Sampai suatu ketika, tugas menjadi humas membuat saya tergerak untuk sedikit berbagi kisah tentang pengalaman saat lulus dan lolos. Seperti setaun lalu, saya juga pernah menuliskan luapan emosi saya dengan judul Lulus dan Lolos. Agaknya kali ini saya harus membuka serpihan-serpihan masa lalu untuk kembali merangkainya menjadi sebuah tulisan entah akan dianggap sebagai tulisan kritik,saran,motivasi,curhatan atau apalah.
Kenapa tugas humas bisa menyentil saya untuk kembali menulis? Sakit rasanya mengetahui ada tiga adik angkatan melepas jurusan saya. Haloooo.. tiga bukanlah angka yang besar,Bung. Iya, tapi mereka dari jalur SNMPTN/Undangan belum ditambah kemungkinan mereka-mereka yang goyah dari SBMPTN dan UM. Saya adalah mahasiswa angkatan 2013, angkatan saya pun sudah kehilangan banyak personil yang akhirnya memutuskan untuk pergi. Satu kata, Pedih.
Mengingat tentang Lulus dan Lolos saya kembali bernostalgia dengan satu percakapan yang membekas sampai sekarang dengan seorang teman di waktu mendekati pendaftaran SBMPTN.
Di suatu ruang kelas,
AN :'' Sha, kamu beneran mau ngambil jurusan itu? Ora nyoba SBMPTN po? Mending kowe nyoba meneh deh. Eman kowe kan pinter mosok mlebu Jurusan kuwi. Iso wes iso...komunikasi we mesti ketompo ( Kamu nggak nyoba SBMPTN?Mending kamu nyoba lagi deh. Sayang tau, kamu kan pinter masa cuma masuk jurusan itu. Pasti bisa...komunikasi pasti keterima.)''
Waktu itu saya masih dalam situasi yang bisa dibilang cukup labil dan sangat mungkin untuk diprovokasi.
Saya sangat bingung harus menjawab apa pertanyaan tadi. Bukan mau sombong nih ya, eh ya dibilang sombong ya terserah deh..sekali-kali sombong hehe. Saya sewaktu SMA termasuk siswa yang yaaah pintar dan sering didaulat ikut olimpiade ekonomi dan akuntansi oleh Guru saya. Hampir semua guru IPS tau saya *uhuuuk*. Guru ekonomi saya pun seperti kurang bangga saya dan dua orang teman seperjuangan gagal masuk jurusan yang searah dengan mata pelajaran yang diampu beliau. Wajar saja teman saya memprovokasi untuk mencoba peruntungan di SBMPTN. Sampai akhirnya saya menjawab,
Saya : ‘'Iya sih emang mungkin banyak yang menyayangkan aku nggak nyoba lagi, tapi Gimana ya, bukannya nggak mau nyoba atau terlalu pasrah. Ini soal banyak orang yang nangis-nangis pengen kayak aku keterima di jurusan ini. Masa ya aku tega, mereka aja sampe kayak gitu masa aku dengan gampangnya buang kesempatan yang bisa jadi hak orang.''
AN : ‘'Iya bener juga sih, semangaat ya Osh..''
Terdengar sederhana mungkin,tapi ini tidak sesederhana kedengarannya. Mungkin masa-masa menentukan prodi kuliah adalah sebuah problema yang saya yakin hampir semua calon mahasiswa merasakannya. Dilematis..satu kata yang cukup merepresentasikan. Kita tentu mau mendapatkan yang terbaik bagi diri kita tapi jangan lantas menghancurkan atau melenyapkan hak orang lain. Ingat ada hak orang lain di kursi yang kamu raih sekarang. Mereka juga berhak mendapatkan, hanya saja mereka tidak memiliki kesempatan seperti kita. Sama halnya dengan kemiskinan, kita semua berhak atas sumberdaya yang ada, hanya saja ada sebagian yang tidak memiliki kesempatan dan kekuasaan untuk mendapatkannya.
Kenapa sih kesannya saya terlalu kontra sama yang melepas "kursi" ?
Ya, dari awal saya sudah bilang terserah kalau tulisan saya ini dianggap kritik atau apa. Saya hanya mencoba meluapkan perasaan. Saya begini bukan karena apa-apa, bukan karena tidak tahu rasanya. Saya paham betul bagaimana sakitnya mengetahui ada orang yang dengan sengaja membuang "kursi" jurusan impian saya hanya demi alasan kurang bermutu. Betapa besar keinginan untuk mendapatkan "kursi" itu tapi dibuang begitu saja. Betapa banyak hati yang seketika retak bahkan hanya menyisakan serpihan.Kalau meminjam dari istilah jaman sekarang "Sakitnya tuh disiiniiiiii....".
Mengutip dari puisi di film Ada Apa dengan Cinta :P
Buanglah saja "kursimu" biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
iya, "kursi" yang kamu buang terus patah... Iya hatinya orang-orang yang pengen "kursi" itu patah.

Motto hidup yang terus saya pegang adalah I believe that God never be wrong. Yakin aja, Tuhan nggak pernah salah. Apa yang telah dititahkan-Nya adalah yang terbaik. Sehingga apa yang telah dipercayakan-Nya pada saya adalah yang terbaik. Salah satunya ya dengan memberikan kesempatan saya untuk bisa mengenyam bangku kuliah di Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan/ Sosiatri UGM. Banyak mungkin yang asing dengan jurusan saya ini, tak sedikit pula yang mengira jurusan ini bagian dari fakultas psikologi, fakultas ilmu budaya atau bahkan saudara kami sendiri yaitu Sosiologi. Lelucon yang menggelitik. :D
Well, semua sih kembali lagi ke individu masing-masing.Saya disini hanya berbagi bagaimana pilihan prodi sempat membuat saya hampir membuang secuil hak orang lain. Coba deh ditimbang-timbang lagi buat adik-adik saya tercinta yang sedang mengalami situasi dilematis ini. Jangan karena kepentok gengsi ataupun kebesaran ego. Hidup dan berjuang nggak sebercanda itu untuk dipermainkan. Tapi kalo emang, tetap mau berpindah ya saya doakan semoga teman-teman menjadi pribadi yang pandai mensyukuri nikmat Tuhan bukan yang terus menagih nikmat Tuhan dan tidak menyadari apa yang telah diberikan Tuhan selama ini. #edisireligius
Toh, akhirnya benar Tuhan nggak pernah salah. Saya bertemu dengan teman-teman,sahabat-sahabat,