Harum mawar membunuh bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu…
Berikan tanganmu jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu, balas semua bisikanku
Memanggil namamu..
Payung
Teduh-Rahasia
Rahasia
yang saya miliki adalah milikmu beserta
segenggam kepercayaan di dalamnya. Ia adalah dualitas, tumbuh rekat tidak
terpisah. Tulisan saya malam ini hendak menuangkan kegelisahan yang baru saja
mengganggu pikiran selama satu malam ini. Sebuah cerita yang bisa jadi fiktif
tapi dengan sedikit sentuhan kenyataan. Bertemakan rahasia dan kejujuran. Saya dibuat
bingung setelah kemarin malam berhaha-hihi dengan beberapa kawan seperjuangan. Permainan
Truth or Dare masih menjadi primadona
yang tentu dipilih dengan beragam motif di dalamnya. Entah motif membuka aib,
mengorek luka, bermain-main dengan kenangan, atau bahkan ada yang hendak
mencari kepastian.
Permainan ini
memang mengasyikkan dan menghidupkan suasana yang semula diam dan dingin. Sebanding
pula dengan resiko yang ada di balik keseruan permainan ini. Dilematis ketika
harus memutuskan memilih menguak kejujuran atau berani malu menghadapi
tantangan yang tidak bisa diremehkan pula. Jangan dipikir memilih Dare adalah jawaban yang bisa
mengalihkan kejujuran, saya pernah memilih Dare
ketimbang Truth dan hasilnya saya
harus membuat puisi disertai nama orang yang saya suka. Ya, pertanyaan Truth tidak pernah jauh-jauh dari “Pernah
suka siapa? Cowok atau cewek yang paling mendekati ideal menurutmu? Kalau
disuruh milih pacaran sama siapa?”. Truth
means confession and dare means confession with extraordinary way. Ujung-ujungnya
sama.
Sebenarnya, saya
bingung ketika “dipaksa” untuk melakukan pengakuan. Isssssh… jangan singgung
gender dulu. Dalam hal ini, saya termasuk perempuan yang masih amat canggung
untuk mengungkapkan rasa terlebih dahulu. Mungkin ini juga bawaan dari sifat
golongan darah dan zodiak saya yang terkenal gengsi sebagai harga mati. Mungkin
ini juga yang hendak saya renungkan. Apakah kesendirian yang selama ini menjadi
pertanyaan saya bahkan menjadi pertanyaan teman-teman dekat saya juga ulah
gengsi? Mungkin bila diibaratkan kromosom gengsi saya melebihi ambang batas
orang pada umumnya? Atau mungkin saya yang memang tidak pandai mengungkapkan
perasaan? Kalau boleh mendeskripsikan diri, mungkin saya lebih senang mendengar
cerita kalian dibanding bercerita tentang perasaan saya. Dan dengan
mungkin-mungkin yang lain..
Kembali lagi ke
awal, rahasia hati dan permainan kepo ini. Adakah kejujuran yang
sebenar-benarnya di dalam permainan ini? Cukup hebatkah permainan ini memutar
balikkan sifat golongan darah dan zodiak saya yang menjunjung tinggi gengsi? Jawaban
jujur tapi tidak aman atau jawaban aman tapi tidak jujur? Saya memilih jawaban
aman tapi tidak seutuhnya dusta. Rasa gengsi saya masih jauuuuuh lebih hebat
untuk sekadar dipatahkan oleh permainan ini.
“Ah, curang..nggak fair itu namanya!”
Biar saya disini
memberi sedikit pembelaan atau mungkin pembenaran bagi diri saya. Ini tidak
sesederhana ulah gengsi. Ini soal prinsip dan lebih banyak mengarah pada
kelemahan saya. Prinsip yang sekaligus menjadi kelemahan saya. Prinsip untuk
tetap diam, pada dasarnya i don’t need to
say, just feel it and you will know. This is my own way to show and describe
love. Saya meledak saat harus mengucap namamu. Saya heran saat menyadari
anda masih saja menjadi pemicu detak jantung ini. Saya takjub saat senyum dan
tawa yang terurai ini masih karenamu. Saya resah saat tak melihatmu hari ini atau
lusa. Saya lemah saat tahu mengakui perasaan saya juga berarti kehilanganmu. Bersanding denganmu lebih mengagumkan daripada
memaksamu untuk tahu perasaan saya. Tanpa pernah saling tahu, kita masih akan tetap baik-baik saja. Biarkan
saja saya melepasmu dengan cara sssstt..rahasia.
Teruntuk Tuan yang namanya lebih baik
disamarkan,
Tuan yang namanya lebih baik disamarkan di
dalam doa agar ia tak menjelma menjadi harap. Disamarkan sebagai proses
melepaskan. Saya tahu, kita tidak pernah memiliki awal tapi sayangnya memiliki
akhir. Jikalau akhirnya tulisan ini terbaca olehmu, ketahuilah pantai pernah
menjadi sangat menjemukan. Disana ada pilu tercipta namun tak membuat saya
membenci pantai. Ada hati yang pernah
sedikit retak saat piihanmu jatuh kepadanya. Melepasmu tak semudah yang saya
rencanakan, Tuhan menguji dengan mempertemukan kita lagi. Ssst…mungkin ini
adalah Rahasia Tuhan.