Jumat, 23 Desember 2016

[SUARA PEREMPUAN 21 TAHUN YANG BELUM MENIKAH]

Saya perempuan. Saya muslim. Saya tidak punya kepentingan politik terhadap fraksi parpol tertentu.

Belakangan, isu keberagaman dan toleransi menjadi sangat seksi sekaligus sensitif digunjingkan. Ya, kata salah seorang teman saya hidup itu adalah soal dua pilihan, digunjingkan atau menggunjing. Sama halnya dengan Para Pujangga yang tak henti menyuarakan bahwa setiap cinta diciptakan berpasang-pasangan. Sewaktu saya SMA pun, telinga saya ini sudah sering mendengar kata keberagaman dalam mata pelajaran PKn ataupun Sosiologi. Lagi-lagi, semua hal diciptakan berpasangan. Keberagaman pun dituntut untuk memilih pasangannya, ia pun memilih toleransi sebagai pasangannya. Semenjak, sepasang kekasih ini sedang asyik diperbincangkan dan justru beranakkan perseteruan saya menjadi takut.

Setiap orang membela haknya, menuntut haknya untuk dipenuhi, berlomba-lomba merasa paling benar merasa paling menderita karena haknya belum terpenuhi dan mengaku haknya diserobot orang lain. Mereka lupa, mereka lupa keberagaman telah memilih toleransi sebagai penyeimbangnya.

Ada yang mencoba menjadi orang ketiga dalam hubungan keberagaman dan toleransi yang sebelumnya harmonis. Ia adalah kebencian. Kebencian menjelma bak bara api yang siap membumi hanguskan keharmonisan mereka.

Di awal saya mengatakan melihat dunia saat ini membuat saya takut, keberagaman dan juga toleransi yang kalau kata anak muda jaman sekarang disebut sebagai relationship goals atau panutan justru tengah mengalami krisis kepercayaan. Mereka tengah cekcok, hubungan yang terjalin harmonis mulai kisruh karena datangnya kebencian dalam mahligai mereka.

Seolah-olah tak pernah ada kecocokan antara keberagaman dengan toleransi. Seolah-olah mereka ini tidak pernah mampu disatukan. Seolah-olah menyatukan mereka adalah suatu ketidakmungkinan.

Banyak yang tak suka hubungan mereka. Mungkin iri atau aah saya pun tak tahu lagi kata apa yang cocok selain iri. Mereka tak suka warna yang dimiliki keberagaman, mereka kesal dengan indahnya toleransi. Ada yang bahagia melihat mereka berpisah. Ada yang tersenyum puas atas usaha yang telah ia lakukan, menyelipkan kebencian di antara keberagaman dan toleransi.

Saya ini hanya perempuan 21 tahun yang belum menikah, mana saya paham tentang bab-bab masalah rumah tangga seperti ini. Mana saya tahu, kepentingan siapa yang diuntungkan dari memisahkan dua sejoli yang bernama keberagaman dan toleransi. Saya hanya bingung, saking bingungnya dengan ketidak tahuan ini saya menjadi kesal.

Ada apa dengan masyarakat kita saat ini, saya tidak mau kami ini lah yang menjadi otak dari hancurnya mahligai keberagaman dan toleransi. Mengelu-elukan diri sebagai yang paling benar seolah tak turut andil dalam chaosnya dunia kita saat ini. Mengatasnamakan agama sebagai tameng. Agama mana pun tak pernah menghendaki perceraian dan tak pernah mengajarkan kebencian.

Saya yang masih atau telah berusia 21 tahun tentu pernah memimpikan sebuah rumah tangga. Wajar nampaknya, rumah tangga menjadi salah satu yang sedang kami gambarkan dalam kanvas imajinasi. Menikah, membangun rumah tangga, memperkokoh komitmen, dan juga punya anak. Bisa kalian bayangkan, betapa kondisi hilangnya toleransi dan juga keberagaman saat ini membuat saya pribadi menjadi lebih takut. Bagaimana mengajarkan nilai nilai keberagaman dan toleransi yang saat ini saja mulai tidak akur.

Kegelisahan seseorang yang nantinya menjadi seorang istri dan juga ibu. Seorang ibu yang banyak digadang-gadang sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tanggung jawab yang luar biasa untuk merayu agar anak anak kami kelak percaya keberagaman dan toleransi adalah hal yang masih ada. Saya tak akan mengajarkan, bahwa berbeda adalah hal yang tabu. Saya sedih, membaca cerita salah seorang anak kelas dua SD, yang dijauhi dan disebut kafir oleh teman sekelasnya karena ia bukan muslim. Saya berjanji tidak akan membiarkan kalimat menyakitkan itu terlontar dari mulut anak saya kelak.  Saya dan calon anak saya bukan Tuhan yang berhak menghakimi orang lain sebagai kafir. Lagi-lagi tulisan ini dibuat oleh perempuan 21 tahun yang sangat bisa salah karena kurangnya pemahaman. Tulisan ini murni dari pikiran dan kegelisahan saya yang mungkin dirasakan oleh kalian yang membaca atau justru menjadi tulisan sampah menurut anda.  Saya berdoa agar keberagaman dan toleransi masih bisa bertahan dan berjuang dari goncangan ini. Setiap orang memiliki logikanya masing-masing.

“Memisahkan Keberagaman dan Toleransi atas dasar agama, adalah hal paling salah yang tidak mampu diterima oleh logika berpikir saya.”