Minggu, 12 Juni 2016

Sssssttt....rahasia.

Harum mawar membunuh bulan
Rahasia tetap diam tak terucap
Untuk itu semua aku mencarimu…
Berikan tanganmu jabat jemariku
Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu
Berikan suaramu, balas semua bisikanku
Memanggil namamu..
                                                Payung Teduh-Rahasia

Rahasia yang  saya miliki adalah milikmu beserta segenggam kepercayaan di dalamnya. Ia adalah dualitas, tumbuh rekat tidak terpisah. Tulisan saya malam ini hendak menuangkan kegelisahan yang baru saja mengganggu pikiran selama satu malam ini. Sebuah cerita yang bisa jadi fiktif tapi dengan sedikit sentuhan kenyataan. Bertemakan rahasia dan kejujuran. Saya dibuat bingung setelah kemarin malam berhaha-hihi dengan beberapa kawan seperjuangan. Permainan Truth or Dare masih menjadi primadona yang tentu dipilih dengan beragam motif di dalamnya. Entah motif membuka aib, mengorek luka, bermain-main dengan kenangan, atau bahkan ada yang hendak mencari kepastian.

Permainan ini memang mengasyikkan dan menghidupkan suasana yang semula diam dan dingin. Sebanding pula dengan resiko yang ada di balik keseruan permainan ini. Dilematis ketika harus memutuskan memilih menguak kejujuran atau berani malu menghadapi tantangan yang tidak bisa diremehkan pula. Jangan dipikir memilih Dare adalah jawaban yang bisa mengalihkan kejujuran, saya pernah memilih Dare ketimbang Truth dan hasilnya saya harus membuat puisi disertai nama orang yang saya suka. Ya, pertanyaan Truth tidak pernah jauh-jauh dari “Pernah suka siapa? Cowok atau cewek yang paling mendekati ideal menurutmu? Kalau disuruh milih pacaran sama siapa?”. Truth means confession and dare means confession with extraordinary way. Ujung-ujungnya sama.

Sebenarnya, saya bingung ketika “dipaksa” untuk melakukan pengakuan. Isssssh… jangan singgung gender dulu. Dalam hal ini, saya termasuk perempuan yang masih amat canggung untuk mengungkapkan rasa terlebih dahulu. Mungkin ini juga bawaan dari sifat golongan darah dan zodiak saya yang terkenal gengsi sebagai harga mati. Mungkin ini juga yang hendak saya renungkan. Apakah kesendirian yang selama ini menjadi pertanyaan saya bahkan menjadi pertanyaan teman-teman dekat saya juga ulah gengsi? Mungkin bila diibaratkan kromosom gengsi saya melebihi ambang batas orang pada umumnya? Atau mungkin saya yang memang tidak pandai mengungkapkan perasaan? Kalau boleh mendeskripsikan diri, mungkin saya lebih senang mendengar cerita kalian dibanding bercerita tentang perasaan saya. Dan dengan mungkin-mungkin yang lain..

Kembali lagi ke awal, rahasia hati dan permainan kepo ini. Adakah kejujuran yang sebenar-benarnya di dalam permainan ini? Cukup hebatkah permainan ini memutar balikkan sifat golongan darah dan zodiak saya yang menjunjung tinggi gengsi? Jawaban jujur tapi tidak aman atau jawaban aman tapi tidak jujur? Saya memilih jawaban aman tapi tidak seutuhnya dusta. Rasa gengsi saya masih jauuuuuh lebih hebat untuk sekadar dipatahkan oleh permainan ini.

“Ah, curang..nggak fair itu namanya!”

Biar saya disini memberi sedikit pembelaan atau mungkin pembenaran bagi diri saya. Ini tidak sesederhana ulah gengsi. Ini soal prinsip dan lebih banyak mengarah pada kelemahan saya. Prinsip yang sekaligus menjadi kelemahan saya. Prinsip untuk tetap diam, pada dasarnya i don’t need to say, just feel it and you will know. This is my own way to show and describe love. Saya meledak saat harus mengucap namamu. Saya heran saat menyadari anda masih saja menjadi pemicu detak jantung ini. Saya takjub saat senyum dan tawa yang terurai ini masih karenamu. Saya resah saat tak melihatmu hari ini atau lusa. Saya lemah saat tahu mengakui perasaan saya juga berarti kehilanganmu.  Bersanding denganmu lebih mengagumkan daripada memaksamu untuk tahu perasaan saya. Tanpa pernah saling  tahu, kita masih akan tetap baik-baik saja. Biarkan saja saya melepasmu dengan cara sssstt..rahasia.

Teruntuk Tuan yang namanya lebih baik disamarkan,
Tuan yang namanya lebih baik disamarkan di dalam doa agar ia tak menjelma menjadi harap. Disamarkan sebagai proses melepaskan. Saya tahu, kita tidak pernah memiliki awal tapi sayangnya memiliki akhir. Jikalau akhirnya tulisan ini terbaca olehmu, ketahuilah pantai pernah menjadi sangat menjemukan. Disana ada pilu tercipta namun tak membuat saya membenci pantai.  Ada hati yang pernah sedikit retak saat piihanmu jatuh kepadanya. Melepasmu tak semudah yang saya rencanakan, Tuhan menguji dengan mempertemukan kita lagi. Ssst…mungkin ini adalah Rahasia Tuhan.