenang hati.
Di lain cerita, ada sepasang anak
muda yang tengah dekat. Entahlah apa arti hubungan mereka. Mereka berdua kerap
kali menghabiskan waktu bersama. Dulu, mereka tak pernah sedekat ini. Kedekatan
mereka terjadi begitu saja, alami seperti semesta yang menyatukan mereka. Tak ada
yang pernah membayangkan mereka menjadi sepasang kekasih. Tak cukup
menarik sepertinya.
Saya tentu sangat heran sekaligus bersyukur atas kedekatan
kami. Tapi, entahlah semakin hari kami terus saja bertemu, berinteraksi, dan
bergurau. Dulu, kedekatan kami hanya sebatas teman biasa yang berinteraksi
seperlunya saja. Tak pernah kami secara sengaja merencanakan untuk pergi
berdua. Kami hanya teman yang masuk dalam kategori teman sangat biasa. Kemanapun
ada kesempatan kami pergi, kami tak pernah berdua selalu beramai-ramai.
Kini, kami semakin dekat. Bercerita
tentang apa saja, termasuk mimpi-mimpinya. Usia kami tak lagi muda,
membicarakan masa depan menjadi cerita paling mengasyikkan. Saya pun kerap
menceritakan apa saja kepadanya. Entahlah rasanya nyaman. Awalnya, saya
pikir hubungan kami ini mengarah ke sebuah percintaan yang rumit. Kala itu, saya juga
tengah dekat dengan seorang lelaki. Saya pun tak ketinggalan bercerita tentang
kedekatan saya dengan lelaki itu. Tak tertebak, ia tetap menjadi pendengar yang
baik bagi saya. Matanya tetap menyala tanda ingin mendengar lebih. Saya semakin
tak tahu hubungan kami ini apa. Ketika saya tak lagi bisa menyangkal ada rasa
kecewa melihat matanya tetap menyala mendengar kisah asmara saya dengan lelaki
lain. Saya kira, saya akan menemukan mata yang cemburu. Walau sekali lagi saya
katakan, kami tak tahu apa nama untuk hubungan kami ini.
Kami pergi menonton sendratari di
salah satu candi ternama. Kami menjadi saksi ratusan lampion yang diterbangkan
ke langit malam. Kami menjelajahi kuliner yang tak banyak orang tahu. Kami menghabiskan
malam dengan berkeliling ke festival Tionghoa saat rintik hujan mulai menjamah
kota yang katanya romantis ini. Kami ke sebuah acara charity dengan bintang tamu favorit kami berdua. Entah sudah berapa
kali kami menghabiskan kata-kata dan waktu bersama.
Cerita mereka membuat saya
berpikir untuk kembali merenungkan pertanyaan seberapa penting status pacaran
itu. Sebuah hubungan yang dibangun tanpa paksaan dan mengalir begitu saja. Tanpa
pernah ada tuntutan satu sama lain. Tak ada kata cinta, tak ada kata romantis,
tak ada pengakuan. Berjalan begitu saja, indah tanpa banyak fafifu. Mereka
hanya tahu, mereka saling bicara dan merasa nyaman. Apakah penting status
pacaran bila dibandingkan dengan apa yang telah mereka dapatkan. Tuhan
memberikan kesempatan untuk mereka mendapatkan kasih dan kenyamanan yang
menjadi dambaan tiap pasang kekasih. Tuhan pula yang memberikan kebebasan untuk
mereka tanpa perlu terikat.
Lagi-lagi manusia kerap kali merasa tidak puas. Kasih
dan kenyamanan tidaklah cukup bagi mereka. Salah satu dari mereka atau bahkan
keduanya menginginkan lebih. Barangkali status. Hubungan tanpa nama yang
dibangun atas dasar kenyamanan dan kebiasaan barangkali menurut mereka perlu
diberi nama.
Coba saja syukuri apa yang telah
Tuhan berikan. Mungkin saja hubungan seperti itulah yang terbaik saat ini. Tuhan
mungkin sedang menjauhkan kita dari apa itu sakit hati, dusta, cemburu,
harapan, dan juga pengkhianatan. Jangan kita pertanyakan mengapa hubungan
mereka tak punya nama. Mengapa harus dipertanyakan ketika tanpa namapun tetap
membawa bahagia. Ikhlaskan saja hubungan ini tanpa nama, kawan. Ia akan menjadi obat dari rasa kecewamu.